DPR sebut BRIN Harus Jadi Motor Utama Pendorong Inovasi Teknologi Pertahanan
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) punya peran penting dalam memperkuat kedaulatan nasional.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Akbarshah Fikarno Laksono, mengatakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) punya peran penting dalam memperkuat kedaulatan nasional melalui pengembangan riset dan inovasi di sektor pertahanan.
Hal ini ia sampaikan dalam forum diskusi yang membahas peran strategis BRIN dalam mendorong ekosistem teknologi pertahanan yang maju dan berdaya saing global.
"BRIN harus jadi motor utama dalam mendorong penguatan industri pertahanan kita, khususnya melalui pengembangan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan dan material siluman," kata Dave di KST BRIN, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (21/4).
Presentasi Dave dalam forum tersebut menekankan tiga mandat utama kepada BRIN, yakni pengawasan riset nasional, koordinasi lintas sektor, dan dukungan terhadap teknologi mutakhir. Serta mengembangkan sistem pertahanan berbasis AI.
Di hadapan berbagai perwakilan negara-negara, Ia menyoroti keberhasilan lembaga-lembaga riset dunia seperti Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia (RAS) yang unggul dalam teknologi kedirgantaraan dan komputasi kuantum, serta Dewan Riset India (CSIR) yang memimpin inovasi di bidang bioteknologi dan nanoteknologi.
Kemudian, China melalui NSFC fokus pada teknologi hipersonik, sementara NSF dari AS dikenal dalam riset sistem otonom dan keamanan siber.
"Oleh sebab itu, Indonesia tidak boleh tertinggal dalam perlombaan teknologi pertahanan. Kita harus belajar dari negara-negara maju, dan BRIN punya potensi untuk menjadi pilar utama di sektor ini," ungkap Dave.
Komisi I, lanjut Dave, siap mendorong legislasi yang mendukung riset pertahanan, serta membuka ruang diplomasi teknologi lintas negara untuk memperkuat kemitraan strategis. Ia juga menekankan pentingnya ekosistem inovasi yang terkoordinasi dengan baik antara pemerintah, industri, dan akademisi.
“Peran BRIN bukan sekadar riset, tapi juga mengonsolidasikan kekuatan teknologi nasional agar bisa menjawab tantangan global, termasuk dalam konteks keamanan dan kemandirian pertahanan,” pungkasnya.