Fakta Unik: Konsep Sekolah Unggul Terintegrasi Non-Asrama, SD-SMA Jadi Satu di Setiap Kecamatan?
Mendikdasmen mulai siapkan konsep Sekolah Unggul Terintegrasi non-asrama yang akan menyatukan SD, SMP, dan SMA di setiap kecamatan, siapkah Indonesia menghadapi perubahan besar ini?
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah mempersiapkan konsep Sekolah Unggul Terintegrasi yang bersifat non-asrama. Inisiatif ini muncul atas arahan Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet beberapa waktu lalu. Konsep tersebut bertujuan untuk mengintegrasikan tiga jenjang pendidikan, yaitu SD, SMP, dan SMA, dengan rencana kehadiran satu sekolah di setiap kecamatan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menjelaskan bahwa meskipun belum ada arahan langsung secara teknis, pihaknya terus menyusun kerangka konsep tersebut. Persiapan ini dilakukan sebagai respons terhadap permintaan Presiden Prabowo untuk menciptakan pemerataan akses dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Konsep ini diharapkan dapat menjadi solusi inovatif untuk tantangan pendidikan di tanah air.
Pengembangan konsep ini melibatkan studi banding terhadap model-model sekolah yang sudah ada, seperti Sekolah Unggul Terintegrasi di Samarinda, Kalimantan Timur. Model tersebut telah menerapkan kurikulum Cambridge dan memiliki sarana prasarana pendidikan yang ideal. Fokus utama Kemendikdasmen saat ini adalah penyiapan kurikulum dan rekrutmen guru, sementara detail teknis lainnya akan dibahas kemudian.
Mendikdasmen Siapkan Konsep Sekolah Unggul Terintegrasi
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengonfirmasi bahwa pihaknya sedang menyusun konsep Sekolah Unggul Terintegrasi. Meskipun belum menerima arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto, persiapan ini merupakan tindak lanjut dari permintaan dalam sidang kabinet. Presiden Prabowo secara spesifik meminta Kemendikdasmen untuk menyiapkan konsep Sekolah Unggul Terintegrasi yang bersifat non-asrama.
Mu'ti menyatakan, "Jadi Pak Presiden waktu sidang kabinet menyampaikan agar kami menyiapkan konsep Sekolah Unggul Terintegrasi non-asrama. Sekarang kami belum mendapatkan arahan secara langsung karena memang mulainya kan tidak segera kan. Ya, tapi secara konsep kami akan terus lakukan." Pernyataan ini disampaikan dalam kegiatan Taklimat Media Setahun Kemendikdasmen di Jakarta Pusat.
Secara garis besar, konsep Sekolah Unggul Terintegrasi ini akan menggabungkan jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA dalam satu lokasi. Rencananya, setiap kecamatan akan memiliki satu Sekolah Unggul Terintegrasi. Integrasi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih kohesif dan efisien.
Model dan Studi Banding Sekolah Unggul Terintegrasi
Kemendikdasmen belum membahas secara teknis konsep Sekolah Unggul Terintegrasi yang diminta Presiden Prabowo. Namun, pihaknya telah mulai melakukan studi banding dengan beberapa model sekolah yang sudah ada. Langkah ini diambil untuk mendapatkan gambaran dan masukan awal dalam perumusan konsep.
Salah satu model yang menjadi perhatian adalah Sekolah Unggul Terintegrasi yang dibangun oleh Pemerintah Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Sekolah ini dikenal menggunakan kurikulum Cambridge dan memiliki sarana prasarana pendidikan yang ideal. Mu'ti menjelaskan, "Tapi sekarang secara non-formal sudah melihat model-model yang ada. Misalnya, bulan lalu saya ke Samarinda, Kalimantan Timur. Itu sudah ada Sekolah Unggul Terintegrasi yang dibangun Pemerintah Kota Samarinda."
Aspek teknis seperti kemungkinan penggunaan sekolah dengan jumlah murid sedikit atau penyediaan lahan oleh kecamatan belum menjadi fokus utama. "Nah itu yang belum kami bicarakan. Dan apakah nanti skemanya misalnya kecamatan menyediakan tanah seperti yang Sekolah Rakyat atau Sekolah Unggul Garuda itu nanti belum kami bicarakan," tambah Mu'ti. Saat ini, fokus utama adalah penyiapan kurikulum, rekrutmen guru, dan masalah-masalah yang lebih bersifat akademik.
Rencana Besar Presiden Prabowo untuk Pendidikan
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah mengumumkan rencana ambisius untuk membangun sebanyak 7.000 sekolah terintegrasi mulai tahun 2026. Pengumuman ini disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna pada Senin (20/10). Rencana ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk pemerataan akses pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, Presiden Prabowo siap membentuk satuan tugas (satgas) khusus. Satgas ini akan bertugas mempersiapkan pembangunan sekolah terintegrasi di setiap kecamatan. Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap wilayah memiliki akses yang setara terhadap pendidikan berkualitas.
Presiden Prabowo menjelaskan, "Ini sedang saya susun, saya minta Kemendiktisaintek sama Kemendikdasmen, mungkin dibantu oleh kementerian lain juga, menyusun suatu satgas khusus untuk mempelajari. Kita membangun sekolah terintegrasi di setiap kecamatan." Inisiatif ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam memajukan sektor pendidikan nasional melalui pendekatan yang terintegrasi dan merata.
Sumber: AntaraNews