BMKG Catat 166 Kali Gempa Susulan Sumenep, Waspada Potensi Kerusakan!
BMKG melaporkan 166 kali Gempa Susulan Sumenep terjadi sejak 30 September hingga 2 Oktober, mengingatkan warga untuk tetap waspada. Apa penyebab dan dampaknya?
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat fenomena Gempa Susulan Sumenep yang signifikan, mencapai 166 kali dalam kurun waktu tiga hari. Kejadian ini berlangsung sejak gempa utama pada 30 September hingga 2 Oktober 2024.
Direktur Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengonfirmasi data tersebut pada Kamis, 2 Oktober. Ia menjelaskan bahwa magnitudo gempa susulan bervariasi antara 4,4 hingga 1,1.
Gempa susulan ini merupakan dampak dari aktivitas sesar aktif di dasar laut Sumenep, Jawa Timur. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan tidak panik menghadapi situasi ini.
Intensitas dan Penyebab Gempa Susulan
BMKG merinci bahwa dari total 166 kali Gempa Susulan Sumenep, sebanyak 77 kejadian tercatat pada malam hari. Sisanya terjadi pada pagi dan siang hari, menunjukkan frekuensi yang cukup tinggi. Fluktuasi magnitudo gempa susulan ini perlu menjadi perhatian serius bagi warga setempat.
Daryono menjelaskan bahwa gempa di Sumenep ini tergolong jenis tektonik kerak dangkal. Fenomena ini disebabkan oleh aktivitas sesar aktif yang berada di dasar laut wilayah tersebut. Ini mengindikasikan pergerakan lempeng yang terus berlangsung di bawah permukaan.
Sumber gempa susulan ini berasosiasi dengan perpanjangan sesar offshore Zona Kendeng. Sesar ini juga dikenal sebagai Madura Strait Back Arc Thrust, dengan mekanisme pergerakan naik. Identifikasi sumber ini penting untuk pemahaman risiko geologi di kawasan tersebut.
Imbauan Kewaspadaan dan Penanganan Dampak
Menanggapi Gempa Susulan Sumenep yang terus terjadi, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan tidak panik. Penting untuk menghindari tinggal di bangunan yang sudah retak atau berpotensi roboh. Keselamatan diri dan keluarga harus menjadi prioritas utama.
Tim petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep bersama TNI/Polri telah bergerak cepat. Mereka turun ke lokasi untuk melakukan kaji cepat dan menyalurkan bantuan tanggap darurat kepada para korban. Upaya ini bertujuan memitigasi dampak lebih lanjut dari gempa.
Berdasarkan laporan yang diterima, proses pendataan dan pemantauan lapangan masih terus berlangsung. BMKG secara aktif memantau perkembangan Gempa Susulan Sumenep, karena potensi kejadian lanjutan masih memungkinkan. Koordinasi antarlembaga sangat krusial dalam penanganan bencana ini.
Kronologi Gempa Utama di Sumenep
Gempa utama yang memicu serangkaian Gempa Susulan Sumenep terjadi pada Selasa, 30 September malam. Gempa berkekuatan magnitudo 6,5 ini mengguncang wilayah Kabupaten Sumenep sekitar pukul 23.49 WIB. Kejadian ini mengejutkan banyak warga di tengah malam.
Pusat gempa utama berada pada koordinat 7.25 lintang selatan dan 114.22 bujur timur. Episenter gempa terletak di laut, sekitar 50 kilometer tenggara Sumenep. Kedalaman gempa tercatat 11 kilometer, menjadikannya gempa dangkal yang berpotensi merusak.
Dampak gempa tektonik ini tidak hanya dirasakan di Sumenep. Tiga kabupaten lain di Pulau Madura, yaitu Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan, juga merasakan guncangan. Ini menunjukkan cakupan area yang terdampak cukup luas dari gempa awal.
Sumber: AntaraNews