Tahukah Kamu? Sistem Kesehatan Akademik Jadi Kunci Percepatan Dokter Spesialis Kemdiktisaintek
Kemdiktisaintek mempercepat pemenuhan dokter spesialis melalui Sistem Kesehatan Akademik (SKA) untuk pemerataan layanan kesehatan. Bagaimana SKA bekerja?
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) kini bergerak cepat dalam upaya pemenuhan serta distribusi dokter spesialis dan subspesialis di berbagai wilayah Indonesia. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan bahwa layanan kesehatan yang berkualitas dapat diakses secara lebih merata oleh seluruh masyarakat.
Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui implementasi Sistem Kesehatan Akademik (SKA), sebuah metode inovatif yang dirancang untuk mempercepat ketersediaan tenaga medis. SKA menjadi tulang punggung dalam menciptakan ekosistem pendidikan dan layanan kesehatan yang saling mendukung di tingkat daerah.
Salah satu tindak lanjut konkret dari program ini adalah forum kolaborasi yang baru-baru ini diselenggarakan di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, pada tanggal 5 September. Pertemuan ini secara khusus membahas penguatan rencana aksi SKA di wilayah I, khususnya Aceh, sebagai pilot project penting.
Strategi Komprehensif Kemdiktisaintek untuk SKA
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek, Khairul Munadi, menegaskan bahwa ketersediaan dokter spesialis dan subspesialis merupakan prioritas pembangunan nasional yang ditekankan oleh Presiden RI. "Sistem Kesehatan Akademik hadir sebagai model kemitraan strategis untuk memperkuat kemandirian wilayah dalam pemenuhan tenaga medis melalui ekosistem yang saling mendukung," ujar Khairul Munadi di Jakarta, Sabtu.
Program akselerasi ini merupakan kelanjutan dari inisiatif Diktisaintek Berdampak di sektor kesehatan, yang berfokus pada hasil nyata. Kemdiktisaintek telah merancang tiga strategi utama untuk mencapai tujuan tersebut, memastikan pendekatan yang holistik dan terintegrasi:
Dukungan kebijakan komprehensif juga telah disiapkan, termasuk percepatan penyusunan regulasi quick wins terkait persyaratan, prosedur, dan mekanisme pendirian program studi. Ini mencakup skema konsorsium maupun rekognisi pembelajaran lampau bagi staf pendidik dokter spesialis dan subspesialis. Khairul Munadi berharap bahwa upaya ini akan menghasilkan pendidikan medis yang unggul, bermartabat, dan memberikan dampak luas bagi kesehatan masyarakat.
Dukungan Universitas dan Pemerintah Daerah dalam Implementasi SKA
Universitas Syiah Kuala (USK) menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung program Sistem Kesehatan Akademik ini. Dekan FK USK, Safrizal Rahman, menjelaskan bahwa fakultas kedokteran yang berdiri sejak tahun 1982 ini kini memiliki 27 program studi, termasuk 19 program studi pendidikan dokter spesialis dan satu program subspesialis.
Sebagai wujud dukungan nyata terhadap program akselerasi Kemdiktisaintek, FK USK berencana membuka enam program studi tambahan dalam waktu dekat. Program-program tersebut akan memperkaya pilihan pendidikan medis dan mencakup:
Selain itu, USK juga aktif dalam internasionalisasi pendidikan kedokteran, dengan menyelenggarakan pendidikan bagi delapan mahasiswa dari Palestina, termasuk dua dokter spesialis, serta satu mahasiswa dari Korea Selatan. Ini menunjukkan visi global USK dalam mencetak tenaga medis berkualitas internasional.
Dukungan konkret juga datang dari Pemerintah Kota Banda Aceh. Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menyatakan bahwa RSUD Dr. Meuraxa akan memangkas biaya retribusi pendidikan di rumah sakit hingga 70 persen bagi mahasiswa kedokteran umum, dan bahkan nol rupiah untuk program pendidikan dokter spesialis. "RSUD Dr. Meuraxa mendukung penguatan pendidikan tinggi melalui SKA dengan memangkas biaya retribusi pendidikan di rumah sakit hingga 70 persen bagi mahasiswa kedokteran, dan nol rupiah untuk program pendidikan dokter spesialis," tutur Illiza. Kebijakan progresif ini diharapkan dapat menarik lebih banyak calon dokter spesialis untuk menempuh pendidikan di wilayah tersebut.
Sumber: AntaraNews