'Ical dan Agung bisa dicatat biang kerok sejarah kelam Golkar'
"Rekonsiliasi melalui Munas bersama menjadi satu keniscayaan yang harus dilakukan," ujar Andi Sinulingga.
Politikus muda Partai Golkar Andi Sinulingga mengatakan, Agung Laksono dan Aburizal Bakrie (Ical) bisa dicatat sebagai penyebab sejarah kelam Partai Golkar. Keduanya dinilai tidak ada niat baik untuk menyelesaikan persoalan konflik internal.
"Jika tidak ada niat baik dari Agung dan Ical untuk menyatukan Golkar kembali, maka kedua figur itu akan dicatat sebagai biang kerok dalam sejarah kelam Partai Golkar," kata Andi Sinulingga seperti dikutip dari Antara di Jakarta, Senin (19/1).
Andi mengatakan penyelesaian dualisme kepengurusan DPP Partai Golkar tidak mungkin diselesaikan di ranah pengadilan karena memakan waktu yang cukup lama. Selain itu, secara psikologis akan sangat sulit diterima oleh pihak yang kalah dalam pengadilan.
Jika itu terjadi, kata dia, Golkar akan kehilangan banyak kader yang akan migrasi ke parpol lain ataupun membentuk partai baru. Hal itu tidak baik bagi Golkar ke depan.
"Karena itu rekonsiliasi melalui Munas bersama menjadi satu keniscayaan yang harus dilakukan," ujar dia.
Dia mengusulkan adanya munas bersama dengan dua opsi. Pertama, pucuk pimpinan kedua belah pihak, baik Agung dan Ical, sama-sama legowo untuk madeg pandito (pembina di balik layar). Hal itu demi kepentingan partai yang lebih baik ke depan, sama-sama mempersiapkan Munas dan mendorong regenerasi kepemimpinan Golkar.
"Jika opsi ini dilakukan, maka citra Agung dan Ical akan mulia di mata publik dan keluarga besar Golkar, khusnul khatimah. Siapa pun yang menang dalam Munas ini, maka Agung dan Ical dilibatkan dalam menyusun kepengurusan Golkar ke depan bersama dengan formatur lainnya," jelas dia.
Opsi kedua, Munas bersama hanya dilakukan khusus untuk memilih Ical dan Agung. Jika Agung menang, maka Ical dapat menjadi ketua dewan pertimbangan. Jika Ical yang menang, maka Agung menjadi wakil ketua umum dan bersama-sama menyusun kepengurusan bersama formatur lainnya.
Dalam Munas bersama itu, menurutnya, dapat diputuskan jalan tengah, di mana Golkar tidak ada dalam pemerintahan, juga tidak dalam Koalisi Merah Putih. Golkar fokus bekerja menjalankan fungsi-fungsi kepartaian dengan menjalankan fungsi kontrol di parlemen dan merealisasikan program-program partai yang berpihak kepada rakyat banyak.
Sebelumnya dua kubu di internal Partai Golkar menyatakan sepakat membuka peluang merger atau penggabungan kepengurusan serta kepemimpinan, yang diambil melalui perundingan ketiga di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, pekan lalu. Islah berbentuk penggabungan kepengurusan dan kepemimpinan yang bakal diupayakan itu, akan dibahas secara detail pekan ini, termasuk siapa yang nantinya akan menjadi ketua umum.
Baca juga:
Berkas kurang lengkap, sidang gugatan Agung Laksono vs Ical ditunda
Yusril sebut gugatan kubu Agung Laksono ke Ical bakal rontok
Hari ini, pertarungan Ical dan Agung Laksono berlanjut di pengadilan
Tak kunjung damai, Golkar terancam tak bisa ikut pilkada
Ical anggap pertemuan Agung dengan Jokowi tak ada yang istimewa
Golkar susah bersatu karena Ical dan Agung rebutan jadi ketua umum