TKA Adaptif PKBM: Wujudkan Model Ujian Fleksibel dan Kredibel
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan Tes Kemampuan Akademik (TKA) adaptif di PKBM menjadi solusi ujian yang responsif terhadap kebutuhan peserta, sekaligus meningkatkan kredibilitas lulusan pendidikan nonformal.
Penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang mandiri dan kolaboratif di berbagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan wujud model ujian yang adaptif sesuai dengan kebutuhan peserta. Hal ini disampaikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai langkah maju dalam sistem evaluasi pendidikan nonformal di Indonesia. Pendekatan ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menyediakan pendidikan yang inklusif dan relevan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menjelaskan bahwa perbedaan model pelaksanaan antara PKBM mandiri dan kolaboratif menunjukkan kebijakan TKA tidak hanya menekankan standarisasi. Kebijakan ini juga memberikan ruang adaptasi bagi satuan pendidikan nonformal, mengakui karakteristik unik dari setiap PKBM dan warga belajar. Fleksibilitas ini menjadi kunci dalam menjawab tantangan pendidikan nonformal yang beragam.
Pendekatan adaptif ini dinilai efektif dalam menjawab tantangan khas PKBM, seperti heterogenitas usia peserta, kesibukan pekerjaan, serta keterbatasan sarana dan prasarana yang mungkin dimiliki. Dengan demikian, TKA tidak hanya menjadi alat ukur, tetapi juga fasilitator bagi warga belajar untuk menunjukkan kompetensinya tanpa terhambat oleh kondisi eksternal. Ini adalah upaya nyata untuk memastikan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses dan menyelesaikan pendidikan.
Fleksibilitas dan Standar dalam TKA Adaptif PKBM
Pelaksanaan TKA yang semakin tertib dan terstruktur menandai pergeseran penting dalam sistem evaluasi pendidikan nonformal. Jika sebelumnya fleksibilitas menjadi ciri utama, kini keseimbangan antara fleksibilitas dan standar menjadi kunci keberhasilan. Keseimbangan ini memastikan bahwa meskipun adaptif, kualitas pendidikan yang diberikan tetap terjaga dan diakui secara nasional.
Pendekatan ini memperkuat posisi PKBM sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Dengan adanya TKA adaptif, PKBM tidak lagi dipandang sebagai alternatif semata, melainkan sebagai jalur pendidikan yang memiliki standar dan kredibilitas yang setara. Ini membuka peluang lebih luas bagi lulusan PKBM untuk bersaing di dunia kerja maupun melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Tatang Muttaqin juga menegaskan bahwa dengan pelaksanaan yang semakin matang, TKA tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi. Lebih dari itu, TKA juga menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan kredibilitas lulusan pendidikan nonformal. Hal ini penting untuk menghilangkan stigma negatif terhadap pendidikan nonformal dan memastikan bahwa ijazah yang dikeluarkan PKBM memiliki nilai yang diakui secara luas.
Studi Kasus: TKA di PKBM Bina Cipta Ujungberung
Potret TKA mandiri yang sukses terlihat di PKBM Bina Cipta Ujungberung, Bandung, Jawa Barat. Pelaksanaan TKA untuk Paket B (setara SMP) yang berlangsung pada 11–12 April 2026 berjalan lancar dengan tingkat kehadiran mencapai 100 persen. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa dengan perencanaan dan strategi yang tepat, TKA adaptif dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Sebanyak 26 warga belajar mengikuti ujian dalam dua sesi per hari, meliputi numerasi, literasi, serta survei lingkungan belajar. Tingginya partisipasi ini membuktikan bahwa warga belajar memiliki motivasi tinggi untuk menyelesaikan pendidikan mereka. Desain ujian yang mencakup berbagai aspek kemampuan juga memastikan evaluasi yang komprehensif terhadap kompetensi peserta.
Kepala PKBM Bina Cipta Ujungberung, Santi Susilawati, mengungkapkan bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari strategi penguatan komitmen peserta sejak awal. “Dari jauh hari kami sudah membangun komitmen dengan warga belajar agar hadir di setiap sesi,” ujarnya. Penyesuaian jadwal pada akhir pekan menjadi langkah strategis yang tetap selaras dengan ketentuan nasional, namun responsif terhadap kebutuhan warga belajar yang banyak bekerja dan memiliki keterbatasan waktu. Ini adalah contoh nyata bagaimana PKBM dapat berinovasi untuk melayani komunitasnya.
Sumber: AntaraNews