Kehidupan Soeharto Setelah Lengser
Soeharto mantap mundur sebagai Presiden Republik Indonesia terhitung sejak 21 Mei 1998.
Gelombang unjuk rasa meminta Soeharto mundur sebagai Presiden tak kunjung henti pada pertengahan Mei 1998 silam. Ditambah lagi pendudukan Gedung DPR/MPR oleh mahasiswa kian tak terbendung.
Entah dari saja kampus mereka. Teriakkan hanya satu. Meminta Soeharto menanggalkan jabatannya sebagai Kepala Negara yang telah berkuasa 32 tahun.
Kondisi semakin karuan. Anggota di kabinetnya satu persatu mengajukan pengunduran diri. Total ada 14 nama menteri. Soeharto semakin kecewa. Seolah tak lagi ada rekan setia. Pada malam 20 Mei 1998, Soeharto mantap mundur sebagai Presiden Republik Indonesia terhitung sejak 21 Mei 1998.
Setelah keputusan diambil, semua aktivitas kenegeraan Soeharto yang dijalani selama 32 tahun terhenti. Sejak hari itu, tak ada lagi rapat bersama kabinet. Atau sekadar menjamu tamu negara di Istana. Dia kembali menjadi rakyat biasa.
Banyak Habiskan Waktu di Cendana
Setelah mundur sebagai kepala negara, Soeharto lebih banyak berkegiatan di kediaman pribadinya di Jalan Cendana. Hal-hal yang sebelumnya terasa sangat protokoler, mulai ditinggalkan suami dari Alm Ibu Tien itu. Salah satunya soal keharusan untuk tetap dikawal.
Soeharto menolak dia tetap dikawal karena merasa sudah menjadi rakyat biasa. Dikutip dari pernyataan Maliki Mift, pengawal khusus Soeharto saat itu yang tertuang dalam sebuah bab di buku berjudul Soeharto: The Untold Stories (2011).
Penuturan Maliki, pada dasarnya Soeharto adalah sosok yang sederhana. Dia mengenang ketika sedang bersama melakukan perjalanan bersama Soeharto. Kala itu, Soeharto sudah menolak dengan tegas untuk mendapatkan pengawalan. Tetapi nyatanya tetap dilakukan.
"Begitu satgas polisi datang dan mengawal di depan mobil kami, Pak Harto mengatakan, 'Saya tidak usah dikawal. Saya sekarang masyarakat biasa. Jadi, kasih tahu polisinya'," tulis Maliki dalam buku Soeharto: The Untold Stories, menirukan ucapan Soeharto waktu itu.
Sejujurnya, Maliki bingung dengan permintaan itu. Sebagai mantan kepala negara, memang ada aturan yang mengharuskan Soeharto tetap mendapatkan pengawalan demi alasan keamanan. Maliki coba memutar otak lebih keras agar pengawalan tetap dilakukan.
Akhirnya Maliki berkoordinasi dengan kepolisian. Dia meminta pengawalan hanya dilakukan dari belakang. Cara itu lagi-lagi gagal. Ternyata Soeharto tahu dan kembali protes.
Maliki mencoba cara lain. Dia kembali berkoordinasi dengan kepolisian untuk menghijaukan lampu lalu lintas saat kendaraan Soeharto melintas. Bukannya berhasil, malah mengundang kecurigaan. Soeharto merasa aneh lampu lalu lintas terus menyala hijau saat iring-iringan kendaraan membelah jalanan.
"Ini lampu kenapa hijau terus? Polisi tidak usah diberi tahu. Sudah, saya rakyat biasa, kalau lampu merah, ya merah saja," ujar Maliki menirukan protes Soeharto.
Maliki hanya terdiam. Meski terus mendapat teguran, Maliki tetap berupaya melakukan ragam strategi agar pengawalan tetap melekat pada Soeharto.
Soeharto Memilih Tak Banyak Bicara
Kembali sebagai rakyat biasa juga membuat Soeharto memilih lebih banyak diam. Seperti yang ditulis dalam Majalah Tempo Edisi Khusus Soeharto Februari 2008. Setelah membacakan pidato pengunduran dirinya, Soeharto langsung menyalami mantan wakilnya Habibie termasuk sejumlah Hakim Agung. Tak ada sepatah kata keluar dari mulutnya. Dia langsung balik badan menuju Ruang Jepara, tempat menunggu pimpinan MPR/DPR.
Syarwan Hamid, salah satu Wakil Ketua DPR saat itu, menceritrakan, Soeharto hanya bicara satu menit saat itu. Berdiri setengah membungkuk dengan tangan menyilang di perut, untuk berpamitan.
"Saudara-saudara, saya tak menjadi presiden lagi. Tadi sudah saya umumkan kepada rakyat. Sesuai Pasal 8 UUD 1945, Habibie sudah mengucapkan sumpah di depan MA. Saya harap MPR dan DPR dapat menjaga bangsa ini. Terima kasih," ucap Soeharto.
Tak hanya irit bicara, Soeharto yang memimpin Indonesia selama 32 tahun juga enggan bertemu dengan banyak orang. Tak hanya dirinya, keluarga cendana pun ikut menutup diri.
Soeharto memang sempat mengumpulkan keluarga Cendana di Puri Retno, Anyer, Banten, pada Juli 1998 atau dua bulan mundur. Usai makan di pinggir pantai, Soeharto meminta anak-anak, menantu, dan cucunya menerima kondisi pahit tersebut dan berusaha tabah melaluinya.
Soeharto mengatakan, apa yang terjadi adalah konsekuensi dari sebuah jabatan. Meski dia menyadari, pilihan mundur bukan berarti hujatan mereda, justru sebaliknya. Tetapi dia meminta anak-anaknya tak bereaksi atas kondisi itu.
"Biarlah sejarah yang mencatat, dengan hati bersih saya sudah memimpin dan memajukan negeri ini. Kalau masih ada hujatan, mari diterima dengan ikhlas. Mudah-mudahan ini mengurangi beban saya di akhirat," kata Soeharto.
Soeharto Jatuh Sakit
Beberapa tahun setelah lengser, kesehatan Soeharto menurun. Mengutip buku 'Hari-Hari Terakhir Jejak Soeharto Setelah Lengser' pada 29 April 2004, Soeharto mengalami pendarahan saluran pencernaan. Setelah mendapatkan perawatan, pada 2 Mei 2004 kesehatannya dikabarkan membaik.
Pada tahun 2006, Soeharto kembali masuk Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) pada 4 Mei dan keluar 31 Mei. Kondisinya semakin menurun sejak Soeharto pulang dari RSPP pada 31 Mei 2006. Sejak tahun itulah, kondisi kesehatan Soeharto kian menurun drastis sudah menurun drastis. Sejumlah organ pentingnya tidak berfungsi normal.
Perlahan, otaknya mengalami kerusakan, baik sel otak kiri maupun kanan. Tak hanya itu, jantungnya juga dipasang alat pacu agar organ vital ini tetap berfungsi. Begitu juga kondisi paru-paru dan ginjalnya, juga menurun.
Kesehatan Soeharto tak menunjukkan tanda-tanda membaik yang berarti. Hingga pada akhirnya, Soeharto mengembuskan napas terakhir pada 27 Januari 2008 Pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta. Jenazah Soeharto dimakamkan di Astana Giri Bangun, Solo bersebelahan dengan makan sang istri Bu Tien Soeharto.