2 Peserta Ajang Siksorogo Lawu Ultra Meninggal Dunia, Salah Satunya Serangan Jantung
General check up tidak dapat mendeteksi seluruh penyakit dalam. Pemeriksaan hanya menunjukkan kondisi awal seperti tekanan darah, tensi, dan suhu tubuh.
Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah mengungkap dua peserta meninggal dunia saat ikuti ajang Siksorogo Lawu Ultra (SLU) di kawasan lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah pada Minggu (7/12) punya riwayat penyakit dalam.
Kepala Disporapar Jateng Muhamad Masrofi, mengatakan kedua korban Sigit Joko Purnomo (45) pegawai Kabiro Hukum Kemenpar, dan Pujo Buntoro (55) pegawai Kemenag Solo yang juga suami Kabag Perekonomian Setda Karanganyar, Asih Srihandayani.
"Pejabat Kementerian Pariwisata itu meninggal akibat serangan jantung dan peserta satunya mengalami asma. Yang jadi kesalahan, mereka tidak menyampaikan bahwa punya penyakit bawaan," kata Masrofi, Selasa (9/12).
Dia menyebut pemeriksaan kesehatan atau general check up tidak dapat mendeteksi seluruh penyakit dalam. Pemeriksaan hanya menunjukkan kondisi awal seperti tekanan darah, tensi, dan suhu tubuh.
"Kalau pas ditanya punya penyakit bawaan tidak dan jawab iya apalagi jantung. Jika punya penyakit bawaan pasti tak boleh ikut,” ungkapnya.
Bantah Lambat Penanganan
Pihaknya membantah lambatnya penanganan hingga menyebabkan peserta meninggal dunia. Bahkan saat peserta terjatuh di tepi tebing langsung ditolong peserta lainnya.
"Kebetulan sekali disitu ada dokter penyakit jantung dan langsung diberikan CPR (cardiopulmonary resuscitation) tapi alhasil sudah tidak bisa tertolong," jelasnya.
Penyelenggara SLU telah menjalankan standar operasional prosedur (SOP) dan respons cepat saat menangani kejadian di lokasi. Penyelenggara menyiagakan ambulans, melakukan mitigasi risiko, dan melibatkan ratusan relawan.
"Titik-titik tim medis dan water station sudah diinformasikan melalui media sosial," tuturnya.
Atas kejadian meninggalnya dua peserta Sigit Joko Purnomo (45) dan Pujo Buntoro (55) saat ikuti ajang Siksorogo Lawu Ultra (SLU) di kawasan lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah pada Minggu (7/12), pihaknya mengucapkan belasungkawa.
"Semoga keluarga diberi ketabahan. Kami ucapkan bela sungkawa dan telah silaturahmi. Pihak keluarga telah terima lapang dada,” jelasnya.
Peserta Harus Terbuka
Masrofi mengimbau seluruh peserta ajang lari, termasuk event seperti SLU, agar terbuka mengenai penyakit bawaan saat mendaftar kepada panitia. Pihaknya bersama event organizer (EO) telah menyertakan surat pernyataan terkait kesanggupan peserta mengikuti kegiatan.
"Di surat itu dinyatakan sehubungan mengikuti trail Siksorogo, harus menyatakan tidak sedang dalam larangan yang menguras fisik dan dalam kondisi sehat jasmani dan rohani. Maka yang kita tanggung ketika terjadi kecelakaan, jatuh atau cedera pasti diberi asuransi. Kalau punya penyakit bawaan, siapa yang tahu. Jadi, kita hanya memberi santunan,” ujarnya.
Pihaknya mengingatkan masyarakat dengan penyakit bawaan seperti jantung, hipertensi, dan penyakit paru agar tidak memaksakan diri mengikuti event marathon trail yang menempuh jarak hingga ratusan kilometer. Peserta juga diminta lebih berhati-hati dan jujur mengenai kondisi kesehatannya.
"Peserta harus ada keterbukaan informasi tentang kekuatan fisiknya seperti apa atau kelemahan fisik. Soalnya ini kejadian sudah dua kali. Kejadian pertama di Kebumen karena peserta meninggal karena juga yang tidak terbuka,” pungkasnya.