Buruh Pabrik Protes Ogah Absen Pakai Face Recognition Macam Karyawan Google
Mereka para buruh sudah melek keamanan siber sehingga menolak absen memakai face recognition seperti yang sudah dilakukan karyawan Google.
Sebuah perusahaan pakaian di kawasan Garment District, New York, membatalkan rencana penggunaan teknologi pengenalan wajah (facial recognition) untuk akses masuk gedung setelah mendapat protes dari karyawan.
Langkah tersebut dinilai menginvasi privasi dan memicu kekhawatiran soal keamanan data biometrik.
Rencana ini awalnya disampaikan lewat email kepada karyawan Isaac Morris Ltd. (IML) pada akhir Juli.
Dalam pesan itu, disebutkan sistem kartu gesek akan diganti dengan pemindaian wajah, dan staf akan diminta menjalani proses “pemindaian” tanpa ada formulir persetujuan, kebijakan baru, atau pengecualian.
Beberapa karyawan yang enggan disebutkan namanya menyebut kebijakan ini “benar-benar pelanggaran privasi” dan menilai tidak ada alasan keamanan yang jelas.
Sebagian juga mengeluhkan bahwa satu-satunya alternatif yang ditawarkan adalah memasukkan kode numerik, yang dianggap lebih merepotkan.
Kamera dan perangkat lunak untuk sistem ini sudah terpasang dan diuji coba di lobi kantor. Namun, IML menyatakan telah membatalkan rencana tersebut “beberapa minggu lalu” sebelum resmi diberlakukan, setelah mendengar keberatan dari banyak karyawan.
Meski dibatalkan, karyawan sempat mempertanyakan berapa lama data biometrik akan disimpan, siapa yang akan memiliki akses, dan langkah pengamanan apa yang mencegah penyalahgunaan.
“Tanpa pengawasan ketat, data wajah bisa disebarkan, digunakan kembali, atau dimanipulasi,” kata salah satu karyawan dikutip dari NYPost, Rabu (13/8).
Pakar Sebut Berisiko dan Berpotensi Ilegal
Albert Fox Cahn, Direktur Eksekutif Surveillance Technology Oversight Project, menilai kebijakan tersebut bukan hanya mengganggu privasi, tapi juga berpotensi melanggar hukum New York yang melarang pengambilan sidik jari paksa terhadap karyawan.
“Pengenalan wajah pada dasarnya menciptakan sidik jari dari wajah Anda,” ujarnya.
Pakar keamanan siber Dave Meister dari Check Point Software Technologies mengingatkan risiko kebocoran data biometrik.
“Pemindaian wajah bersifat permanen. Jika bocor, tidak bisa diubah. Dampaknya bisa meluas jauh melampaui tempat kerja,” tegasnya.
Penggunaan Biomterik di Tempat Kerja Meningkat
Survei ExpressVPN terbaru mencatat 67 persen pemberi kerja di AS kini menggunakan pelacakan biometrik seperti pengenalan wajah dan sidik jari. Beberapa perusahaan besar seperti Google, Intel, dan Amazon sudah menerapkan teknologi ini di berbagai lokasi.
Namun, aktivis privasi menilai teknologi ini sering digunakan tanpa persetujuan jelas dan bisa menjadi alat pengawasan yang invasif.
Di New York, perlindungan privasi pekerja terkait biometrik masih minim, tidak seperti di Illinois yang mewajibkan persetujuan tertulis dan pembatasan penyimpanan data.
Rancangan undang-undang Dewan Kota New York, Intro 217, yang diajukan pada 2024 berupaya melarang sebagian besar pemberi kerja swasta menggunakan pengenalan wajah untuk melacak staf. Meski sudah mendapat dukungan mayoritas, RUU ini belum diajukan ke pemungutan suara.
“Ada perbedaan besar antara menggunakan wajah untuk membuka kunci ponsel dan membiarkan atasan memakainya sebagai alat pelacak,” ujar Cahn.