Ritual Thetek Melek Pacitan: Kearifan Lokal Jaga Harmoni Alam dan Tolak Pagebluk
Masyarakat adat Pacitan kembali menggelar Ritual Thetek Melek Pacitan, sebuah tradisi tahunan yang bertujuan menjaga keseimbangan alam, menolak pagebluk, dan mempererat kebersamaan.
Ritual Thetek Melek Pacitan: Kearifan Lokal Jaga Harmoni Alam dan Tolak Pagebluk
Masyarakat adat di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, kembali menghidupkan tradisi luhur mereka melalui penyelenggaraan Ritual Thetek Melek. Acara tahunan ini merupakan wujud kearifan lokal yang bertujuan menjaga harmoni antara manusia dengan alam agraris di wilayah tersebut. Ritual ini juga menjadi doa dan ikhtiar bersama agar alam senantiasa bersahabat dengan para petani.
Prosesi yang digelar pada Minggu, 21 Desember ini melibatkan partisipasi aktif dari warga, seniman, serta perwakilan pemerintah daerah. Rombongan warga tampak antusias membawa opyak-opyakan hama dan tumpeng, diiringi alunan tetabuhan tradisional, saat mereka berjalan menyusuri pematang sawah. Kehadiran Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, menambah semarak jalannya tradisi ini.
Bupati Indrata Nur Bayuaji, yang akrab disapa Mas Aji, turut memimpin prosesi dengan membawa bongkok, yaitu pelepah kelapa berlubang. Bongkok tersebut kemudian diserahkan kepada kepala desa setempat untuk ditancapkan di tanah, diikuti oleh warga lain yang menancapkan bongkok serupa di sepanjang pematang sawah sebagai simbol harapan dan doa. “Mudah-mudahan semua yang kita lakukan ini memberi manfaat, dan apa yang kita tanam menjadi berkah,” ujar Mas Aji.
Makna dan Prosesi Ritual Thetek Melek
Ritual Thetek Melek Pacitan bukan sekadar seremonial biasa, melainkan sebuah manifestasi spiritual yang mendalam. Tradisi ini dikenal sebagai upaya lokal untuk menolak pagebluk atau wabah penyakit, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem alam. Melalui serangkaian prosesi, masyarakat Pacitan menegaskan kembali hubungan kosmologis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Rangkaian ritual dilanjutkan dengan pertunjukan seni yang mengangkat tema “Kiblat Papat Limo Pancer”, sebuah konsep filosofis Jawa yang merepresentasikan empat arah mata angin dan pusatnya sebagai simbol keseimbangan semesta. Selain itu, ditampilkan pula tari orang-orangan sawah, yang secara simbolis menggambarkan interaksi dan ketergantungan manusia terhadap alam pertanian. Semua elemen ini menegaskan esensi dari Ritual Thetek Melek Pacitan sebagai doa dan ikhtiar bersama.
Bupati Indrata Nur Bayuaji menekankan bahwa tradisi ini adalah ruang perjumpaan antara nilai budaya, spiritualitas, dan praktik pertanian yang telah diwariskan secara turun-temurun di Pacitan. Ritual Thetek Melek Pacitan sempat terhenti saat pandemi COVID-19 melanda, namun kini telah kembali digelar secara rutin sejak tahun 2022, menunjukkan komitmen masyarakat dalam melestarikan warisan leluhur. Keberlanjutan ritual ini menjadi bukti kuat akan pentingnya menjaga tradisi.
Memperkuat Kebersamaan dan Ekonomi Lokal
Selain prosesi utama yang sakral, penyelenggaraan Ritual Thetek Melek Pacitan tahun ini juga diramaikan dengan berbagai kegiatan pendukung. Festival budaya turut memeriahkan suasana, memberikan wadah bagi ekspresi seni dan budaya lokal. Ada pula kegiatan “jagong tani” yang menjadi ajang diskusi dan berbagi pengetahuan antarpetani, serta aksi melukis seribu bongkok yang melibatkan kreativitas warga.
Perayaan Ritual Thetek Melek Pacitan juga memiliki dampak positif terhadap perputaran ekonomi lokal. Kehadiran pasar UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) memberikan kesempatan bagi pelaku usaha setempat untuk mempromosikan dan menjual produk-produk unggulan mereka. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pelestarian budaya.
Kegiatan Thetek Melek ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa, sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah yang telah diberikan. Setelah itu, seluruh warga berkumpul untuk makan bersama, sebuah simbol kebersamaan dan persatuan yang erat di antara masyarakat Pacitan. Momen ini memperkuat ikatan sosial dan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas budaya Indonesia.
Sumber: AntaraNews