Aktivitas Kegempaan Gunung Soputan Didominasi Gempa Tektonik Jauh, Status Waspada
Gunung Soputan di Minahasa Tenggara menunjukkan dominasi gempa tektonik jauh sepanjang awal April 2026. Simak hasil evaluasi dan rekomendasi terkini terkait kegempaan Gunung Soputan.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa aktivitas kegempaan Gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, didominasi oleh gempa tektonik jauh selama periode 1-15 April 2026. Data ini dirilis pada Minggu, 26 April 2026, sebagai bagian dari evaluasi rutin kondisi gunung api tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan bahwa tercatat 1.020 kali gempa tektonik jauh. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan jenis gempa lainnya yang terekam.
Peningkatan signifikan ini terjadi pasca-gempa berkekuatan magnitudo 7,6 di Maluku Utara pada 2 April 2026. Meskipun demikian, kondisi ini tidak menunjukkan migrasi magma ke permukaan.
Dominasi Gempa Tektonik Jauh di Gunung Soputan
Dalam laporan evaluasi yang diterima di Manado, Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, merinci jenis-jenis kegempaan yang terekam. Selama dua minggu pertama April 2026, tercatat 36 kali gempa vulkanik dangkal dan satu kali gempa vulkanik dalam. Selain itu, empat kali gempa tektonik lokal juga teridentifikasi di sekitar Gunung Soputan.
Namun, yang paling menonjol adalah dominasi gempa tektonik jauh yang mencapai 1.020 kali. Angka ini menunjukkan peningkatan aktivitas kegempaan yang relatif tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan ini terutama terjadi setelah gempa magnitudo 7,6 di Maluku Utara pada 2 April 2026.
Meskipun aktivitas kegempaan Gunung Soputan meningkat, pengamatan visual tidak menunjukkan adanya guguran. Tinggi asap kawah juga teramati maksimum 50 meter dari puncak. Secara instrumental, kondisi ini tidak diikuti oleh migrasi magma ke permukaan.
Deformasi pada tubuh Gunung Soputan juga tidak menunjukkan perubahan signifikan. Artinya, tidak ada tekanan berarti di bawah gunung yang mengindikasikan erupsi dalam waktu dekat.
Potensi Bahaya dan Status Waspada Gunung Soputan
Meskipun tidak ada migrasi magma, masyarakat tetap perlu mewaspadai potensi bahaya aktivitas Gunung Soputan. Bahaya utama yang perlu diwaspadai adalah lontaran serta aliran atau guguran lava maupun piroklastik. Hal ini seiring dengan masih tingginya frekuensi gempa tektonik yang tercatat pada periode ini.
Selain itu, jika terjadi erupsi, potensi bahaya sekunder berupa lahar juga dapat mengancam. Lahar berpotensi terjadi di sepanjang sungai atau lembah yang berhulu di Gunung Soputan. Kewaspadaan ini sangat penting, terutama saat musim hujan, di mana volume air sungai cenderung meningkat.
Berdasarkan analisis dan evaluasi menyeluruh hingga 15 April 2026, tingkat aktivitas Gunung Soputan ditetapkan pada Level II atau Waspada. Rekomendasi yang diberikan telah disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini.
Rekomendasi Kewaspadaan bagi Masyarakat Sekitar
Masyarakat diimbau untuk mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh pihak berwenang. Pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak diperkenankan beraktivitas di dalam radius 1,5 kilometer dari puncak Gunung Soputan. Area sektoral sejauh 2,5 kilometer dari puncak ke arah lereng barat hingga barat laut juga harus dihindari.
Bagi masyarakat yang bermukim atau beraktivitas di sekitar Gunung Soputan, disarankan untuk senantiasa menyiapkan masker penutup hidung dan mulut. Persiapan ini bertujuan untuk mengantisipasi potensi hujan abu jika sewaktu-waktu terjadi erupsi.
Selain itu, penduduk yang tinggal atau beraktivitas di sekitar bantaran sungai yang berhulu di lereng Gunung Soputan diminta mewaspadai ancaman lahar. Beberapa sungai yang perlu diwaspadai antara lain Sungai Ranowangko, Sungai Lawian, Sungai Popang, dan Londola Kelewahu.
Sumber: AntaraNews