Mentan Amran Kembali Pimpin IKA Unhas
Pimpinan Sidang Pleno, Rahman Pina, mengetuk palu sidang setelah mendapatkan kesepakatan bulat dari seluruh peserta Mubes.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) periode 2026-2030. Terpilihnya Amran, melalui sidang pleno Musyawarah Besar (Mubes) IKA Unhas di Four Point by Sheraton Makassar, Sabtu (2/5) malam.
Pimpinan Sidang Pleno, Rahman Pina, mengetuk palu sidang setelah mendapatkan kesepakatan bulat dari seluruh peserta Mubes.
Dukungan tersebut datang dari seluruh elemen organisasi, mulai dari Pengurus IKA Unhas Wilayah, IKA Pengurus Daerah, IKA Fakultas, IKa Program Pascasarjana, hingga perwakilan IKA Unhas luar negeri.
"Menetapkan Dr. Andi Amran Sulaiman sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat IKA Universitas Hasanuddin periode 2026-2030," ujar Rahman Pina.
Terpilihnya kembali Amran Sulaiman dinilai sebagai bentuk kepercayaan besar alumni terhadap kinerja dan visi yang telah ia bangun pada periode sebelumnya.
Di bawah kepemimpinannya, IKA Unhas dinilai berhasil memperkuat jejaring global dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional, khususnya di sektor pangan dan hilirisasi.
Setelah penetapan tersebut, pimpinan sidang menskors jalannya rapat untuk menjemput langsung Andi Amran Sulaiman guna hadir di hadapan para peserta Mubes sebagai Ketua Umum terpilih.
Dengan terpilihnya kembali Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian itu secara aklamasi, IKA Unhas diharapkan semakin solid dalam mendukung almamater menuju universitas kelas dunia serta terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Kemenangan mutlak ini sekaligus menutup rangkaian agenda utama Mubes IKA Unhas 2026 dengan semangat persatuan yang kuat antar sesama alumni kampus berjuluk Ayam Jantan dari Timur.
Sebelumnya, Amran menegaskan bahwa alumni Unhas kini bukan lagi pemain regional, melainkan kekuatan yang diperhitungkan di kancah global.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini mengungkapkan rasa bangganya terhadap ekspansi IKA Unhas yang kini telah terbentuk di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa dan Jepang. Namun, ia menekankan bahwa eksistensi ini harus dibarengi dengan kontribusi nyata.
"Eksistensi kita bukan sekadar seremonial, melainkan kontribusi nyata bagi kemanusiaan," ujar Amran.
Ia memaparkan rekam jejak alumni yang selalu hadir di garda terdepan bencana, termasuk penyaluran bantuan senilai Rp15 miliar untuk Aceh serta total Rp40 miliar untuk pemulihan Sulawesi Tengah dan NTB.
Tak hanya di bidang sosial, Amran menyebut kepercayaan negara terhadap putra-putri terbaik Unhas sangat besar, dengan banyaknya alumni yang menduduki posisi strategis di kabinet, termasuk Kepala Bapanas dan lainnya.
Sebagai sosok yang diamanahkan mengawal kedaulatan pangan, Amran membagikan kabar baik mengenai stok beras nasional yang mencapai 5 juta ton—angka tertinggi dalam sejarah Republik Indonesia, melampaui rekor tahun 1984.
"Target kita, di tahun 2025 nanti, Indonesia sudah tidak lagi melakukan impor. Kami memegang teguh prinsip 'Sekali layar terkembang, pantang surut biduk ke pantai'," tegasnya.
Selain pangan, ia memaparkan strategi kemandirian energi melalui program B50 (campuran minyak sawit) untuk menghentikan impor solar per 1 Juli, serta pengembangan bensin sawit atau "Benwit" hasil kerja sama dengan pakar perguruan tinggi.
Dorong Unhas Terus Berinovasi
Secara khusus, Amran mendorong Universitas Hasanuddin untuk terus berinovasi dan tidak cepat puas. Ia menantang para akademisi dan mahasiswa untuk bekerja lebih keras dan disiplin.
"Tekanan yang keras akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Tekanan berlian itu 3.500 derajat Celcius. Tidak ada orang sukses tanpa kerja keras," katanya di hadapan Rektor para Dekan dan Ketua IKA Unhas Wilayah juga Fakultas.
Pentingnya Hilirisasi
Menutup sambutannya, Amran menekankan pentingnya hilirisasi sebagai kunci masa depan bangsa. Dengan anggaran ambisius mencapai Rp440 triliun hingga 2029, hilirisasi di sektor mineral dan pertanian diproyeksikan membuka 6 juta lapangan kerja.
Ia mencontohkan potensi kelapa di Sulsel yang jika diolah menjadi VCO, nilai ekspornya bisa melonjak dari Rp24 triliun menjadi Rp2.400 triliun.
"Indonesia adalah negeri yang kaya dan subur. Saya mengajak alumni Unhas dan generasi milenial untuk bergerak bersama mewujudkan potensi besar ini," pungkasnya.