Utang Masyarakat di Paylater Perbankan Naik Jadi Rp22,7 Triliun
Dian menyebut untuk porsi kredit, Buy Now Pay Later atau BNPL perbankan tercatat sebesar 0,29 persen.
Penggunaan Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan masyarakat Indonesia pada Maret 2025 mengalami kenaikan menjadi Rp22,78 triliun. Jumlah ini meningkat sebanyak Rp800 miliar dari bulan sebelumnya Rp21,98 triliun.
"Pada Maret 2025 baki debat kredit BNPL sebagaimana dilaporkan dalam SLINK, tumbuh sebesar 32,18 persen year-on-year," kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae dalam konferensi pers RDKB, Jumat (9/5).
Dian menyebut untuk porsi kredit, Buy Now Pay Later atau BNPL perbankan tercatat sebesar 0,29 persen, namun terus mencatatkan pertumbuhan yang tinggi secara tahunan.
Peningkatan ini sejalan dengan jumlah pengguna sebanyak 24,56 juta orang, jika dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 23,66 juta rekening. Artinya rekening BNPL mengalami kenaikan sebesar 900 ribu rekening dalam sebulan.
Pertumbuhan Kredit Hingga Maret 2025
Sebagai informasi, OJK mencatat, hingga Maret 2025, pertumbuhan kredit perbankan secara tahunan mencapai 9,16 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp7.908,42 triliun. Hal itu disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB), Jumat (9/5).
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 13,36 persen yoy. Pertumbuhan tersebut diikuti oleh kredit konsumsi yang tumbuh sebesar 9,32 persen yoy, sementara kredit modal kerja tercatat tumbuh sebesar 6,51 persen yoy.
"Ditinjau dari kepemilikan, Bank BUMN menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit yaitu sebesar 9,54 persen year-on-year," ujar Dian.
Dari kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 13,52 persen, sementara kredit UMKM tumbuh sebesar 1,91 persen.