Tentara Israel Akhirnya Akui Bunuh Warga Palestina di Gaza Tanpa Pandang Usia, Meski Tak Bersenjata
Tentara dan penembak jitu Israel menargetkan pria, wanita, dan anak-anak Palestina sepanjang lebih dari dua tahun genosida.
Militer Israel memerintahkan pasukannya untuk membunuh setiap laki-laki yang mereka temui di Gaza, termasuk yang tidak bersenjata dan lanjut usia, selama genosida terhadap warga Palestina yang dimulai pada 2023. Demikian menurut laporan investigasi yang ditayangkan Channel 13 Israel pada 7 Mei.
“Seorang laki-laki, berapa pun usianya, jangan ambil risiko; bunuh segera,” kata seorang tentara mengenai perintah yang diterimanya dari komandan, seperti dilansir the Cradle, Senin (11/5).
“Mereka bahkan mengatakan kepada kami bahwa jika itu perempuan atau anak-anak, gunakan penilaian kalian sendiri, karena hal-hal bisa terjadi,” tambahnya, berbicara secara anonim.
Mengibarkan Bendera putih
Kesaksiannya diberikan kepada Iris Haim, ibu dari seorang tentara Israel yang ditawan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Yotam Haim tewas ditembak pasukan Israel di Gaza saat mencoba melarikan diri bersama dua sandera lainnya pada Desember 2023.
Ketiga sandera Israel itu bertelanjang dada dan mengibarkan bendera putih untuk menunjukkan bahwa mereka bukan ancaman.
Namun, tentara Israel tetap menembaki dan membunuh mereka, tampaknya karena mengira mereka adalah warga sipil Palestina.
Insiden itu menunjukkan bahwa pasukan Israel menerapkan kebijakan “tembak untuk membunuh” terhadap laki-laki Palestina, termasuk warga sipil yang tidak bersenjata.
Tewasnya Sandera Israel
Tentara anonim yang berbicara kepada Channel 13 mengungkapkan bahwa dirinya termasuk salah satu tentara yang menembak dan membunuh Yotam Haim serta dua sandera lainnya dalam insiden tersebut.
“Saya menembakkan 500 peluru per menit. Saya meledakkan berbagai hal. Saya tidak peduli. Saya di sini untuk membunuh teroris,” ujarnya, menggambarkan kondisi mentalnya selama bertugas di Gaza.
“Ada tiga teroris, saya akan membunuh mereka. Lalu saya menyadari dua sudah terbunuh, dan satu berhasil melarikan diri.”
Ibu Haim mengatakan bahwa para tentara pada dasarnya diperintahkan untuk “membunuh setiap orang yang berjalan dengan dua kaki.”
“Jika seorang teroris bergerak mendekati saya, saya mencoba membunuhnya. Saya tidak mencoba menangkapnya,” kata komandan brigade yang membunuh putranya kepadanya.
“Tentu saja, kita perlu membunuhnya – ya, bahkan jika dia benar-benar tidak bersenjata.”
Setiap Warga Palestina Dianggap Ancaman
Tentara lain mengatakan kepada Channel 13 bahwa pasukan diperintahkan untuk menganggap setiap warga Palestina sebagai ancaman.
“Bahkan seorang pria tua bisa meledakkan dirinya dengan bahan peledak. Protokolnya adalah menembak mereka,” katanya, seraya menambahkan bahwa “pernah ada situasi ketika seseorang keluar sambil membawa bendera putih dan langsung ditembak di tempat.”
Penembak jitu Israel di Gaza secara rutin menargetkan warga sipil Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, secara sengaja.
Kasus besar pertama yang menjadi sorotan media Barat adalah pembunuhan dua perempuan Kristen di Gereja Holy Family, Kota Gaza, pada 16 Desember 2023. Seorang ibu Katolik Palestina dan putrinya dibunuh oleh penembak jitu Israel saat berlindung di kompleks gereja, yang memicu kecaman dari Paus.
Pada Januari 2024, stasiun televisi Inggris ITV merekam momen ketika Ramzi Abu Sahloul (51 tahun) tertembak di dada, hanya beberapa saat setelah berbicara di siaran langsung. Sahloul adalah bagian dari kelompok warga sipil yang melarikan diri ke Rafah di Gaza selatan sambil membawa bendera putih atas perintah militer Israel.
Kesaksian Ahli Bedah Inggris
Seorang ahli bedah asal Inggris yang pergi ke Gaza sebagai relawan melaporkan bahwa penembak jitu Israel secara rutin menargetkan perempuan dan anak-anak Palestina.
“Jika melihat ke belakang, gambar anak-anak terluka adalah hal yang tidak akan pernah hilang dari ingatan saya. Suatu malam, saya mengoperasi Amer yang berusia tujuh tahun, yang ditembak oleh salah satu drone yang turun segera setelah pemboman untuk menembaki mereka yang melarikan diri, semuanya warga sipil,” kata ahli bedah Inggris Nizam Mamode kepada The Guardian setelah kembali ke London pada Februari 2025.
“Dia mengalami luka pada hati, limpa, dan ususnya, serta sebagian lambungnya keluar melalui dadanya. Saya sangat bersyukur melihat dia selamat. Tetapi kami melihat pasien seperti dia setiap hari, dan sebagian besar tidak seberuntung itu,” jelas Mamode.
Yang paling mengganggu adalah kasus-kasus ketika anak-anak terbunuh dengan “peluru di kepala, yang jelas merupakan hasil tembakan penembak jitu secara sengaja,” tambahnya.
Pasukan Israel telah membunuh lebih dari 72.700 warga Palestina di Gaza selama dua tahun genosida, sebagian besar di antaranya perempuan dan anak-anak. Ribuan lainnya masih hilang dan diyakini terkubur di bawah reruntuhan.
Puluhan ribu warga Palestina diperkirakan akan meninggal akibat dampak tidak langsung perang, termasuk karena kehancuran infrastruktur medis, air, dan listrik Gaza oleh Israel.