Anak Harimau Sumatera Terjerat Jerat Babi di Agam, BKSDA Lakukan Evakuasi
Seekor anak harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) ditemukan terjerat jerat babi di Koto Tabang, Agam, Sumatera Barat. Tim BKSDA segera bergerak untuk mengevakuasi anak harimau sumatera yang diperkirakan berusia satu tahun ini.
Seekor anak harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) ditemukan terjerat jerat babi milik masyarakat di Koto Tabang, Nagari Koto Tabang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu, 22 November, dan segera dilaporkan kepada pihak berwenang untuk penanganan lebih lanjut.
Penemuan mengejutkan ini pertama kali diketahui oleh Eriyanto (39), pemilik lahan yang sedang menuju ke kebunnya sekitar pukul 13.30 WIB. Setelah melihat kondisi anak harimau yang malang tersebut, Eriyanto tanpa menunda langsung melaporkan kejadian ini kepada Wali Jorong Batu Gadang, Firman Hidayah.
Laporan cepat dari masyarakat menjadi kunci dalam upaya penyelamatan satwa dilindungi ini. Pihak Wali Jorong kemudian meneruskan informasi penting tersebut kepada Resor Konservasi Wilayah II Maninjau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat, memulai serangkaian tindakan darurat.
Penemuan dan Respons Cepat Tim Gabungan
Wali Jorong Batu Gadang, Firman Hidayah, menjelaskan bahwa laporan mengenai anak harimau sumatera yang terjerat itu diterima dari Eriyanto, seorang warga yang kebetulan melintas di kebunnya. “Eriyanto melihat anak harimau terjerat saat hendak ke kebun sekitar pukul 13.30 WIB dan langsung melaporkan ke saya,” kata Firman.
Menanggapi laporan tersebut, Firman Hidayah segera mengambil tindakan cepat dengan menghubungi pihak Resor Konservasi Wilayah II Maninjau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar. Koordinasi yang efektif ini memastikan bahwa informasi penting sampai ke tangan yang tepat untuk penanganan satwa dilindungi.
Ade Putra dari Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar membenarkan bahwa tim gabungan langsung bergerak ke lokasi setelah menerima laporan. Tim tersebut terdiri dari petugas BKSDA Sumbar, Polsek Palupuh, Koramil 12 Palupuh, Tim Patroli Anak Nagari (Pagari), dan Mahasiswa Kehutanan Universitas Riau, menunjukkan komitmen berbagai pihak dalam upaya penyelamatan ini.
Proses Evakuasi dan Kondisi Anak Harimau
Anak harimau sumatera yang terjerat tersebut diperkirakan berusia sekitar satu tahun dan mengalami luka pada bagian kaki depan kanan akibat jerat babi hutan. Jerat tersebut dipasang di kebun masyarakat setempat, yang seringkali menjadi ancaman serius bagi satwa liar yang melintas.
Tim di lapangan saat ini sedang menunggu kedatangan tim medis dari Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMBK) Kota Bukittinggi untuk melakukan evakuasi. “Kita masih menunggu tim medis untuk evaluasi satwa dilindungi itu,” ujar Ade Putra, menekankan pentingnya penanganan profesional untuk kondisi anak harimau.
Rencananya, setelah berhasil dievakuasi, anak harimau sumatera tersebut akan langsung dibawa ke TMBK Kota Bukittinggi. Di sana, satwa langka ini akan menjalani observasi dan perawatan intensif untuk memastikan pemulihan kesehatannya sebelum langkah selanjutnya ditentukan.
Konflik Satwa dan Lokasi Penemuan
Lokasi penemuan anak harimau terjerat ini tidak jauh dari kawasan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebuah area yang sebelumnya pernah menjadi saksi konflik satwa liar. Anak harimau ini sendiri sebelumnya sempat terlibat konflik di daerah tersebut, menunjukkan adanya interaksi yang intens antara satwa liar dan aktivitas manusia.
Kejadian ini menggarisbawahi pentingnya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya pemasangan jerat, terutama di area yang berpotensi menjadi jalur perlintasan satwa dilindungi. Konflik antara manusia dan satwa liar seringkali berujung pada kerugian bagi kedua belah pihak.
Pihak BKSDA dan lembaga terkait terus berupaya mencari solusi jangka panjang untuk mengurangi insiden serupa. Perlindungan habitat harimau sumatera dan peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian populasi satwa yang terancam punah ini.
Sumber: AntaraNews