Dampak Perang, Warga Israel Saling Jarah Apartemen Kosong, Maling Uang Perhiasan Sampai Narkoba
Sistem keamanan Israel di dalam negeri melemah karena serangan Iran.
Di tengah meningkatnya serangan rudal Iran, pemerintah Israel menghadapi lonjakan aksi penjarahan di berbagai wilayah yang terdampak.
Saat serangan rudal Iran terus berlanjut, wilayah pendudukan Israel kini dihadapkan pada gelombang kerusuhan dalam negeri yang semakin parah. Kerusuhan tersebut ditandai dengan maraknya aksi penjarahan di kawasan yang diserang.
Media-media Israel melaporkan lonjakan tajam kasus pencurian dan pelanggaran hukum, serta mengungkap kelemahan sistem keamanan domestik selama masa perang dengan Iran.
Menteri Keamanan Publik Israel, Itamar Ben-Gvir, dalam wawancara dengan stasiun televisi Israel Channel 12 mengakui bahwa penjarahan menjadi masalah serius di zona-zona terdampak rudal.
“Telah terjadi peningkatan yang mencemaskan dalam insiden pencurian pasca serangan rudal Iran,” kata dia, seperti dikutip Al Mayadeen, Kamis (19/6).
Dari Uang Tunai Hingga Parfum dan Narkoba
Menteri keamanan itu juga menegaskan pengerahan keamanan darurat kini menjadi hal yang penting untuk melindungi properti di wilayah-wilayah yang telah dievakuasi.
“Penguatan pengamanan di sekitar lokasi terdampak rudal menjadi kebutuhan mendesak karena meningkatnya pencurian dan kekhawatiran terhadap para penjarah,” ujar dia.
Salah satu kasus penjarahan terjadi di Bat Yam. Ketika serangan rudal Iran pada Minggu (15/6) memaksa para pemukim untuk meninggalkan lingkungan mereka yang rusak, polisi Israel menangkap seorang pemukim pada Selasa (17/6) yang kedapatan ke luar dari kompleks pemukiman yang hancur.
Setelah diperiksa, polisi menemukan perhiasan, uang tunai, parfum, jam tangan pintar, dan narkoba ilegal. Semua barang itu adalah hasil jarahan dari apartemen-apartemen yang ditinggalkan.
Penjarahan Sudah Menjadi Tradisi
Seorang juru bicara kepolisian menyatakan aparat penegak hukum “menangani dengan sangat serius setiap upaya penjarahan properti milik warga Israel yang mengungsi akibat kerusakan perang.” Ia berjanji akan menindaklanjuti para pelaku dengan seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku.
Krisis internal ini muncul di tengah catatan panjang pasukan pendudukan Israel sendiri yang sering melakukan penjarahan di Gaza, Lebanon Selatan, dan Suriah bagian selatan.
Berdasarkan laporan media Israel dan kesaksian langsung di lapangan, pasukan pendudukan diketahui mencuri barang-barang pribadi, uang tunai, dan emas di rumah-rumah dan fasilitas umum saat melakukan invasi darat di wilayah-wilayah tersebut.
Kasus Penjarahan oleh Tentara Israel di Wilayah Jajahan
Sebuah laporan Ynet pada Maret mengungkap bahwa "Unit Penjarahan" militer Israel menjarah sejumlah besar senjata, uang tunai, dan emas sejak awal agresinya di Gaza, Lebanon, dan Suriah. Laporan ini menyebut unit tersebut mengumpulkan cukup banyak senjata untuk mempersenjatai kelompok tentara kecil.
Letnan Kolonel Sharon Kotler dari unit tersebut mengatakan, “Kami tidak ingin hanya menyimpan hasil jarahan begitu saja tanpa mendapatkan keuntungan dari situ. Saya selalu bertanya berapa nilai dari barang rampasan mereka.”
Unit tersebut terdiri dari sekitar 500 anggota tetap, melibatkan 2.400 tentara dalam berbagai operasi penjarahan. Mereka menjarah “gunungan uang tunai” dari wilayah-wilayah yang mereka sebut sebagai wilayah musuh.
Selain uang tunai, mereka juga menyita sekitar 180.000 jenis senjata. Sebuah laporan mengatakan bahwa senjata tersebut termasuk rudal anti-pesawat, drone, rudal anti-tank, senapan, radio militer, dan perangkat penglihatan malam. Unit ini juga menjarah benda-benda langka seperti senapan Prancis dari tahun 1930-an dan pistol bernilai tinggi.
Barang-barang curian itu dibawa masuk ke wilayah Israel dan disimpan di Bank Sentral Israel. Hingga kini, militer Israel telah menjarah sekitar 28 juta dolar AS dalam bentuk uang tunai dari Gaza dan Lebanon.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey