Dinkes Semarang Temukan 800 Kasus HIV Sepanjang Januari hingga Mei 2026
Dari hasil kegiatan peserta yang mengikuti skrining tidak hanya berasal dari Kota Semarang, tetapi juga dari berbagai daerah di luar kota.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Jawa Tengah, mencatat sekitar 800 kasus HIV/AIDS ditemukan sepanjang periode Januari hingga Mei 2026.
Dari hasil kegiatan peserta yang mengikuti skrining tidak hanya berasal dari Kota Semarang, tetapi juga dari berbagai daerah di luar kota.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, mengatakan tingginya partisipasi masyarakat dari luar daerah menunjukkan bahwa layanan kesehatan di Kota Semarang dinilai mudah diakses, nyaman, dan dipercaya masyarakat.
"Sekitar 800-an temuan kasus HIV/AIDS. Dari hasil skrining itu, tidak semuanya berasal dari Kota Semarang," kata Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam di kantornya, Kamis (4/6).
Data tersebut tidak seluruh temuan kasus tersebut berasal dari warga Kota Semarang. Bahkan, sekitar 50 persen di antaranya merupakan masyarakat dari luar daerah.
“Banyak juga yang datang dari luar kota. Mungkin mereka melihat pelayanan di Kota Semarang cukup baik dan nyaman sehingga memilih memanfaatkan layanan di sini," ungkapnya.
Peningkatan jumlah kasus tersebut disebabkan semakin masifnya pelaksanaan skrining bagi kelompok berisiko yang difasilitasi pemerintah.
Di antaranya upaya yang dilakukan dengan membuka layanan skrining HIV hingga malam hari di sejumlah puskesmas melalui program LIDYA DIMARI (Layanan Tes HIV dan Layanan ARV di Malam Hari).
"Jadi, dari kelompok risiko kita fasilitasi untuk melakukan skrining pada malam hari. Ada beberapa puskesmas di wilayah dengan kelompok risiko cukup tinggi seperti di Poncol, Pandanaran, Srondol, dan Sekaran," jelasnya.
Stigma ODHIV
Dinas Kesehatan Kota Semarang juga mengimbau masyarakat agar tidak memberikan stigma maupun diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV).
Hakam menegaskan bahwa HIV tidak menular melalui kontak sosial sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, berbagi peralatan makan, bekerja bersama, maupun aktivitas sosial lainnya.
ODHIV tetap dapat hidup sehat, produktif, dan beraktivitas normal selama menjalani pengobatan ARV secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan. Namun yang paling penting menghilangkan stigma membuat teman-teman ODHIV merasa takut, menarik diri, dan menjauh dari lingkungan sosial.
"Karena itu, kita harus memberikan dukungan kepada mereka. Dari sisi Pemerintah Kota Semarang, dukungan itu diwujudkan melalui layanan yang nyaman untuk skrining, berobat, dan kontrol rutin agar mereka tetap dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Selain itu, yang juga perlu diperhatikan adalah perubahan gaya hidup. Jangan sampai sudah rutin minum obat, tetapi gaya hidupnya tidak diperbaiki," pungkasnya.