Surat Eks Tawanan Israel Ini Ungkap Kebaikan Hamas, Disiapkan Makanan Sampai Vitamin
Hamas telah membebaskan sejumlah tawanan sejak gencatan senjata berlaku mulai 19 Januari 2025.
Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, kembali membebaskan tawanan pada Sabtu (1/2) pagi, sebagai bentuk perjanjian gencatan senjata dengan penjajah Israel. Pada Sabtu, Hamas membebaskan warga Amerika-Israel, Keith Siegel.
Sebelum pembebasannya, Siegel menulis surat yang mengungkapkan kebaikan Hamas selama dia ditahan. Surat tersebut dipublikasikan sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam.
Dalam surat tersebut, Siegel mengucapkan terima kasih kepada para pejuang Brigade Al-Qassam yang telah menjaganya selama penahanan. Siegel ditahan di Gaza sejak 7 Oktober 2023, setelah Hamas melakukan operasi serangan Badai Al-Aqsa ke Israel.
"Para pejuang yang menjaga saya selama periode (penawanan) ini memastikan memenuhi semua kebutuhan saya, termasuk makanan, minuman, obat-obatan, vitamin, perawatan mata, monitor tekanan darah, dan keperluan lainnya," tulis Siegel, seperti dikutip dari The Cradle, Senin (3/2).
Jika dia sakit, lanjut Siegel, para pejuang Al-Qassam membawa dokter untuk memeriksanya. Para pejuang juga menanggapi permintaannya terkait masalah makanan yang tidak bisa dia makan.
"Mereka juga memastikan membawa makanan yang cocok dengan kondisi kesehatan saya, makanan vegetarian, tanpa minyak," ungkapnya.
Dia juga mengatakan para pejuang Hamas memperlakukannya dengan baik selama penahanan.
"Saya pikir pemerintah Israel tidak melakukan apa yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan untuk mengembalikan para tahanan dan mengakhiri perang, yang menyebabkan banyak korban dan kerugian tambahan bagi kedua belah pihak," tulisnya.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para pejuang (Hamas) yang telah mempertahankan hal ini selama periode ini," pungkasnya.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 19 Januari, salah satu isi perjanjian adalah pertukaran tawanan antara Hamas dan Israel. Israel melangsungkan perang genosida di Gaza selama sekitar 471 hari dan telah membunuh 61.000 warga Palestina di wilayah kantong tersebut, menurut data terbaru dari Kantor Media Pemerintah di Gaza.