Wakil Ketua DPD RI GKR Hemas Ingatkan Potensi Bahaya AI untuk Anak Muda
Kemajuan perkembangan AI saat ini berjalan sangat cepat dan akan terus melahirkan inovasi baru yang jauh lebih canggih dalam beberapa tahun ke depan.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin masif memicu kekhawatiran terkait dampaknya terhadap karakter generasi muda. Teknologi digital ini dinilai berpotensi mengikis nilai-nilai kesopanan dan budaya luhur bangsa jika tidak disikapi dengan bijak oleh anak muda Indonesia.
Menurutnya, kemajuan perkembangan AI saat ini berjalan sangat cepat dan akan terus melahirkan inovasi baru yang jauh lebih canggih dalam beberapa tahun ke depan.
"Kalau AI itu ya makanya itu, anak muda sekarang kan kita lihat bahwa AI itu akan lebih cepat. Ini bukan AI yang awal ini. Masih ke depannya mungkin 2-3 tahun lagi ada sesuatu yang baru yang berkaitan dengan AI, harus diwaspadai," kata Hemas usai acara National Leadership Cam di Vokasi UI, Depok, Jawa Barat, Sabtu (20/6).
Senator asal Yogyakarta ini menekankan pentingnya benteng pertahanan diri yang kuat bagi generasi muda. Tanpa adanya fondasi mental dan karakter yang kokoh, rekayasa teknologi digital dikhawatirkan dapat membawa pengaruh buruk terhadap pola pikir anak muda.
"Ya, kalau kita sendiri enggak kuat, itu sebetulnya dengan rekayasa yang macam-macam itu yang akan mempengaruhi anak-anak muda kita sekarang ini," ujarnya.
Hemas kemudian menyoroti fenomena yang terjadi di ranah digital saat ini, khususnya di media sosial. Ia melihat adanya pergeseran etika kesopanan dan hilangnya rasa hormat di kalangan generasi muda saat berinteraksi di dunia maya.
"Sekarang contoh, kalau sudah ada di apa? di eh apa ya? YouTube ya? Sosmed. Itu anak-anak muda kan sudah tidak terkendali jawaban-jawabannya. Ini yang sebagai saya memprihatinkan, sangat memprihatinkan. Tidak ada lagi rasa hormat," ungkapnya.
Analogi Adobsi Budaya Barat
Lebih lanjut, ia memberikan analogi mengenai pengadopsian budaya barat seperti penggunaan bahasa asing yang kerap kali mengabaikan tata krama lokal. Penggunaan istilah umum sering kali mengaburkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua.
"Sama dengan kalau kita mengatakan kita maju dalam bahasa Inggris. Nah, kalau kita ketemu orang, ya kan? dia selalu mengatakan, "Hello, everybody." Dia tahu bahwa yang dia "Hello, everybody." Halo Bapak, Halo Ibu, Halo Eyang, Halo Nenek, Kakek, itu sudah nggak ada lagi. Everybody. Sangat menyedihkan untuk itu," tegasnya.
Hemas pun turut merespons soal perlu tidaknya pendidikan AI diterapkan di sekolah. "Jangan dulu, kalau itu jangan dulu," pungkasnya.