Banjir Rendam 85 Persen Lahan Pertanian di Tegalluar Bandung, Petani Gagal Panen
Tidak hanya merendam ruas jalan dan rumah warga, genangan air juga meluas hingga area pertanian dan menyebabkan petani mengalami gagal panen.
Banjir yang menerjang Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, belum juga surut sejak Sabtu (11/4). Tidak hanya merendam ruas jalan dan rumah warga, genangan air juga meluas hingga area pertanian dan menyebabkan petani mengalami gagal panen.
Dari total sekitar 500 hektare lahan pertanian di desa tersebut, sekitar 85 persen di antaranya terendam banjir.
"Itu (lahan pertanian) kurang lebih 85 persen lahan pertanian kita terendam," kata Kepala Desa Tegalluar, Galih Hendrawan, saat ditemui di Kantor Desa Tegalluar pada Rabu (15/4).
Petani Terancam Gagal Panen
Galih mengatakan, luasnya area persawahan yang terdampak membuat para petani dipastikan mengalami kerugian besar akibat gagal panen. Selain sektor pertanian, banjir juga merendam ribuan rumah warga di sejumlah wilayah desa.
Secara keseluruhan, tercatat lebih dari 4.075 rumah warga terendam air. Menurut Galih, kondisi tersebut sangat memprihatinkan karena sebagian besar wilayah desa ikut terdampak.
"Memprihatinkan, hampir kurang lebih sekitar wilayah Desa Tegalluar itu 75 persen ya terdampak banjir, terendam gitu. Hampir sekitar 75 persen," ujar dia.
Banjir Dipicu Luapan Tiga Sungai
Galih menjelaskan, banjir yang terjadi di wilayahnya disebabkan meluapnya sejumlah aliran sungai, yakni Sungai Cikeruh, Sungai Citarik, dan Sungai Citarum.
Luapan tersebut, kata dia, dipicu oleh kiriman air dari sejumlah wilayah di sekitar Bandung Raya, seperti Sumedang, Jatinangor, Rancaekek, Ujungberung, hingga Gedebage. Dengan demikian, banjir di Tegalluar tidak hanya disebabkan oleh curah hujan lokal.
"Desa Tegalluar ini kebanyakan bukan saja dari hasil air hujan yang ada di Desa Tegalluar, tapi ini air yang datang atau kiriman dari baik Kota Madya, gitu ya, baik dari Sumedang, Jatinangor, termasuk Rancaekek," ungkap dia.
Soroti Kerusakan Kawasan Hulu
Galih menilai penanganan banjir memerlukan koordinasi lintas wilayah di kawasan Bandung Raya agar solusi yang diambil lebih menyeluruh. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah perubahan fungsi kawasan hulu sungai yang dinilai memperburuk daya serap air.
Menurut dia, sejumlah kawasan hutan lindung di wilayah hulu kini telah banyak berubah menjadi lahan pertanian sayuran.
"Bahwa di hulu itu sudah banyak yang berubah dari hutan ke sayuran. Tentunya serapan air di hulu itu pasti itu langsung secara langsung ke dataran yang lebih rendah," jelas dia.
Normalisasi Sungai Dinilai Membantu
Sejauh ini, pemerintah desa bersama pihak terkait telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dampak banjir. Salah satunya melalui normalisasi Sungai Cipamokolan Lama.
Galih menyebut langkah tersebut cukup membantu mempercepat aliran air sehingga debit banjir lebih cepat turun.
"Alhamdulillah kita sudah melaksanakan secara pentahelix, terutama oleh Pemerintah Kabupaten Bandung itu sudah melaksanakan normalisasi dan Alhamdulillah itu sangat bermanfaat untuk aliran air gitu," ujar dia.
Minta Pemprov Bangun Saluran Air
Selain normalisasi sungai, pihak desa juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk pembangunan saluran air di sepanjang ruas jalan di Desa Tegalluar.
Menurut Galih, pembangunan drainase di jalur tersebut sangat penting untuk mempercepat surutnya genangan. Ia berharap permohonan tersebut segera direalisasikan oleh Pemprov Jabar.
"Karena jalan di sini di Desa Tegalluar adalah jalan Provinsi Jawa Barat gitu ya, saya berharap bahwa di sepanjang jalan Provinsi Jawa Barat saya memohon ke Pak Gubernur gitu ya untuk dilakukannya pembangunan saluran di wilayah sepanjang jalan Desa Tegalluar," ungkap dia.