Laporan EF EPI 2025: Kemampuan Bahasa Inggris Indonesia Masih Tertinggal di Era AI
Laporan internasional terbaru menunjukkan bahwa peningkatan kebutuhan tersebut belum diiringi dengan lonjakan kemampuan bahasa Inggris secara global.
Kemampuan bahasa Inggris kian dipandang sebagai keterampilan dasar di tengah percepatan transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Namun, laporan internasional terbaru menunjukkan bahwa peningkatan kebutuhan tersebut belum diiringi dengan lonjakan kemampuan bahasa Inggris secara global, termasuk di Indonesia.
Laporan EF English Proficiency Index (EF EPI) 2025 mencatat bahwa kemampuan bahasa Inggris di banyak negara mengalami stagnasi. Data EF EPI 2024 sebelumnya menunjukkan skor menurun di lebih dari 60 persen negara yang disurvei, bahkan sebagian negara mengalami tren penurunan selama empat tahun berturut-turut.
Indonesia menghadapi tantangan serupa. Berbagai kajian pendidikan menilai kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia masih belum merata. Faktor kualitas pengajaran, keterbatasan akses pembelajaran, serta kesenjangan antardaerah menjadi penyebab utama. Di luar wilayah perkotaan, kesempatan belajar bahasa Inggris secara berkelanjutan dinilai masih terbatas.
Dalam laporan EF EPI terbaru, Indonesia kembali berada di peringkat 80 dari 116 negara dengan kategori Low Proficiency. Posisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan bahasa Inggris nasional belum mengalami kemajuan signifikan, meski kebutuhan penguasaan bahasa internasional semakin mendesak di era AI.
Laporan EF EPI 2025 menekankan bahwa penguasaan bahasa Inggris menjadi semakin penting seiring perubahan cara bekerja, belajar, dan berkomunikasi secara global. Kombinasi kemampuan bahasa dan literasi digital dipandang sebagai prasyarat untuk bersaing di pasar tenaga kerja modern.
Pada tahun ini, EF memperbarui metode pengukuran dengan memanfaatkan teknologi AI melalui EF EFEKTA, khususnya untuk menilai kemampuan berbicara dan menulis. Selama lebih dari satu dekade, EF EPI menggunakan EF SET, tes bahasa Inggris berstandar internasional yang mengacu pada Common European Framework of Reference (CEFR). Laporan 2025 melibatkan lebih dari dua juta peserta dari berbagai negara.
Operations Director EF EFEKTA, Fanno Hendriawan, menyatakan bahwa perkembangan AI turut mengubah cara pembelajaran bahasa Inggris. Namun, menurutnya, hal tersebut justru meningkatkan urgensi penguasaan bahasa. "AI memang dapat membantu menerjemahkan kata, tetapi belum mampu menggantikan spontanitas, empati, dan koneksi manusia dalam komunikasi," ujarnya.
Kemajuan Teknologi Tuntut Kemampuan Produktif Lebih Besar
Hal senada disampaikan Academic Operations Manager EF EFEKTA English for Adults, Yunita Yanti. Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi menuntut fokus lebih besar pada kemampuan produktif, yakni berbicara dan menulis.
"AI membuka peluang pembelajaran yang lebih personal, tetapi komunikasi efektif tetap membutuhkan unsur humanis," katanya.
Soroti Peran Teknologi
Mengusung tema "English in the Age of AI", EF EPI 2025 menyoroti peran teknologi dalam memperkaya pembelajaran bahasa Inggris melalui materi yang lebih personal dan latihan percakapan virtual. EF EFEKTA English for Adults menghadirkan sistem pembelajaran hybrid dengan dukungan AI, sementara aplikasi English Live menyediakan fitur latihan percakapan real-time dengan koreksi otomatis.
Laporan ini menegaskan bahwa di tengah gempuran AI, penguasaan bahasa Inggris tetap menjadi kompetensi kunci yang tidak tergantikan