Fakta Baru Terungkap, Istri Polisi di NTB Jadi Pengedar Narkoba
Roman menyebut, Anita baru menjadi pengedar selama dua bulan. Diketahui, ia kenal dengan Ko Erwin pada bulan Desember tahun lalu.
Seorang Bhayangkari bernama Anita diduga terlibat langsung dalam jaringan peredaran narkoba di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Anita merupakan istri dari seorang polisi bernama Bripka Irfan.
"Pengedar. Karena itu ada beberapa bungkus kecil-kecil gitu ya, untuk siap edar di situ," jelas Direktur Tindak Pidana Narkoba Polda NTB Kombes Pol. Roman Elhaj kepada wartawan, Jumat (27/2).
Roman menyebut, Anita baru menjadi pengedar selama dua bulan. Diketahui, ia kenal dengan Ko Erwin pada bulan Desember tahun lalu. Proses pengembangan berawal dari penangkapan Anita dan Bripka Irfan, setelah itu lanjut hingga AKP Malaungi serta AKBP Didik.
"Dari situ tertangkaplah si saudari Anita maupun saudara Bripka Irfan ini, kita amankan di Polda dan kemudian tadi yang disampaikan Pak Dirtipidnarkoba tadi, mengembang ke AKP Malaungi. AKP Malaungi mengembang ke Pak Didik, kan gitu," tandasnya.
Untuk sumber barangnya, kata Roman, berasal dari Ko Erwin dan kaki tangannya, termasuk Ais Setyawati sebagai bendahara jaringan tersebut.
"Terus barangnya dari mana? Sumbernya dari DPO-DPO ini tadi, Koko Erwin, kemudian Boy tadi itu. Koko Erwin juga punya kaki-kaki, salah satu DPO-nya juga sudah kita tangkap atas nama Ais selaku bendahara. Kita tangkap di Mataram," ungkap dia.
Tetapkan 6 Tersangka
Saat ini, enam tersangka perkara narkoba yang menyeret Eks Kapolres Bima Kota AKBP Didik Putra Kuncoro dibawa Bareskrim Polri dari penahanan oleh Polda Nusa Tenggara Barat (NTB).
Enam tersangka tersebut adalah Eks Kepala Satresnarkoba Polres Bima Kota AKP M (Malaungi), Bripka IR (Irfan), Yusril (YI) dan Herman (HR) selaku masyarakat sipil, serta dua wanita, yaitu AN (Anita) selaku istri dari Bripka IR dan AS (Ais Setyawati) selaku bendahara jaringan.
"Sekarang kami bawa semua ke sini, tadi pagi baru ke sini," kata Direktue Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso kepada wartawan, Jumat (27/2).