Fakta 1.422 Pulau: Pemprov Maluku Gandeng Jakarta Tingkatkan Literasi Pendidikan
Pemprov Maluku menggencarkan gerakan Literasi Maluku dengan menggandeng Pemprov Jakarta dan berbagai pihak. Simak upaya konkret Maluku hadapi tantangan pemerataan pendidikan di daerah kepulauan.
Pemerintah Provinsi Maluku secara serius menggencarkan gerakan literasi guna meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah kepulauan tersebut. Upaya ini dilakukan dengan menggandeng Pemerintah Provinsi Jakarta serta berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat hingga mitra internasional. Inisiatif penting ini disampaikan dalam sebuah acara di Jakarta.
Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menyampaikan komitmen ini saat menjadi pembicara dalam Climate and Literacy Festival 2025. Acara tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Heka Leka bersama Program INOVASI di Taman Literasi Martha Tiahahu, Jakarta Selatan. Festival ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Australia dan Indonesia.
Langkah kolaboratif ini diambil untuk mengatasi tantangan pemerataan pembangunan, khususnya di sektor pendidikan dan literasi, di Maluku. Provinsi ini terkenal dengan 1.422 pulau dan kekayaan alam melimpah, namun masih menghadapi kesenjangan akses. Gerakan Literasi Maluku diharapkan menjadi solusi kolektif yang efektif.
Tantangan Pemerataan Literasi di Maluku
Gubernur Hendrik Lewerissa menyoroti berbagai persoalan mendasar yang menghambat kemajuan literasi di Maluku. Salah satu masalah utama adalah minimnya jumlah perpustakaan sekolah yang memadai di banyak wilayah. Keterbatasan pustakawan yang terlatih juga menjadi kendala serius dalam pengelolaan fasilitas literasi yang ada.
Selain itu, sarana dan prasarana yang seharusnya mendukung kegiatan literasi seringkali dialihfungsikan untuk keperluan lain. Hal ini mengurangi kesempatan siswa dan masyarakat untuk mengakses bahan bacaan yang berkualitas. Kondisi ini memperparah tantangan yang ada dalam upaya peningkatan Literasi Maluku.
Kesenjangan akses literasi juga diperparah oleh keterbatasan jaringan internet, terutama di pulau-pulau terpencil yang sulit dijangkau. Tingginya biaya distribusi buku ke pulau-pulau kecil juga menjadi hambatan signifikan bagi pemerataan. Faktor-faktor ini secara kolektif menciptakan jurang pemisah dalam pemerataan pendidikan di Maluku.
Strategi Konkret Peningkatan Literasi Maluku
Menanggapi berbagai tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi Maluku telah menyiapkan sejumlah langkah konkret yang terencana. Pertama, Pemprov akan mendorong pengalokasian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk pembangunan. Dana ini juga akan digunakan untuk revitalisasi perpustakaan sekolah di seluruh Maluku.
Kedua, pentingnya melibatkan keluarga dan masyarakat ditekankan agar anak-anak terbiasa membaca di rumah sejak dini. Kebiasaan membaca yang dimulai dari lingkungan keluarga akan memperkuat fondasi literasi anak-anak. Ini adalah bagian integral dari gerakan Literasi Maluku yang berkelanjutan dan menyeluruh.
Ketiga, Pemprov Maluku akan menjalin kemitraan strategis dengan berbagai pihak untuk memperkuat ekosistem literasi. Kemitraan ini mencakup swasta, lembaga donor, dan perguruan tinggi untuk memperkuat gerakan literasi berbasis komunitas. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan dan dampak positif program literasi.
Gubernur Lewerissa menegaskan bahwa setiap SMA, SMK, atau SLB di Maluku harus segera memiliki perpustakaan yang berfungsi. Menurutnya, literasi bukan sekadar soal membaca, tetapi merupakan jalan untuk mengangkat harkat hidup masyarakat kepulauan. Peningkatan Literasi Maluku adalah prioritas utama untuk kemajuan daerah.
Kolaborasi dengan Jakarta sebagai Inspirasi
Selain upaya internal, Gubernur Maluku juga menjalin kolaborasi erat dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jakarta dipandang sebagai contoh kota dengan fasilitas literasi modern yang dapat menjadi inspirasi berharga bagi daerah lain. Maluku ingin belajar banyak dari pengalaman dan infrastruktur yang dimiliki ibu kota.
“Kami harus belajar dari Jakarta, bukan hanya pengetahuan dan pengalaman, tetapi kalau bisa juga fasilitas,” ujar Gubernur Lewerissa. Pernyataan ini menunjukkan keinginan kuat Maluku untuk mengadopsi praktik terbaik dalam pengembangan literasi. Kolaborasi ini diharapkan mempercepat peningkatan Literasi Maluku.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyambut baik ajakan kolaborasi tersebut dengan antusias. Ia menekankan bahwa kerja sama literasi antar daerah lebih dari sekadar berbagi buku. Ini adalah kesempatan untuk berbagi pengalaman, gagasan, dan mimpi demi membangun generasi yang lebih cerdas dan berdaya saing.
“Dengan literasi, seseorang bisa memberi arah pada hidupnya dan berkontribusi bagi masyarakat,” kata Rano Karno. Ia menegaskan kesiapan Pemprov DKI Jakarta untuk menjalin kolaborasi. Kerja sama ini terbuka tidak hanya dengan Maluku, tetapi juga dengan daerah lain di Indonesia yang memiliki visi serupa.
Sumber: AntaraNews