Menag: Kematangan NU 1 Abad Jadi Kekuatan Hadapi Tantangan Bangsa
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti Kematangan NU 1 Abad sebagai organisasi keagamaan dan kebangsaan, siap menjadi kekuatan besar menghadapi berbagai tantangan kompleks di masa depan.
Jakarta, 31 Januari – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, yang juga menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menegaskan kematangan Nahdlatul Ulama (NU) dalam perjalanan seratus tahun kiprahnya di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam peringatan satu abad Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, pada hari Sabtu.
Menurut Menag Nasaruddin Umar, seratus tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah organisasi untuk menunjukkan kematangannya sebagai entitas keagamaan dan kebangsaan. Ia menyoroti peran penting NU dalam memperbarui substansi keislaman yang selaras dengan konteks zaman, menjadikannya relevan di setiap era.
Dalam kesempatan tersebut, Menag juga mengingatkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan An-Nasa’i. Hadis ini menyebutkan bahwa Allah SWT akan mengutus seorang tokoh ulama di setiap akhir 100 tahun untuk memperbarui pemahaman keagamaan umat, sebuah peran yang diyakininya telah diemban oleh NU.
Peran NU dalam Pembaruan Keislaman
Nahdlatul Ulama, dalam pandangan Menteri Agama, sejatinya merupakan sebuah pesantren besar, tempat dinamika keilmuan Islam tumbuh sangat kuat. Di lingkungan pesantren, diskusi keagamaan sering berlangsung intens, termasuk perdebatan mengenai mazhab-mazhab fikih yang kadang kala memanas, namun menjadi bukti kuatnya tradisi keilmuan.
Tradisi pesantren yang menjunjung tinggi adab santri kepada kiai menjadi fondasi utama dalam menjaga harmoni di tubuh NU, meskipun terdapat perbedaan pandangan. Menag Nasaruddin Umar menegaskan, “Seorang santri tetap sangat menghormati kiai, walaupun berbeda pendapat. Inilah kekuatan moral NU.”
NU digambarkan sebagai keluarga besar yang sarat dinamika, namun tetap mampu menjaga keharmonisan internalnya. Lebih dari itu, NU memiliki kemampuan merangkul pihak luar hingga mereka merasa menjadi bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, menunjukkan inklusivitas yang tinggi. “NU ke depan akan menjadi wadah kekuatan besar bagi bangsa Indonesia,” tambahnya.
Tantangan dan Harapan NU di Masa Depan
Menag Nasaruddin Umar juga menyoroti berbagai tantangan yang akan dihadapi PBNU dan warga Nahdliyin di masa depan yang semakin kompleks. Perkembangan zaman yang bergerak lebih cepat dari kesiapan manusia berpotensi menimbulkan cultural shock dan economic shock yang perlu diantisipasi.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, figur manajer dan pemimpin sangat dibutuhkan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW mampu menjadi the best leader dan the best manager, sebuah teladan yang relevan untuk kepemimpinan NU ke depan. “Ke depan yang dibutuhkan adalah figur manajer dan pemimpin, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad saw., yang mampu menjadi the best leader dan the best manager,” ujarnya.
Menteri Agama berharap NU tetap konsisten mengusung moderasi umat dalam setiap langkahnya. Ia menekankan bahwa NU memiliki prinsip untuk tidak menyamakan sesuatu yang berbeda dan tidak membedakan sesuatu yang sama. “Biarkan yang sama itu sama, dan yang berbeda itu tetap berbeda. Namun semuanya hidup dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.
Peringatan Harlah ke-100 tahun Masehi NU ini dihadiri oleh sejumlah pejabat penting. Beberapa di antaranya adalah Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Najamuddin, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, serta duta besar negara sahabat.
Turut hadir pula Mustasyar PBNU Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, perwakilan ketua umum partai politik, pengurus badan otonom dan lembaga NU, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) se-Indonesia, hingga Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Indonesia.
Sumber: AntaraNews