Fakta Unik: BMKG Prediksi Puncak Hujan November 2025, BPBD Kalsel Pertimbangkan Cabut Status Darurat Karhutla
BPBD Kalsel sedang mengkaji pencabutan Status Darurat Karhutla Kalsel seiring datangnya musim hujan, namun antisipasi banjir tetap menjadi perhatian utama.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan tengah mempertimbangkan untuk mencabut status darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pertimbangan ini muncul seiring dengan masuknya musim hujan 2025/2026 yang telah diprediksi oleh BMKG. Keputusan penting ini diharapkan dapat mengakhiri masa siaga bencana di provinsi tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kalsel, Gusti Yanuar Noor Rifai, mengonfirmasi bahwa rapat internal akan segera digelar. Rapat tersebut akan menganalisis data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hasil kajian ini akan menjadi dasar pelaporan kepada pimpinan provinsi.
Gusti menyatakan, "Kami akan melaporkan kepada pimpinan apakah status darurat karhutla bisa dinyatakan berakhir pada 30 September nanti. Data-data ini juga akan kami sampaikan kepada Bapak Gubernur untuk tindak lanjut." Langkah ini merupakan respons terhadap perubahan iklim dan kondisi cuaca di Kalimantan Selatan.
Kajian Pencabutan Status Darurat Karhutla
BPBD Kalsel akan menyelenggarakan rapat internal untuk mengevaluasi data terkini dari BMKG mengenai perkiraan musim hujan. Analisis ini sangat krusial dalam menentukan apakah status darurat karhutla dapat dicabut secara resmi. Puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada November 2025, meskipun tanda-tandanya mulai terlihat sejak September ini.
Pemerintah Provinsi Kalsel sebelumnya telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak Juli 2025. Status ini kemudian ditingkatkan menjadi status darurat pada Agustus 2025. Peningkatan status ini menyusul lonjakan titik panas (hotspot) di beberapa kabupaten/kota.
Penetapan status darurat tersebut memiliki tujuan utama. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat penanganan bencana serta memudahkan koordinasi lintas instansi. Koordinasi ini meliputi pengerahan personel, peralatan, dan logistik yang diperlukan untuk memadamkan api.
Keputusan pencabutan status darurat karhutla akan didasarkan pada kondisi aktual di lapangan dan proyeksi cuaca. Harapannya, dengan masuknya musim hujan, risiko kebakaran hutan dan lahan dapat diminimalisir secara signifikan.
Antisipasi Dampak Musim Hujan dan Banjir
Selain persoalan karhutla, BPBD Kalsel juga diminta untuk menyiapkan langkah antisipasi dampak musim hujan. Kesiapan ini mencakup adaptasi di sektor pertanian dan infrastruktur. Curah hujan yang tinggi berpotensi menimbulkan genangan atau banjir di beberapa wilayah.
Gusti Yanuar Noor Rifai menekankan pentingnya kesiapan ini. "BMKG menyampaikan perlunya kesiapan mendukung musim tanam padi maupun palawija, sekaligus memastikan infrastruktur siap bila terjadi potensi banjir," tutur Gusti. Ini menunjukkan pendekatan komprehensif dalam menghadapi perubahan musim.
BPBD Kalsel berharap curah hujan tahun ini tidak menimbulkan genangan besar seperti tahun sebelumnya. Pengalaman banjir di Kalimantan Selatan pada tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran berharga. Oleh karena itu, persiapan matang sangat diperlukan.
Berdasarkan tren, curah hujan pada 2025 diprediksi relatif lebih rendah dibanding 2022. "Mudah-mudahan kondisi ini membuat potensi banjir bisa diminimalisir di daerah kita," ucap Gusti. Prediksi ini memberikan sedikit optimisme, namun kewaspadaan tetap menjadi prioritas.
Wilayah Rawan Karhutla dan Upaya Penanganan
Sepanjang Agustus hingga awal September, berbagai pihak telah berjibaku memadamkan titik api. BPBD Kalsel bekerja sama dengan TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, serta masyarakat. Mereka berupaya keras mengendalikan kebakaran di lahan gambut yang sangat rawan terbakar.
Wilayah dengan kasus karhutla cukup tinggi di Provinsi Kalsel meliputi beberapa kabupaten dan kota. Daerah-daerah tersebut antara lain Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, Kota Banjarbaru, dan Hulu Sungai Selatan (HSS). Lokasi-lokasi ini menjadi fokus utama dalam upaya penanganan karhutla.
Upaya penanganan karhutla melibatkan berbagai strategi. Mulai dari pemadaman langsung di lokasi, patroli pencegahan, hingga sosialisasi kepada masyarakat. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi ancaman karhutla yang berulang setiap tahun.
Dengan masuknya musim hujan, diharapkan intensitas karhutla dapat menurun drastis. Namun, kesiapsiagaan tetap harus dijaga untuk mengantisipasi potensi kebakaran yang mungkin masih terjadi. Terutama di area-area yang sulit dijangkau.
Sumber: AntaraNews