Trump Bantah Netanyahu, Tegaskan Kelaparan di Gaza Nyata, Bukan Bohongan
Sebelumnya Netanyahu menyatakan tidak ada kelaparan di Gaza.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada hari Minggu (27/7/2025), menolak tuduhan mengenai adanya kelaparan di Gaza. Ia menyatakan bahwa laporan-laporan mengenai isu tersebut adalah kebohongan yang jelas.
"Tidak ada upaya yang disengaja untuk membuat Gaza kelaparan dan tidak ada kelaparan di Gaza. Kami telah membuka akses bagi bantuan kemanusiaan selama perang berlangsung---kalau tidak, tidak akan ada lagi warga Gaza," ungkap Netanyahu dalam sebuah konferensi pers di Yerusalem yang disiarkan oleh Daystar TV, seperti dilaporkan oleh AP.
Pernyataan Netanyahu tersebut ternyata bertentangan dengan pandangan sekutunya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Trump pada hari Senin (28/7) menyatakan, "Kalau lihat dari tayangan di televisi, saya rasa tidak begitu karena anak-anak itu terlihat sangat kelaparan. Tapi kami sudah memberikan banyak uang dan makanan dan sekarang negara-negara lain juga mulai ikut turun tangan," sebagai tanggapannya terhadap pernyataan Netanyahu, seperti dikutip dari kantor berita NPR.
"Beberapa dari anak-anak itu --- itu benar-benar menunjukkan kelaparan yang nyata. Saya melihatnya sendiri dan itu tidak bisa dipalsukan. Jadi, kami akan semakin terlibat." Saat ditanya apa yang ingin dia sampaikan kepada Netanyahu dalam pertemuan mereka selanjutnya, Trump, seperti yang dilansir oleh The Guardian, menegaskan, "Saya ingin dia memastikan mereka menerima (bantuan) makanan tersebut. Saya ingin memastikan setiap ons makanan sampai kepada mereka."
63 Kematian
AFP afp
Trump memberikan pernyataan tersebut saat berada di Skotlandia, di mana ia bertemu dengan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. Isu Gaza menjadi salah satu topik yang dibahas oleh keduanya. Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Minggu melaporkan bahwa selama bulan ini, telah terjadi 63 kematian terkait malnutrisi di Gaza, termasuk 24 anak di bawah usia lima tahun, yang menunjukkan peningkatan drastis dibandingkan dengan 11 kematian yang tercatat selama enam bulan pertama tahun ini. Sementara itu, otoritas kesehatan Gaza melaporkan angka kematian yang lebih tinggi, yaitu 82 kasus akibat malnutrisi sepanjang bulan ini, terdiri dari 24 anak-anak dan 58 orang dewasa. Pada hari Senin, mereka menginformasikan adanya 14 kematian baru yang tercatat dalam 24 jam terakhir.
PBB, seperti yang disampaikan oleh AP, mengungkapkan bahwa distribusi bantuan yang diizinkan untuk masuk ke Gaza semakin mengalami kesulitan. Ketika bantuan tiba, biasanya hanya bisa diturunkan di area dekat perbatasan Gaza. Setelah itu, PBB perlu mendapatkan izin dari militer Israel agar truk-truk mereka dapat mengambil bantuan tersebut. Namun, dalam tiga bulan terakhir, PBB mencatat bahwa lebih dari setengah dari permintaan pergerakan truk mereka ditolak atau dihambat oleh pihak militer Israel.
Meskipun PBB berhasil mengambil bantuan, konvoi mereka sering kali diserang oleh kerumunan warga yang kelaparan dan kelompok bersenjata yang langsung menjarah isi truk.PBB dan mitra-mitranya menegaskan bahwa cara paling efektif untuk mengirimkan makanan ke Gaza adalah melalui truk. Mereka telah berulang kali mendesak Israel untuk melonggarkan pembatasan yang diberlakukan terhadap truk-truk tersebut. Dalam satu perjalanan, sebuah truk biasanya dapat membawa sekitar 19 ton bantuan. Dengan demikian, pengiriman bantuan melalui truk menjadi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat di Gaza yang terus berjuang dalam kondisi sulit ini.
Kondisi Kemanusiaan Terkini di Jalur Gaza
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menunjukkan betapa parahnya krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. Lebih dari 147 orang, termasuk 88 anak-anak, telah meninggal dunia akibat kelaparan dan malnutrisi sejak konflik dimulai. Angka ini mencerminkan dampak langsung dari kekurangan pangan dan akses terbatas terhadap kebutuhan dasar. Situasi ini terus memburuk dari waktu ke waktu.
Kementerian juga melaporkan bahwa setidaknya 14 dari kematian tersebut terjadi hanya dalam 24 jam terakhir. Data ini menggarisbawahi urgensi penanganan krisis. Setiap hari, nyawa melayang karena kondisi yang seharusnya dapat dicegah. Komunitas internasional terus menyerukan peningkatan akses bantuan kemanusiaan. Tujuannya adalah untuk mencegah lebih banyak korban jiwa berjatuhan.
Kondisi ini bertolak belakang dengan klaim yang menyatakan tidak ada kelaparan di Gaza. Laporan-laporan dari lapangan dan data resmi menunjukkan realitas yang sangat berbeda. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan. Mereka menderita dampak paling parah dari blokade dan konflik berkepanjangan. Upaya bantuan mendesak diperlukan untuk menyelamatkan nyawa.