Kemenag Sumsel Latih Ratusan Penyuluh Agama Manfaatkan AI untuk Konten Kreatif
Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sumatera Selatan melatih ratusan penyuluh agama lintas iman untuk bijak memanfaatkan AI dan membuat konten kreatif, memastikan pesan kedamaian relevan bagi generasi muda.
Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) baru-baru ini menyelenggarakan lokakarya penting. Kegiatan ini bertujuan melatih seratusan penyuluh agama lintas iman di wilayah tersebut. Mereka didorong untuk aktif membuat konten kreatif dan bijak memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Lokakarya bertajuk "Pengayaan Wacana Agama dan Keragaman" ini merupakan hasil kerja sama dengan Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS). Acara berlangsung di Aula Kanwil Kemenag Sumsel di Palembang pada hari Sabtu, 13 Juni. Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Dr. Leonard Chrysostomos Epafras dari ICRS-UGM.
Pelatihan ini diselenggarakan untuk membekali para penyuluh agar tidak kaku dalam menjalankan perannya di era digital. Mereka diharapkan mampu beradaptasi dengan tren teknologi. Hal ini penting agar pesan-pesan kedamaian dapat tersampaikan secara efektif kepada generasi muda.
Adaptasi Penyuluh Agama di Era Digital
Dr. Leonard Chrysostomos Epafras menekankan bahwa penyuluh agama masa kini dituntut untuk tidak kaku dalam melaksanakan peran. Mereka harus mampu beradaptasi dengan tren digital yang terus berkembang pesat. Tujuannya adalah agar pesan-pesan kedamaian dapat diterima dengan baik oleh generasi muda.
Rujukan ketokohan di era digital saat ini telah mengalami pergeseran signifikan. Sosok yang diminati kini cenderung bersifat equalitarian dan menggunakan gimmick yang relate (sesuai). Banyak yang bertransformasi menjadi micro-ustadz, pastorgram, atau podcaster, ujar Leonard.
Riset menunjukkan figur publik keagamaan yang paling diminati warganet lintas generasi sangat beragam. Contohnya adalah Husein Ja'far di kalangan Muslim, Gilbert Lumoindong di kalangan Kristen, dan Paus Fransiskus di kalangan Katolik. Ini menunjukkan pentingnya keberagaman dalam pendekatan dakwah.
Formula Konten Kreatif dan Literasi Hukum Digital
Untuk memikat generasi muda, Dr. Leonard membagikan formula dalam membuat konten keagamaan yang berbobot namun tetap menyenangkan. Penyuluh diajak untuk mendahulukan pesan yang membawa kabar gembira (basyir). Mereka juga dianjurkan menggunakan teknik bercerita (storytelling) lewat visual yang menarik.
Selain itu, penggunaan kutipan yang menarik (quotes) sangat dianjurkan untuk menarik perhatian. Penting juga untuk selalu menyaring informasi sebelum dibagikan (sharing) guna menghindari penyebaran hoaks. Teknik ini membantu menjaga kualitas dan kredibilitas pesan yang disampaikan para penyuluh agama.
Lokakarya ini juga menekankan pentingnya literasi hukum digital bagi para penyuluh agama. Indonesia kini telah mengaktifkan tiga regulasi besar yang perlu dipahami. Regulasi tersebut meliputi UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP No. 27/2022), Perubahan Kedua UU ITE (UU No. 1/2024), dan KUHP Nasional (UU No. 1/2023).
Penyuluh diingatkan untuk mengedukasi masyarakat mengenai beberapa kebiasaan digital yang kini memiliki sanksi pidana tegas. Contohnya, mengunggah foto orang lain tanpa izin di tempat umum dapat diancam empat tahun penjara atau denda Rp4 miliar. Meneruskan tangkapan layar WhatsApp orang lain juga berpotensi sanksi dua tahun penjara atau denda Rp400 juta. Membuka ponsel orang lain tanpa izin dapat dikenai ancaman 6-8 tahun penjara atau denda Rp600 juta.
Pemanfaatan AI Secara Bijak dan Beretika
Para penyuluh diajak untuk menggunakan AI secara bijak sebagai teman eksplorasi topik dan produksi ilustrasi. Caranya adalah melalui teknik prompting beretika dengan formula C-A-R-E. Formula ini terdiri dari Context, Action, Result, dan Example.
Namun, Dr. Leonard menggarisbawahi pentingnya transparansi dalam penggunaan teknologi tersebut. Penyuluh diminta untuk tetap mendeklarasikan jika konten yang mereka buat menggunakan bantuan AI. Hal ini penting demi menjaga akuntabilitas dan kepercayaan publik terhadap konten yang dihasilkan.
Melalui kegiatan ini, para penyuluh agama lintas iman di Sumatera Selatan diharapkan tidak lagi gagap teknologi. Mereka diharapkan mampu bertransformasi menjadi kreator konten kedamaian yang relevan, paten, dan taat hukum. Ini adalah langkah maju dalam menyebarkan nilai-nilai positif di era digital.
Sumber: AntaraNews