Setiap Hari Ada 10 Anak Kehilangan Anggota Tubuh di Gaza
Sekitar 25 persen dari anak-anak itu mengalami disabilitas baru.
Sepuluh anak per hari kehilangan satu atau kedua kakinya di Gaza akibat serangan Israel terhadap wilayah kantong Palestina tersebut, demikian peringatan sebuah laporan pada hari Selasa.
Menurut pembaruan dari Global Protection Cluster, badan yang disponsori PBB, serangan Israel di Gaza telah “menghancurkan lingkungan perlindungan” bagi para penyandang disabilitas maupun mereka yang baru mengalami disabilitas di wilayah tersebut.
Laporan tersebut menyatakan sebanyak 134.105 orang, termasuk lebih dari 40.500 anak-anak, mengalami cedera terkait perang sejak konflik dimulai pada Oktober 2023.
Sekitar 25 persen di antaranya diperkirakan mengalami disabilitas baru yang memerlukan rehabilitasi intensif dan berkelanjutan.
Kerusakan pendengaran
“Tidak ada ruang aman di Gaza. Dua puluh bulan perang intens telah menghancurkan lingkungan perlindungan bagi penyandang disabilitas dan orang lanjut usia,” demikian bunyi laporan tersebut, seperti dilansir Middle East Eye, Selasa (16/7).
Lebih dari 35.000 orang diduga mengalami kerusakan pendengaran akibat ledakan. Setiap harinya, sepuluh anak kehilangan satu atau kedua kaki mereka.
Laporan tersebut juga mencatat satu-satunya pusat rekonstruksi dan rehabilitasi anggota tubuh di Gaza sudah tidak berfungsi sejak Desember 2023 karena kekurangan pasokan dan tenaga medis spesialis, serta mengalami kerusakan parah akibat serangan udara pada Februari 2024. Hal ini telah menghilangkan layanan vital yang menyelamatkan nyawa bagi anak-anak dan orang dewasa.
30 persen dari total korban luka
Kelompok hak asasi manusia dan LSM mengatakan bahwa perang di Gaza telah memberikan dampak yang menghancurkan bagi anak-anak di wilayah tersebut.
Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan dari 58.573 warga Palestina yang tewas sejak Oktober 2023, lebih dari 17.000 di antaranya adalah anak-anak, dan mereka menyumbang 30 persen dari total korban luka.
Rata-rata, 15 anak per hari mengalami disabilitas yang berpotensi mengubah hidup mereka, menurut kementerian tersebut.
Pada Desember lalu, PBB melaporkan Gaza kini memiliki jumlah amputasi anak tertinggi per kapita di dunia.
“Gaza kini memiliki jumlah amputasi anak tertinggi per kapita dibandingkan tempat mana pun di dunia – banyak dari mereka kehilangan anggota tubuh dan menjalani operasi tanpa bahkan menggunakan anestesi,” ujar Sekjen PBB António Guterres.
Pekan lalu, badan PBB untuk anak-anak, UNICEF, memperingatkan anak-anak yang mengalami malnutrisi akut sangat rentan dan memiliki kemungkinan sepuluh kali lebih besar untuk meninggal akibat penyebab sederhana.
Juru bicara James Elder mengatakan akses ke rumah sakit di Gaza tidak lagi aman bagi anak-anak yang sakit atau kekurangan gizi.
Secara terpisah pada hari Selasa, badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan satu dari sepuluh anak yang diperiksa di klinik kesehatan yang dikelola PBB di Gaza kini mengalami malnutrisi.
“Tim kesehatan kami mengonfirmasi tingkat malnutrisi meningkat di Gaza, terutama sejak [Israel] memperketat pengepungan lebih dari empat bulan lalu, tepatnya pada tanggal 2 Maret,” kata Direktur Komunikasi UNRWA, Juliette Touma, kepada wartawan di Jenewa melalui tautan video dari Amman.
Lembaga-lembaga bantuan berulang kali memperingatkan kelaparan mengancam beberapa bagian Gaza, khususnya di wilayah utara, di mana akses tetap sangat terbatas.