Bukan Sekadar Razia, Ini Alasan Penting Kemendagri Dorong Citra Humanis Satpol PP dan Satlinmas
Kemendagri meminta Satpol PP dan Satlinmas membangun citra humanis baru, menjauhi stigma negatif razia, dan fokus pada kegiatan pro-rakyat demi kepercayaan publik.
Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Safrizal Zakaria Ali menekankan pentingnya perubahan citra bagi Satpol PP dan Satlinmas. Mereka diminta untuk menampilkan wajah baru yang lebih humanis, edukatif, serta pro-rakyat di tengah masyarakat. Arahan ini disampaikan dalam Rapat Penguatan Kapasitas Satpol PP di Kampus IPDN Jatinangor pada Kamis, 18 September.
Permintaan ini bertujuan untuk menghapus stigma negatif yang selama ini melekat pada Satpol PP, yang seringkali diidentikkan dengan razia dan pembongkaran. Safrizal menegaskan bahwa peran mereka harus diperluas, tidak hanya berfokus pada penertiban. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga hadir secara virtual, memberikan arahan serupa.
Dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan dialogis, diharapkan Satpol PP dapat memperoleh nama baik serta kepercayaan publik. Langkah ini juga didukung oleh kehadiran perwakilan Gubernur Jawa Barat, Bareskrim Polri, dan ratusan Kasatpol PP dari seluruh Indonesia. Ini menjadi momentum penting untuk transformasi citra institusi tersebut.
Membangun Kepercayaan Melalui Aksi Pro-Rakyat
Safrizal Zakaria Ali secara eksplisit menyatakan bahwa Satpol PP harus aktif mencari nama baik di masyarakat. Ia mengusulkan agar 30 hingga 40 persen dari total kegiatan Satpol PP dialokasikan untuk aktivitas yang menolong masyarakat. Ini bisa mencakup kampanye kebersihan lingkungan, kegiatan gotong royong, hingga berbagai aksi sosial.
Pentingnya publikasi kegiatan-kegiatan positif ini juga ditekankan untuk membangun kepercayaan publik. Dengan demikian, masyarakat akan melihat Satpol PP sebagai mitra yang membantu, bukan semata-mata penegak aturan. Ini merupakan langkah strategis dalam mewujudkan citra humanis Satpol PP yang baru.
Mendagri Tito Karnavian juga menggarisbawahi pentingnya pendekatan yang baik dan manusiawi dalam setiap tugas. "Tolong rekan-rekan laksanakan tugas dengan cara-cara yang baik," ujarnya. Penertiban dan pembersihan harus dilakukan tanpa kekerasan, mengedepankan dialog untuk mencari solusi.
Peran Strategis dan Penguatan Kapasitas
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mendorong Satpol PP untuk mencontoh citra positif yang dimiliki oleh Pemadam Kebakaran (Damkar). Menurutnya, kepercayaan publik terhadap Damkar lahir dari kerja nyata, bukan sekadar wacana. "Satpol PP pun harus bisa memperoleh kepercayaan publik dengan perbuatan nyata," tegas Tito.
Selain itu, Mendagri juga meminta IPDN untuk menjadi center of excellence yang memberikan masukan berbasis survei. Survei ini mencakup persepsi publik terhadap pemerintah daerah dan penilaian kinerja Satpol PP. Data ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk perbaikan berkelanjutan.
Safrizal juga menyoroti pentingnya penguatan kapasitas aparatur Satpol PP melalui berbagai program. Salah satunya adalah pemberian beasiswa untuk mengikuti diklat PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil). Peningkatan kapabilitas ini krusial untuk menjalankan tugas dengan profesionalisme tinggi.
Satpol PP juga diinstruksikan untuk terlibat aktif dalam program nasional sesuai arahan Presiden. Ini termasuk penertiban sampah, penataan baliho, dan penyediaan toilet umum. Dengan 122.610 personel Satpol PP dan 1.253.758 anggota Satlinmas, total hampir 1,4 juta personel ini menjadi kekuatan besar untuk mendukung kebijakan pemerintah.
Dengan kelembagaan yang kuat dan jumlah personel yang masif, Satpol PP dan Satlinmas diyakini mampu menjadi garda terdepan. Mereka diharapkan tidak hanya mendukung kebijakan nasional, tetapi juga memperkuat wibawa pemerintah daerah di mata masyarakat. Transformasi menuju citra humanis Satpol PP ini menjadi kunci utama.
Sumber: AntaraNews