Erupsi Gunung Dukono di Maluku Utara Masih Berlanjut, Warga Diminta Waspada
Pos Pengamatan Gunung Api Dukono melaporkan aktivitas erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara masih berlangsung dengan semburan abu vulkanik tinggi, warga diimbau waspada dan patuhi rekomendasi keselamatan.
Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan. Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono melaporkan erupsi masih terjadi pada Jumat malam, 4 April 2026. Semburan abu vulkanik mencapai ketinggian 3.000 meter di atas puncak gunung, menimbulkan kekhawatiran bagi warga sekitar.
Petugas PGA, Bambang Sugiono, menjelaskan bahwa erupsi ini mengeluarkan kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal. Arah sebaran abu condong ke barat laut, mengikuti pergerakan angin yang dominan. Aktivitas vulkanik ini terekam jelas pada seismogram, menunjukkan intensitas yang berkelanjutan dan perlu diwaspadai.
Sebelumnya, pada Jumat sore, gunung ini juga mengalami erupsi dengan kolom abu yang lebih tinggi, mencapai sekitar 4.000 meter di atas puncak. Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat sekitar yang tinggal di kaki gunung. PGA Dukono terus memantau perkembangan aktivitas gunung berapi ini secara ketat demi keselamatan publik.
Detail Erupsi dan Rekaman Seismik Gunung Dukono
Aktivitas erupsi Gunung Dukono terus berlanjut hingga Jumat malam sekitar pukul 22:18 WIT. Kolom abu teramati setinggi 3.000 meter di atas puncak, menunjukkan intensitas letusan yang signifikan. Warna abu yang kelabu tebal mengindikasikan material vulkanik yang dikeluarkan cukup banyak, berpotensi mengganggu visibilitas dan kualitas udara.
Erupsi ini terekam pada seismogram dengan amplitudo 14 mm dan durasi mencapai 158,21 detik. Data seismik ini memberikan gambaran jelas mengenai kekuatan dan durasi letusan yang terjadi. Pemantauan seismik menjadi kunci dalam memahami pola aktivitas vulkanik Gunung Dukono dan memprediksi potensi letusan lebih lanjut.
Secara keseluruhan, teramati 77 kali letusan dengan ketinggian kolom abu bervariasi dalam periode tertentu. Ketinggian abu berkisar antara 1.500 hingga 4.000 meter di atas puncak gunung. Fluktuasi ketinggian kolom abu menunjukkan dinamika aktivitas vulkanik yang perlu diwaspadai terus-menerus oleh pihak berwenang dan masyarakat.
Arah sebaran abu vulkanik condong ke wilayah barat laut, dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin. Informasi ini krusial bagi masyarakat dan pihak berwenang untuk mengantisipasi dampak sebaran abu. Kecepatan angin dapat mengubah area landaan abu sewaktu-waktu, sehingga pembaruan informasi sangat diperlukan.
Status Waspada dan Imbauan Keselamatan untuk Masyarakat
Saat ini, Gunung Dukono berada pada status Level II atau Waspada, menandakan adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang perlu direspons serius. Status ini mengharuskan masyarakat dan wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaan serta mematuhi semua arahan dari pihak berwenang. Pemerintah daerah dan instansi terkait terus berkoordinasi.
Masyarakat di sekitar Gunung Dukono serta pengunjung atau wisatawan diingatkan untuk tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari kawah Malupang Warirang. Larangan ini diberlakukan untuk mencegah potensi bahaya akibat letusan dan lontaran material vulkanik yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Zona bahaya ini ditetapkan berdasarkan analisis risiko yang cermat.
Mengingat letusan abu vulkanik terjadi secara periodik dan sebaran abu mengikuti arah angin, masyarakat diimbau untuk selalu menyediakan masker. Penggunaan masker sangat penting untuk melindungi sistem pernapasan dari paparan abu vulkanik yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Ketersediaan masker menjadi prioritas di daerah terdampak.
Kewaspadaan terhadap arah dan kecepatan angin juga menjadi faktor penting karena dapat mempengaruhi area landaan abu. Informasi terkini dari PGA Dukono harus selalu menjadi acuan bagi masyarakat untuk mengambil tindakan pencegahan. Kesiapan menghadapi erupsi adalah kunci untuk meminimalkan risiko dan menjaga keselamatan warga.
Sumber: AntaraNews