Keras! Komisi IX DPR Tantang Kepala BGN Bongkar Politisi Minta Jatah Dapur MBG
Desakan itu terjadi saat raker bareng Kepala Badan Gizi Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN RI dan Kepala BPOM.
Anggota Komisi IX DPR Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Sahidin meminta Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana menunjuk sosok politisi meminta jatah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal ini dikatakan Sahidin dalam Rapat Kerja (Raker) bareng Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Menteri Kesehatan (Menkes), Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN RI dan Kepala BPOM.
Awalnya, Sahidin lebih dulu mengatakan persoalan Makan Bergizi Gratis (MBG) dibuat gaduh staf dari Kepala BGN sendiri. Salah satunya soal menyalahkan politisi meminta jatah dapur MBG atau SPPG.
"Ada yang menyalahkan politisi lah minta dapur ada yang tadi bicara pidana ini persoalan kita kan keracunan berarti ada masalah di dalam ini," kata Sahidin dalam rapat di kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (1/10).
Berdasarkan disampaikan Kepala BGN, Dadan Hindayana, persoalan kasus pencernaan atau keracunan ini berada di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai dari hulu hingga ke hilir.
"Mulai dari hulu ke hilir SPPG kita belum pengalaman masih baru, ini persoalan ya saya mengatakan ini ya kalau membiarkan enggak juga tapi pengalaman pak, berdasarkan pengalaman Pak berdasarkan pengalaman kami tengok di lapangan," jelas Sahidin.
"Mereka ini masih, masih kaku. Belum bisa membedakan yang baik atau tidak, belum bisa membedakan ikan yang segar atau tidak. Ini persoalan kita," sambung Sahidin.
Akan tetapi, menurut Sahidin, persoalan itu justru digantikan dengan menyebutkan atau membawa-bawa politisi.
"Kalau ada politisi tunjuk idungnya, siapa? Jangan kita bicara di medsos, tambah ramai pak, kasian bapak-bapak. Dulu satu Wamen bapak aman-aman saja, bertambah kami pun gerah jadinya," tegas Sahidin.
DPR Telepon BGN
Meski begitu, Sahidin mengakui sempat menghubungi staf dari BGN. Akan tetapi, hal itu untuk menjembatani proses pembentukan program MBG sekaligus turut mensosialisasikan program Presiden Prabowo Subianto tersebut.
"Tapi setelah kami jalan ya di dapil masing-masing kami enggak nyaman juga pak, politisi yang minta lah, yang apa. Memang saya ada menelpon staf bapak. Tetapi kami hanya menjembatani, tapi kalau yang lain enggak tahu saya. Tapi kalau ada tolong tunjuk, ini minta-minta kerjanya," ujar Sahidin.
"Ini mencari komisi ini. Ini mencari kesempatan ini, di program ini. Begitu dong. Tapi kalau buat narasi-narasi, sehingga pengalihan isu-isu ini keluar, enggak mau juga kita. Pertanyaannya di dalam. Di dalam sendiri, saya tahu," sambung dia.
Dia juga ingin agar narasi tersebut tidak dibawa sampai keluar dan bisa disampaikan langsung siapa yang dimaksudnya itu. Sehingga, dia pun juga ingin agar adanya evaluasi di internal BGN.
"Sampaikan di forum ini. Jangan kita membuat narasi-narasi di luar itu. Itu enggak baik, Pak. Prinsip kami dukung ini, Pak. Karena multiefek-nya betul-betul terasa. Bagi anak-anak, pekerja, supplier, semuanya terasa, semua ini. Apalagi tempat saya itu terasa betul ini semua, Pak di Riau itu. Orang mengaminkan semua ini. Bagaimana cepat ini, prosesnya cepat terlaksana," ucap dia.
"Tetapi kita juga, ya, gaduh juga di dalam, Bapak. Ini penting ini, Bapak, evaluasi ini, ke dalamnya evaluasi, Pak. Jangan keluar. Kalau keluar, tambah ramai lagi," pungkasnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang mengakui ada politisi meminta jatah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) kepadanya. Pengakuan ini disampaikan Nanik di kantor BGN, Jakarta, Jumat (26/9).
Awalnya, Nanik mengaku akan menutup dapur-dapur MBG dianggap bermasalah. Dia pun mengaku takkan pandang bulu.
"Mau punyanya jenderal, mau punyanya siapa, kalau melanggar akan saya tutup saya enggak peduli, karena ini menyangkut nyawa manusia," kata Nanik kepada wartawan di Jakarta, Jumat (26/9).
"Serius saya, jangan main-main sama urusan kesehatan anak, ini kan program kasihan banyak anak anak enggak bisa makan kita mau kasih makan kok rebutan," sambungnya.
Setelahnya, ia pun menyebut ada politikus yang meminta jatah dapur MBG kepada dirinya melalui WhatsApp. Permintaan itu dilontarkan dalam kondisi banyaknya siswa yang tengah keracunan usai menyantap MBG.
Nanik pun langsung memblokir nomor tersebut setelah ia membalas permintaan politikus tersebut.
"Makanya serius nih ada yang WA saya mba nyenyenyenye, saya jawab ‘kamu politikus bukannya bantu saya bagaimana mengkomunikasikan soal keracunan malah minta dapur’ saya langsung blok, blok, blok, enak aja lu ngurusin dapur," tegasnya.
"Ya lah, saya enggak mau kaya begitu," pungkasnya.