Penguatan Ritual Nangluk Merana Dorong Penjagaan Alam Bali yang Harmonis
Pemerhati budaya mendesak penguatan Ritual Nangluk Merana untuk menjaga keseimbangan ekologis dan kelestarian alam Bali, menegaskan pentingnya harmoni antara manusia dan lingkungan.
Berbagai kalangan pemerhati budaya Bali mendorong penguatan kegiatan ritual adat Nangluk Merana. Dorongan ini bertujuan untuk menjaga kesadaran ekologis dan merawat alam Pulau Dewata secara berkelanjutan. Upaya kolektif ini diharapkan dapat mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan antara manusia dengan lingkungannya.
Konsep 'merana' dalam tradisi Bali tidak hanya dimaknai sebagai penyakit atau bencana fisik semata. Lebih dari itu, 'merana' juga diartikan sebagai tanda ketidakseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan niskala. Ritual Nangluk Merana menjadi jembatan spiritual untuk menyelaraskan kembali energi yang ada.
Upacara Bhuta Yadnya yang dilaksanakan di pesisir merupakan bentuk komunikasi spiritual antara manusia dengan alam, khususnya laut. Laut diyakini sebagai sumber amerta atau kesucian dan kehidupan, namun juga bisa menjadi sumber 'merana' jika keharmonisannya terganggu atau dilanggar.
Makna Filosofis Nangluk Merana dan Keseimbangan Alam
Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari dari Griya Wanasari Sanur menjelaskan bahwa konsep 'merana' dalam tradisi Bali dimaknai sebagai tanda ketidakseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan niskala. Pemahaman ini melampaui sekadar penyakit fisik atau bencana alam.
“Nangluk Merana adalah upaya menyelaraskan kembali energi bhuta kala agar tidak menjadi sumber gangguan,” ungkap Ida Pedanda. Ritual Nangluk Merana mengajarkan bahwa alam bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk disadari dan dihormati.
Lebih lanjut, Ida Pedanda menekankan bahwa upacara Bhuta Yadnya di pesisir merupakan bentuk komunikasi spiritual manusia dengan alam, khususnya laut. Laut diyakini sebagai sumber amerta atau kesucian dan kehidupan, namun hal ini juga bisa menjadi sumber 'merana' jika keharmonisannya dilanggar.
Bali Dwipa: Kesatuan Ekosistem Hulu hingga Pesisir
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ari Dwipayana, menegaskan bahwa diskusi mengenai Nangluk Merana ini merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran kolektif. Tujuannya adalah untuk melihat Bali sebagai satu kesatuan ekosistem yang utuh dan tidak terpisahkan.
Masyarakat pesisir, menurutnya, memiliki posisi yang sangat strategis. Posisi ini tidak hanya penting secara geografis, tetapi juga secara spiritual dan budaya. Oleh karena itu, pengelolaan wilayah pesisir harus memperhatikan aspek ritual, ekologis, budaya, dan ekonomi secara terintegrasi.
“Bali adalah Bali Dwipa. Ia tidak bisa dipotong-potong. Hulu, tengah, hingga pesisir dan laut adalah satu kesatuan. Menjaga gunung sama pentingnya dengan menjaga laut,” ujar Gde. Pernyataan ini menegaskan filosofi kesatuan alam Bali.
Solidaritas Adat dan Praktik Nangluk Merana di Pesisir
Jro Bendesa Adat I Wayan Wisma Lebih memaparkan praktik Nangluk Merana yang secara turun-temurun dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat Lebih. Ritual ini, khususnya pada Tilem Kanem, dilakukan di titik-titik strategis pesisir sebagai bentuk penjagaan wilayah secara niskala.
Ia juga menegaskan bahwa Nangluk Merana tidak bisa dilepaskan dari solidaritas sosial masyarakat adat. Seluruh krama atau anggota masyarakat terlibat langsung dalam prosesi dan persiapannya, menunjukkan kuatnya kebersamaan.
“Pesisir adalah benteng pulau Bali. Karena itu, desa adat memiliki tanggung jawab menjaga kesucian dan keseimbangannya melalui ritual, awig-awig, dan keterlibatan krama,” ujarnya. Hal ini mencerminkan peran sentral desa adat dalam pelestarian lingkungan dan budaya.
Relevansi Nangluk Merana di Tengah Krisis Iklim
Dari sisi akademik, Dr. Pande Wayan Renawati dari Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menggarisbawahi relevansi ritual Nangluk Merana dalam konteks kontemporer. Ini sangat penting, khususnya dalam menghadapi krisis iklim dan degradasi ekologi pesisir yang terjadi saat ini.
Pergeseran profesi nelayan dan petani menjadi tantangan tersendiri yang perlu direspons. Hal ini dapat dilakukan dengan menggali potensi ekonomi berbasis budaya pesisir, tanpa merusak ekosistem yang ada.
“Ritual ini adalah pengetahuan ekologis lokal. Di dalamnya ada kesadaran siklus alam, etika lingkungan, dan kontrol diri manusia,” tutur Pande Wayan Renawati. Ia menambahkan bahwa hal ini sangat relevan dengan persoalan abrasi, sampah laut, hingga perubahan mata pencarian masyarakat pesisir.
Sumber: AntaraNews