Mengenang dr. Kariadi, Pahlawan Sunyi di Balik Pertempuran Lima Hari Semarang
Peristiwa heroik yang terjadi pada Oktober 1945 itu menjadi simbol keberanian rakyat melawan penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Setiap bulan Oktober, warga Semarang dan masyarakat Indonesia mengenang Pertempuran Lima Hari sebagai salah satu momen penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan. Peristiwa heroik yang terjadi pada Oktober 1945 itu menjadi simbol keberanian rakyat melawan penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Di balik perjuangan para pejuang tersimpan kisah keberanian, pengorbanan, dan solidaritas lintas etnis. Dia merupakan Kariadi, seorang dokter yang gugur di tengah situasi kota yang memanas.
Pegiat Sejarah Semarang Mosez Christian menyebut Kariadi merupakan dokter malaria yang banyak meneliti dan membantu masyarakat di Kalimantan dan Papua. Namun saat tugas di Semarang, dia yang menjabat sebagai kepala laboratorium berusaha memeriksa air di reservoir yang dikabarkan dicampuri racun.
"Tetapi belum sempat tiba, dia terbunuh di Jalan Pandanaran,” kata Mosez.
Menurutnya, isu keracunan air di Reservoir Siranda saat itu hanyalah rumor yang menyebar luas hingga menimbulkan kepanikan. Kabar tersebut bahkan dimuat di media dengan meminta agar warga tidak meminum air dari reservoir.
Namun, belum melangkah untuk memastikan kebenaran justru, Kariadi menjadi pengorbanan terakhirnya. Sampai ke lokasi karena di jalan ada pasukan Jepang dari Cepiring.
"Kemungkinan besar dia dibunuh di sana. Jadi, beliau lebih tepat disebut korban pertama pertempuran ini,” ujarnya.
Selain dokter Kariadi, ada pula sosok Oei Tiong Djioe, pendiri Toko Buku Merbabu, yang menunjukkan bentuk perjuangan berbeda. Di tengah peristiwa sengit yang membuat pasar tutup dan logistik langka, Oei membuka gudang makanannya untuk membantu warga sekitar Ambengan atau Mataram yang kini kawasan Jalan MT Haryono.
"Dia membantu menyalurkan bahan makanan kepada warga bersama Sayuti Melik dan S.K. Trimurti. Saat orang-orang tak bisa membeli kebutuhan pokok, langkah itu menyelamatkan banyak warga,” ujarnya.
Semangat solidaritas itu juga tampak dari sejumlah warga Tionghoa lain yang ikut berjuang dan bahkan gugur dalam pertempuran.
Pertempuran Lima Hari berawal pada ketegangan antara para pemuda Indonesia dan tentara Jepang pascaproklamasi kemerdekaan. Saat itu, para pemuda menuntut Jepang menyerahkan senjata untuk mempertahankan kemerdekaan.
Penyerahan senjata sempat terjadi pada 4 dan 5 Oktober, serta 12 Oktober 1945. Namun, pada 13 Oktober, datang perintah dari markas besar di Jakarta agar Jepang tidak lagi menyerahkan persenjataan. Situasi pun memanas.
"Pemuda yang sudah merencanakan konferensi AMRI se-Jawa Tengah akhirnya sepakat untuk mengambil alih kota. Jepang menolak menyerahkan senjata karena bagi mereka, tiap senjata memiliki lambang kekaisaran yang tidak boleh jatuh ke tangan lain,” jelasnya.
Dalam keadaan genting itu, komandan pasukan Jepang di Semarang, Mayor Kido disebut ingin menjalankan mandat sekutu untuk menjaga ketertiban sampai pasukan sekutu datang. Namun, benturan dengan pemuda tak terelakkan. Pada dini hari 15 Oktober 1945, pukul sekitar 03.30, pertempuran pecah dari dua arah, barat menuju Tugu Muda dan timur ke kawasan Mataram.
Pertempuran paling sengit terjadi di sekitar Tugu Muda, tempat Polisi Istimewa Semarang yang memiliki senjata lengkap bertahan hingga malam hari. Terjadi pula di Johar, baku tembak berlangsung sengit, sementara beberapa kelompok pemuda lain sempat berencana menyerang markas Jepang di Jatingaleh.
Pertempuran berlangsung lima hari hingga 19 Oktober 1945. Berdasarkan catatan Jepang, jumlah korban di pihak mereka sekitar 300 orang, sementara sumber Indonesia mencatat hingga 2.000 korban jiwa, termasuk yang hilang dan luka-luka.
Kedatangan pasukan Sekutu akhirnya menghentikan konflik. Gubernur Wongsonegoro kemudian mengeluarkan maklumat kedua pada 20 Oktober yang menyerukan penghentian tembak-menembak di Semarang.
"Kemudian sekutu datang, kedua belah pihak difasilitasi untuk genjatan senjata. Pada 23 Oktober, bahkan ada perundingan resmi antara Indonesia, Jepang dan Sekutu,” pungkasnya.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat menjadi inspektur upacara Peringatan Pertempuran Lima Hari Semarang di kawasan Tugu Muda, Kota Semarang, Selasa, 14 Oktober 2025. Mengungkap kisah dokter Kariadi dan kawan-kawan telah banyak memberi pelajaran tentang pengabdian, pengorbanan dan ke-Indonesiaan.
"Sebagai generasi penerus perjuangan bangsa, Gubernur meminta masyarakat bisa belajar menghargai betul arti kemerdekaan, serta menghormati secara tulus perjuangan para pahlawan," kata Ahmad luthfi.
Termasuk mengenang setiap babak sejarah perjalanan bangsa, dan mengadopsi nilai-nilai perjuangan serta kebersamaan, untuk dapat diterapkan pada kerja dan karya.
"Perjuangan tidak pernah ada kata usai. Hari ini kita menghadapi berbagai tantangan, cobaan dalam berbangsa dan bernegara," ungkapnya.
Provinsi Jawa Tengah terdiri dari 37 juta masyarakat, 8.573 desa/kelurahan, 576 kecamatan yang mempunyai perbedaaan suku, ras, bahasa, dan potensi wilayah. Itu merupakan kesatuan bahwa nyawanya Jawa Tengah ada pada semangat gotong royong, sehingga dapat gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja.
"Kebanggaan saya adalah ketika kita semua mengambil peran terbaik dan bergotong royong untuk mengatasi berbagai permasalahan bangsa. Ringan sama dijinjing berat sama dipikul, barji bar beh, mati siji mati kabeh, bangkit satu bangkit semua, senang satu senang semua, susah satu susah semua. Itu nyawanya Jawa Tengah," ujarnya.
Ia juga berpesan agar seluruh masyarakat terus berkreasi, berinovasi, dan menjunjung tinggi nilai integritas. Lakukan kerja nyata untuk bangsa.
"Dari Kota Semarang dan Jawa Tengah, sebagai basis perjuangan kemerdekaan dan sumber peradaban yang sarat kearifan lokal, kita gelorakan semangat perjuangan dalam rangka membangun Indonesia," tutupnya.
Di dalamnya diceritakan bagaimana masyarakat di Semarang waktu itu sedang merayakan kemerdekaan mendapatkan gangguan dari tentara Jepang. Hingga pecahlah pertempuran lima hari di Semarang pada 14-18 Oktober 1945.
Sejarah singkat tersebut juga ditampilkan dalam sebuah pertunjukan kolosal oleh Teater Pitoelas Universitas 17 Agustus Semarang. Pertunjukan kolosal tersebut menjadi puncak dari rangkaian upacara peringatan Pertempuran Lima Hari Semarang.