Investigasi Media Jerman: Orang Israel Otak di Balik Sindikat Perdagangan Organ Warga Palestina di Kenya
Laporan parlemen Eropa menyebut ISrael pemain utama perdagangan organ ilegal secara global.
Investigasi terbaru Der Spiegel (majalah berita Jerman) baru-baru ini mengungkap hubungan yang mengkhawatirkan antara warga Israel dan sindikat perdagangan organ ilegal yang beroperasi di Kenya.
Laporan tersebut mengungkap banyak warga Jerman yang membutuhkan transplantasi ginjal. Mereka datang ke Kenya untuk membeli organ dari warga miskin yang sering kali dieksploitasi oleh warga Israel.
Seperti dilansir Quds News Network, Senin (28/4), investigasi tersebut mengungkap Jerman adalah salah satu negara penerima donor tertinggi yang datang ke Kenya untuk membeli ginjal. Para pendonor, seringkali berasal dari latar belakang miskin yang dijanjikan akan mendapat sejumlah uang besar untuk organ mereka. Namun, seringkali mereka hanya menerima sebagian kecil dari uang yang dijanjikan.
Setara Rp 3,2 miliar
Para makelar (perantara) di balik operasi perdagangan tersebut diduga berasal dari Israel. Pihak berwenang telah memburu orang yang menyelenggarakan operasi tersebut selama bertahun-tahun. Namun, Laporan tersebut tidak memberikan informasi lebih lanjut tentang orang Israel ini.
Sindikat tersebut memfasilitasi transplantasi ginjal dengan mengatur penjualan organ kepada penawar tinggi. Penerima, terutama dari Jerman, membayar transplantasi tersebut hingga seharga USD 200.000 atau setara dengan Rp 3,2 Miliar. Sementara, mayoritas pendonor berasal dari Kenya atau daerah miskin lainnya. Investigasi tersebut juga menyoroti dampak bagi para pendonor yang sering kali menghadapi risiko kesehatan serius setelah menjalani operasi ilegal.
Mencuri Organ Warga Palestina
Pengungkapan terbaru ini menambah daftar panjang laporan terkait perdagangan organ yang melibatkan Israel. Pada 2009, otoritas Israel mengakui bahwa selama tahun 1990-an, Institut Forensik Abu Kabir mengambil organ termasuk kornea, kulit, dan tulang dari warga palestina yang telah meninggal tanpa persetujuan keluarga.
Yehuda Hiss, kepala ahli patologi, mengaku tindakan tersebut merupakan bagian dari kesepakatan pembelaan. Meskipun Kementerian Kesehatan Israel mengklaim praktik tersebut sudah berakhir pada tahun 2000.
Pada November 2023, Euro-Med Human Rights Monitor menyuarakan kekhawatiran bahwa pasukan Israel mencuri organ warga Palestina yang telah meninggal di Gaza, dan menyerukan penyelidikan independen atas klaim tersebut.
Pemain besar dalam perdagangan organ ilegal
Meskipun Israel membantah adanya keterlibatan resmi dalam sindikat perdagangan organ saat ini, sejarahnya telah menimbulkan kekhawatiran pada perannya dalam pasar gelap global. Laporan Parlemen Eropa tahun 2014 tentang perdagangan organ manusia mengidentifikasi Israel sebagai pemain utama perdagangan ilegal, bertindak sebagai konsumen dan importir organ.
Salah satu kasus paling menonjol dalam beberapa tahun terakhir adalah vonis terhadap warga Israel yakni Levy Itzhak Rosenbaum pada 2011. Ia dinyatakan bersalah di Amerika Serikat karena memperdagangkan ginjal di pasar gelap, serta mengatur transplantasi untuk informan FBI dan lainnya dengan biaya Rp 2,56 Miliar per ginjal.
Pada 2018, dokter Israel Moshe Harel ditangkap di Siprus karena perannya dalam sindikat perdagangan organ Internasional. Ia memfasilitasi transplantasi ginjal ilegal di klinik Medicus di Kosovo pada 2008.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey