Pemkab Agam Gelar Pelatihan Vokasional Disabilitas Agam untuk Tingkatkan Kemandirian
Pemerintah Kabupaten Agam mengirimkan tiga penyandang disabilitas untuk mengikuti Pelatihan Vokasional Disabilitas Agam di Bogor, membuka jalan bagi kemandirian dan kesempatan kerja yang lebih luas.
Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menunjukkan komitmennya dalam mendukung kesetaraan dengan menyelenggarakan program pelatihan keahlian khusus bagi penyandang disabilitas. Tiga perwakilan penyandang disabilitas dari berbagai kecamatan di Agam diberangkatkan untuk mengikuti program intensif ini. Mereka akan menjalani pelatihan vokasional di Sentra Terpadu Kementerian Sosial Inten Soeweno, Bogor, Jawa Barat.
Program ini dirancang untuk membekali para peserta dengan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja modern. Pelatihan akan berlangsung selama enam bulan ke depan, dimulai pada tanggal 5 Mei 2026. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian serta membuka peluang kerja yang lebih baik bagi para penyandang disabilitas di Kabupaten Agam.
Kepala Dinas Sosial Agam, Villa Erdi, didampingi Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Agam, Hasneril, menyatakan bahwa program ini bertujuan memastikan penyandang disabilitas memperoleh kesempatan setara dalam pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial tanpa diskriminasi.
Detail Peserta dan Jenis Pelatihan Vokasional Disabilitas Agam
Tiga peserta yang terpilih untuk mengikuti Pelatihan Vokasional Disabilitas Agam ini berasal dari latar belakang disabilitas yang berbeda-beda, menunjukkan keberagaman dukungan yang diberikan. Habbynusa Fernanda Kifli, seorang penyandang tuna daksa dari Kecamatan Palembayan, akan mendalami pelatihan contact center dan pelayanan berbasis digital. Keahlian ini sangat relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri saat ini.
Sementara itu, Muhammad Rauf, penyandang tuna rungu wicara asal Kecamatan Ampek Koto, akan fokus pada pelatihan desain grafis. Keterampilan desain grafis memiliki prospek kerja yang luas di berbagai sektor kreatif dan korporat. Rori Rofia Dinata, penyandang tuna daksa dari Kecamatan Lubuk Basung, akan mengikuti pelatihan komputer yang menjadi dasar penting dalam berbagai profesi modern.
Ketiga peserta akan menjalani program pelatihan berbasis asrama yang intensif selama enam bulan, atau bahkan lebih, disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan masing-masing individu. Kegiatan ini dimulai pada 5 Mei 2026. Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada pengembangan diri secara holistik untuk menunjang kemandirian mereka.
Tujuan dan Manfaat Pelatihan Vokasional Disabilitas Agam
Program Pelatihan Vokasional Disabilitas Agam ini memiliki tujuan mulia untuk memastikan penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang setara dalam pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial tanpa diskriminasi. Kepala Dinas Sosial Agam, Villa Erdi, didampingi Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Agam, Hasneril, menekankan pentingnya program ini dalam meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian para peserta.
Selain membekali keterampilan praktis, pelatihan ini juga membuka lebar peluang kerja bagi para lulusannya. Peserta berkesempatan untuk difasilitasi masuk ke perusahaan BUMN, swasta, maupun mitra Kementerian Sosial. Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dan pusat dalam menciptakan ekosistem yang inklusif bagi penyandang disabilitas.
Seluruh biaya keberangkatan peserta untuk mengikuti pelatihan ini turut dibantu oleh Baznas Kabupaten Agam, meringankan beban finansial peserta dan keluarga. Dukungan dari berbagai pihak ini menjadi bukti nyata kolaborasi dalam mewujudkan kesejahteraan bagi penyandang disabilitas.
Kisah Inspiratif Peserta Pelatihan Vokasional Disabilitas Agam
Para peserta Pelatihan Vokasional Disabilitas Agam membawa kisah perjuangan yang menginspirasi. Habbynusa Fernanda Kifli, misalnya, harus kehilangan pekerjaan setelah mengalami amputasi kaki akibat penyempitan pembuluh darah, yang sempat membuatnya kesulitan menjalankan fungsi sosialnya. Kondisi ini seringkali menjadi penghalang bagi penyandang disabilitas untuk kembali produktif.
Serupa dengan Habbynusa, Rori Rofia Dinata juga mengalami amputasi setelah menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Peristiwa tersebut sempat membuatnya kehilangan kepercayaan diri dan menarik diri dari lingkungan sosial. Namun, berkat pendampingan intensif, Rori berhasil bangkit dan kini siap menatap masa depan melalui pelatihan komputer.
Sementara itu, Muhammad Rauf, yang merupakan penyandang tuna rungu wicara sejak lahir, masih menghadapi tantangan dalam interaksi sosial meskipun telah menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMA di SLB. Pelatihan desain grafis diharapkan dapat memberinya alat untuk berkomunikasi dan berekspresi secara profesional, mengatasi hambatan komunikasi verbal.
Kisah-kisah ini menegaskan bahwa program pelatihan vokasional tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga mengembalikan harapan dan kepercayaan diri bagi para penyandang disabilitas untuk berintegrasi penuh dalam masyarakat dan dunia kerja.
Sumber: AntaraNews