Fakta I Gusti Ketut Pudja: Keberagaman Indonesia Bukan Pemicu Konflik, MPR Tegaskan Harmoni Bangsa
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menegaskan Keberagaman Indonesia harus jadi fondasi harmoni, bukan konflik. Siapa tokoh Bali yang berperan penting dalam kemerdekaan?
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nur Wahid (HNW) secara tegas mengingatkan bahwa Keberagaman Indonesia tidak boleh dijadikan sebagai pemicu perdebatan maupun konflik di tengah masyarakat. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang berlangsung di Bali pada Jumat (31/10) lalu.
Menurut HNW, esensi keberagaman atau kebhinnekaan justru harus dimanfaatkan sebagai landasan untuk membangun harmoni, toleransi, serta mencapai solusi bersama. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan kesepahaman dan kesepakatan yang mengukuhkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Bangsa Indonesia, sejak masa lampau, telah terbukti akrab dengan realitas kemajemukan dan keberagaman yang menjadi ciri khasnya. Keakraban ini telah menjadi bagian integral dari sejarah panjang perjalanan bangsa hingga mencapai kemerdekaan.
Keberagaman sebagai Fondasi Kemerdekaan Bangsa
Keakraban bangsa Indonesia dengan keberagaman telah teruji sejak masa persiapan kemerdekaan. Hal ini terlihat jelas dalam komposisi keanggotaan berbagai lembaga penting seperti Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Panitia Sembilan, hingga Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Para pendiri bangsa yang terlibat dalam lembaga-lembaga tersebut berasal dari latar belakang yang sangat beragam. Mereka memiliki pendidikan umum maupun pesantren, baik dari dalam maupun luar negeri, serta mewakili berbagai partai politik dan organisasi masyarakat.
Selain itu, perbedaan suku bangsa, budaya, adat kebiasaan, dan agama juga menjadi bagian dari identitas para tokoh perumus kemerdekaan. Meskipun demikian, keberagaman ini tidak menghalangi mereka untuk menghasilkan solusi konstruktif dan mencapai kesepakatan fundamental mengenai dasar serta ideologi negara.
Kesepakatan tersebut kemudian melahirkan konstitusi negara Indonesia yang menjadi landasan proklamasi kemerdekaan. Ini menunjukkan bahwa Keberagaman Indonesia adalah kekuatan, bukan kelemahan.
Peran Tokoh Bali dalam Perumusan Pancasila
Dalam konteks keberagaman dan persatuan, HNW menyoroti peran penting seorang tokoh dari Provinsi Bali yang sering terlupakan. Tokoh ini turut serta sebagai anggota PPKI dan berperan aktif dalam menyepakati Pancasila pada versi finalnya pada 18 Agustus 1945.
Tidak hanya itu, tokoh tersebut juga terlibat dalam penyusunan Undang-Undang Dasar 1945 dan hadir saat pembacaan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Kontribusinya sangat signifikan dalam meletakkan fondasi negara.
Tokoh yang dimaksud adalah I Gusti Ketut Pudja, putra kelahiran Buleleng, Bali, yang merupakan putra Bali pertama meraih gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum). Dedikasinya terhadap bangsa kemudian diakui dengan penganugerahan gelar pahlawan nasional pada tahun 2011 oleh Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Kisah I Gusti Ketut Pudja menjadi bukti nyata bahwa Keberagaman Indonesia telah melahirkan pahlawan dari berbagai daerah yang berkontribusi besar bagi persatuan.
Menjaga Pilar Kebangsaan Menuju Indonesia Emas 2045
HNW menekankan bahwa partai politik di Bali, termasuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bali, harus mampu melanjutkan peran bersejarah yang diwariskan para pahlawan nasional. Ini berarti tidak boleh ada sekat yang membeda-bedakan keberagaman demi menjaga keutuhan dan keberlanjutan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Upaya ini krusial untuk memastikan Indonesia dapat mencapai kesuksesan menuju visi Indonesia Emas 2045. Peran aktif seluruh elemen bangsa dalam menjaga Empat Pilar MPR RI adalah tantangan sejarah yang harus diemban bersama.
MPR RI sendiri memiliki fungsi strategis dalam mensosialisasikan dasar dan ideologi negara Pancasila, konstitusi UUD 1945, bentuk negara NKRI, serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika. HNW pernah menyampaikan hal ini kepada Pimpinan PBB di Jenewa, Swiss.
Pimpinan PBB menyatakan kekaguman mereka karena hanya Indonesia yang memiliki lembaga negara yang secara aktif menyosialisasikan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara kepada warganya. Ini memastikan rakyat tidak hanya memilih pemimpin, tetapi juga memahami arah dan tujuan negara, sesuai cita-cita Pembukaan UUD 1945.
Sumber: AntaraNews