BPBD Magetan Tetapkan Poncol sebagai Wilayah Paling Rawan Longsor Akibat Cuaca Ekstrem
BPBD Magetan memetakan Kecamatan Poncol sebagai wilayah paling rawan longsor di tengah cuaca ekstrem, dengan insiden bencana tertinggi pada tahun 2025 yang mendorong pemasangan sistem peringatan dini.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan, Jawa Timur, telah menetapkan Kecamatan Poncol sebagai area paling rentan terhadap tanah longsor. Penetapan ini didasarkan pada data kejadian bencana alam yang signifikan selama periode cuaca ekstrem. Kondisi geografis dan curah hujan tinggi menjadi faktor utama pemicu kerawanan di wilayah tersebut.
Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Magetan, Suparman, menjelaskan bahwa dari total 238 kejadian bencana alam sepanjang tahun 2025, Kecamatan Poncol menyumbang jumlah tertinggi. Sebanyak 62 insiden bencana tercatat terjadi di Poncol, menjadikannya fokus utama mitigasi bencana. Data ini menunjukkan urgensi penanganan dan peningkatan kewaspadaan di area tersebut.
Melihat tingginya potensi bencana, BPBD Magetan telah mengambil langkah proaktif untuk melindungi masyarakat. Pemasangan alat sistem peringatan dini (EWS) tanah longsor menjadi salah satu upaya mitigasi. Alat ini diharapkan dapat memberikan informasi awal kepada warga jika terjadi pergerakan tanah yang berpotensi menimbulkan longsor, sehingga evakuasi dapat dilakukan lebih cepat.
Kewaspadaan Longsor di Poncol Ditingkatkan dengan EWS
Kecamatan Poncol, yang memiliki topografi berbukit, menjadi prioritas utama BPBD Magetan dalam upaya mitigasi bencana tanah longsor. Data tahun 2025 menunjukkan bahwa wilayah ini paling sering dilanda bencana alam, terutama tanah longsor, dibandingkan kecamatan lain di Magetan. Curah hujan yang tinggi selama musim penghujan semakin memperparah risiko bencana di area ini.
Untuk mengantisipasi potensi longsor, BPBD Magetan telah memasang dua unit alat early warning system (EWS) tanah longsor. Alat-alat ini ditempatkan di lokasi strategis, yaitu di Desa Gonggang dan Desa Cileng. Keberadaan EWS ini sangat krusial untuk deteksi dini dan memberikan waktu yang cukup bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri atau melakukan evakuasi.
Pemasangan EWS merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah daerah dalam mengurangi risiko bencana. Masyarakat di sekitar lokasi EWS juga terus diberikan edukasi mengenai pentingnya memahami sinyal peringatan. Kesiapsiagaan warga menjadi kunci dalam menghadapi ancaman bencana alam yang tidak terduga.
Peta Kerawanan Bencana Magetan dan Dampaknya
Selain Kecamatan Poncol, BPBD Magetan juga memetakan beberapa wilayah lain yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi. Kecamatan Plaosan menempati posisi kedua dengan 39 kejadian bencana alam selama tahun 2025, meliputi pohon tumbang dan tanah longsor. Bahkan, pada awal tahun 2026, Plaosan telah mencatat lebih dari empat insiden pohon tumbang dan longsor di lereng Gunung Lawu.
Wilayah lain yang juga sering dilanda bencana adalah Kecamatan Ngariboyo dengan 25 kejadian, Kecamatan Magetan (kota) 21 kejadian, dan Kecamatan Maospati 13 kejadian. Berbagai jenis bencana ini menunjukkan bahwa Kabupaten Magetan secara keseluruhan memiliki kerentanan terhadap dampak cuaca ekstrem. Pemerintah daerah terus berupaya memantau dan mengambil tindakan preventif di seluruh wilayah.
Secara keseluruhan, dari 238 bencana yang terjadi di Magetan pada tahun 2025, 107 di antaranya disebabkan oleh cuaca ekstrem berupa angin kencang. Tanah longsor tercatat sebanyak 99 kejadian, sementara evakuasi pencarian dan pertolongan hewan sebanyak 17 kejadian. Banjir luapan terjadi tujuh kali, evakuasi pencarian dan pertolongan manusia tujuh kali, dan satu insiden kebakaran.
Dampak dari ratusan bencana ini tidak hanya kerugian material, tetapi juga korban jiwa. Tercatat dua korban meninggal dunia dan empat korban luka-luka akibat bencana alam tersebut. Selain itu, sebanyak 98 pohon tumbang juga menjadi salah satu dampak signifikan yang mengganggu aktivitas dan infrastruktur di Magetan.
Imbauan BMKG Terkait Prediksi Cuaca Ekstrem di Magetan
Prakirawan Meteorologi dan Geofisika Madya Stasiun Geofisika Nganjuk, Setiyaris, menyatakan bahwa kondisi cuaca di wilayah eks-Keresidenan Madiun, termasuk Magetan, terpantau tidak menentu. Pola cuaca yang tidak stabil ini meningkatkan potensi terjadinya bencana alam. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap perubahan cuaca yang cepat dan ekstrem.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa potensi hujan di Madiun, Magetan, dan sekitarnya masih akan berlangsung hingga bulan Februari mendatang. Oleh karena itu, masyarakat sangat dianjurkan untuk terus memantau informasi dan peringatan dini cuaca yang dikeluarkan secara resmi oleh BMKG. Informasi ini penting sebagai panduan dalam mengambil langkah pencegahan.
Selain memantau informasi, BMKG juga meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan bencana. Wilayah yang berisiko tinggi terhadap banjir, tanah longsor, dan banjir bandang harus lebih siaga. Kesiapsiagaan individu dan komunitas sangat penting untuk meminimalkan dampak buruk dari bencana alam.
Sumber: AntaraNews