Astronot Bisa Bertahan di Perjalanan ke Mars, Tapi Ginjal Bakal Rusak Permanen
Paparan radiasi kosmik dan kondisi mikrogravitasi selama berbulan-bulan dapat merusak fungsi ginjal secara permanen
Misi manusia ke Mars semakin mendekati kenyataan, namun studi baru mengungkapkan dampak serius yang harus dihadapi astronaut: kerusakan ginjal permanen akibat perjalanan luar angkasa jangka panjang.
Penelitian internasional yang dipublikasikan minggu ini menunjukkan bahwa paparan radiasi kosmik dan kondisi mikrogravitasi selama berbulan-bulan dapat merusak fungsi ginjal secara permanen, bahkan setelah astronaut kembali ke Bumi.
Studi ini merupakan bagian dari proyek riset bertajuk Missions Kidney Health, yang didukung oleh berbagai badan antariksa termasuk NASA dan ESA.
Peneliti menemukan bahwa perjalanan luar angkasa mengganggu mekanisme filtrasi dan ekskresi ginjal. Dalam eksperimen menggunakan model hewan dan data astronaut yang kembali dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), fungsi utama ginjal seperti menyaring limbah dan mengatur elektrolit mengalami penurunan yang signifikan.
“Kami menemukan perubahan struktural pada ginjal yang tidak sepenuhnya pulih, bahkan setelah masa pemulihan di Bumi,” ujar Prof. Keith Siew dari University College London, penulis utama studi mengutip Earth, Kamis (3/4).
Menurut tim peneliti, gangguan tersebut juga dapat memperbesar risiko batu ginjal, gangguan cairan tubuh, dan penumpukan toksin dalam darah selama misi jangka panjang seperti ke Mars, yang diperkirakan memakan waktu hingga tiga tahun pulang-pergi.
Meskipun astronaut telah menjalani berbagai protokol latihan dan dukungan medis untuk menjaga massa tulang, otot, dan sistem kardiovaskular selama di luar angkasa, perlindungan terhadap kesehatan ginjal belum menjadi fokus utama. Studi ini menegaskan bahwa organ vital tersebut rentan terhadap efek kumulatif dari lingkungan ekstrem luar angkasa.
Para peneliti kini menyerukan perlunya pengembangan obat pelindung ginjal, sistem pemantauan biomarker, dan teknologi pendukung medis sebelum misi ke Mars dilaksanakan.
Studi ini menjadi pengingat bahwa tantangan biologis perjalanan antariksa jangka panjang lebih kompleks dari sekadar keselamatan fisik, dan harus dipertimbangkan secara serius sebelum pengiriman manusia ke planet merah benar-benar dimulai.
Dengan misi Mars yang direncanakan NASA dan mitra internasional dalam satu hingga dua dekade mendatang, kesehatan ginjal kini masuk ke dalam daftar risiko medis prioritas tinggi bagi eksplorasi antariksa masa depan.