Menko Yusril Kena Roasting Anak Sendiri, 'Pantas Bapak Sepatunya Banyak, Balas Dendam Waktu Kecil'
Hal ini disampaikan olehnya saat memberikan sambutan dalam acara wisuda yang digelar oleh Universitas Esa Unggul.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Indonesia (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra terkena roasting oleh anaknya sendiri.
Hal ini disampaikan olehnya saat memberikan sambutan dalam acara wisuda yang digelar oleh Universitas Esa Unggul.
Saat itu, ia lebih dulu mengaku, diminta untuk memberikan sambutan namun bukan untuk memberikan kuliah umum kepada para wisudawan.
"Tapi yang kami minta, adalah abang menyampaikan satu ceramah ataupun satu sambutan atau pidato bercerita sedikit tentang pengalaman dan kemudian memberikan motivasi kepada para wisudawan," kata Yusril saat meniru permintaan Dekan Universitas Esa Unggul seperti dikutip dalam video dikutip merdeka.com, Senin (13/10).
Kemudian, ia pun turut berterimakasih kepada seseorang bernama Dewi Murti. Karena, perempuan itu menyampaikan soal profile singkat Yusril yang pernah menjabat sebagai anggota dewan, menteri, hingga pernah mencalonkan diri sebagai presiden.
"Pernah jadi calon Presiden tapi disuruh mundur pada tahun 1999 oleh Pak Amien Rais, Ketua MPR pada waktu itu," ujarnya.
Terkena Roasting Anak Sendiri
Kemudian, mantan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) ini pun mulai bercerita awal dirinya terkena roasting oleh anaknya sendiri.
"Saya ingin mulai dengan cerita, suatu hari anak saya bertanya kepada saya. Kenapa jari kaki bapak itu jarang-jarang, kaki kita kok rapat, Bapak kenapa jarinya jarang? Maka jawab saya, karena Bapak dulu enggak pernah pakai sepatu. Bapak dulu sekolah tidak pakai alas kaki sama sekali sampai tamat SD," cerita Yusril.
Lalu, ia pun baru memakai sepatu untuk berangkat ke sekolah pada saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
"Waktu masuk SMP ibu saya menjual ayam 4 ekor terus membeli sepatu putih mereknya Bata, maka mulailah saya pakai sepatu pergi sekolah SMP jalan kaki dan akhirnya kaki saya melepuh karena baru pertama kali pakai sepatu," ungkapnya.
Kemudian anaknya pun berkelakar jika saat ini Yusri tengah balas dendam dengan memiliki sepatu yang cukup banyak.
"Terus anak saya ngolong-ngolong, nah pantasan Bapak sekarang sepatunya banyak, rupanya Bapak ini balas dendam masih kecil enggak pernah pakai sepatu, itu semua gambaran betapa susah hidup kami ketika kami masih kecil," paparnya.
Cerita Tentang Ayahnya
Dalam kesempatan itu, Yusril turut bercerita tentang latar belakang singkat ayahnya yang merupakan tamatan sekolah HBS atau semacam Sekolah Menengah Atas (SMA) pada zaman dahulu kala.
"Ya ingin kuliah di HBS sekolah tinggi hukum The Batavia atau Raise School The Vreden sekolah tinggi hukum lapangan banteng. Tapi baru masuk kuliah tentara Jepang datang sekolahnya bubar, maka dia pulang kampung tidak meneruskan kuliah akhirnya jadi tentara Jepang," ungkapnya.
"Tapi terus setelah merdeka, eranya saya Bapak saya sekolah Belanda itu menjadi Kepala Kantor Urusan Agama, Kepala KUA. Kerjanya menikahkan orang, mengurusi bagi harta warisan, menandatangani surat kawin. Jadi heran-heran juga Bapak ini sekolah Belanda, bapak menjadi Kepala KUA," sambungnya.
Banggakan Timah Bangka Belitung
Selain itu, Yusril turut membanggakan timah yang berada di kampung halamannya yakni di Bangka Belitung (Babel). Karena, disana merupakan satu-satunya pulau yang masih aktif menambang timah.
"Pak Prabowo kaget, karena pulau itulah dua pulau Bangka dan Belitung satu-satunya pulau yang masih aktif menambang timah sampai hari ini. Tambang timah di Cina, tambang timah di Malaysia dan Thailand, tambang timah juga di Siam sudah lama itu yang ada hanya di Bangka dan Belitung," ujarnya.
Ia pun tidak bisa membayangkan jika timah itu tidak ada. Menurutnya, semua elektronik seperti handphone, komputer, televisi, listrik yang tersambung dengan timah akan terhenti.
"Kalau orang kampung bilang solder pakai timah dan sampai hari ini tidak ada program yang dapat menggantikan timah untuk mengkoneksikan elektronik. Kalau sekiranya tambang timah itu kita kelola dengan seksama dan kita stop ekspor timah, maka seluruh industri modern akan terhenti secara aktif," pungkasnya.