Kemenag NTT Perkuat Sinergi Moderasi Beragama dan Ekoteologi di Kupang
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT bersinergi dengan FKUB dan Kwarda Pramuka untuk memperkuat implementasi Moderasi Beragama dan Ekoteologi, menanamkan nilai kerukunan serta kepedulian lingkungan.
Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggandeng Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka NTT. Sinergi ini bertujuan untuk memperkuat implementasi moderasi beragama dan ekoteologi di wilayah tersebut. Kolaborasi ini diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai kerukunan serta kepedulian terhadap lingkungan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Inisiatif strategis ini diumumkan di Kupang pada Sabtu, 13 Juni, oleh Kepala Kanwil Kemenag Provinsi NTT, Fransiskus Kariyanto. Langkah ini menekankan pentingnya pendekatan komprehensif dalam membangun harmoni sosial dan pelestarian alam. Pembangunan kerukunan dan kepedulian terhadap lingkungan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi erat dari berbagai pihak.
Pertemuan tersebut membahas langkah-langkah kolaboratif untuk mengimplementasikan program Moderasi Beragama dan Ekoteologi melalui gerakan bersama. Gerakan ini akan melibatkan umat lintas agama serta anggota Gerakan Pramuka dari berbagai latar belakang keagamaan. Hal ini menunjukkan komitmen untuk merangkul semua elemen masyarakat dalam upaya mulia ini.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Moderasi Beragama
Fransiskus Kariyanto menegaskan bahwa moderasi beragama dan ekoteologi merupakan dua agenda penting yang saling berkaitan. Nilai-nilai agama mengajarkan umat untuk hidup rukun sekaligus menjaga dan merawat ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, kolaborasi antara Kemenag, FKUB, dan Kwarda Pramuka menjadi langkah strategis untuk menanamkan nilai-nilai tersebut kepada masyarakat.
Menurutnya, pembangunan kerukunan dan kepedulian terhadap lingkungan tidak dapat dilakukan secara parsial. Hal ini membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan. Sinergi ini diharapkan menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan di NTT.
Ketua FKUB Provinsi NTT, Yuliana Saloso, menyatakan komitmen FKUB untuk menghadirkan ruang-ruang perjumpaan yang inklusif bagi seluruh umat beragama. Dialog dan kebersamaan menjadi modal utama merawat kerukunan di tengah kemajemukan masyarakat NTT. FKUB secara konsisten membangun ruang perjumpaan antar-umat beragama agar tercipta saling pengertian dan saling percaya.
Yuliana menambahkan, moderasi beragama tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus dihidupi melalui perjumpaan, kerja sama, dan aksi nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat luas. Ini menunjukkan bahwa FKUB tidak hanya berfokus pada wacana, tetapi juga pada tindakan konkret.
Ekoteologi sebagai Aksi Nyata Pelestarian Lingkungan
Implementasi ekoteologi menjadi salah satu bentuk aktualisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. FKUB menginisiasi berbagai program yang memadukan penguatan kerukunan dengan pelestarian lingkungan. Salah satu program unggulan adalah Gerakan Tanam Sejuta Pohon.
Gerakan Tanam Sejuta Pohon melibatkan tokoh dan umat dari berbagai agama untuk bersama-sama menjaga bumi sebagai rumah bersama. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata untuk keberlanjutan lingkungan.
Yuliana Saloso menekankan bahwa merawat lingkungan adalah panggilan moral sekaligus panggilan iman. Ketika tokoh dan umat dari berbagai agama bergandengan tangan menanam pohon dan merawat alam, pada saat yang sama mereka sedang menanam benih-benih perdamaian dan persaudaraan. Ini adalah wujud nyata dari ekoteologi yang diusung.
Peran Generasi Muda dalam Menjaga Toleransi dan Lingkungan
Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Provinsi NTT, Sinun Petrus Manuk, menyatakan kesiapan Pramuka NTT menjadi mitra strategis Kemenag dan FKUB. Mereka siap memperkuat moderasi beragama dan ekoteologi di kalangan generasi muda. Pramuka memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi penerus.
Nilai kebangsaan, persaudaraan, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian integral dari pendidikan kepramukaan. Nilai-nilai ini sejalan dengan semangat moderasi beragama serta pelestarian alam. Pramuka adalah rumah bersama bagi anak-anak dan generasi muda dari berbagai latar belakang agama, suku, dan budaya.
Melalui kegiatan perkemahan lintas agama, bakti sosial, dan gerakan penanaman pohon, Pramuka ingin menanamkan bahwa perbedaan adalah kekuatan dan menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kwarda Pramuka NTT siap mengintegrasikan agenda moderasi beragama dan ekoteologi dalam berbagai kegiatan pembinaan kepramukaan.
Integrasi ini diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang toleran, berkarakter, dan peduli terhadap kelestarian alam. Dengan demikian, upaya sinergi ini tidak hanya berdampak pada saat ini, tetapi juga membentuk masa depan yang lebih baik.
Sumber: AntaraNews