Wamen BUMN : Saham Syariah Meningkat 84 Persen Selama 10 Tahun Terakhir

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) I, Pahala Mansury menyebut, secara historis jumlah saham syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia meningkat hingga 84 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Posisi ini meningkat dibandingkan jumlah saham-saham umum lainnya.

Dwi Aditya Putra
Oleh Dwi Aditya Putra - Reporter
Wamen BUMN : Saham Syariah Meningkat 84 Persen Selama 10 Tahun Terakhir
IHSG Ditutup Menguat 0,66 Persen. ©2020 Liputan6.com/Angga Yuniar

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) I, Pahala Mansury menyebut, secara historis jumlah saham syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia meningkat hingga 84 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Posisi ini meningkat dibandingkan jumlah saham-saham umum lainnya.

"Jumlah saham syariah meningkat secara pesat yaitu sebesar 84 persen atau artinya lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan sejumlah saham secara umum," ujarnya dalam Sesi II Konferensi Internasional KNEKS secara daring, Kamis (15/7).

Dia mengatakan, bahwa eksistensi atau keberadaan pasar modal Indonesia khususnya pasar modal syariah dimulai sejak diluncurkannya Rekasadana Syariah yang pertama pada 1997. Tetapi kemudian pasar modal syariah baru mulai dikenal oleh masyarakat luas sejak 2011.

Secara rinci, Pahala mengatakan, bahwa rata-rata volume transaksi harian meningkat sebesar 13,8 persen setiap tahunnya, yaitu dari 2,7 miliar lembar saham per hari di 2011 menjadi 8,97 miliar saham lembar saham di Maret 2021 lalu.

"Rata-rata frekuensi transaksi harian bahkan meningkat mencapai 31 persen per tahun. Sedangkan, rata-rata nilai transaksi harian meningkat sebesar 14,6 persen per tahun, begitu juga dengan nilai kapitalisasi pasar meningkat sebesar 6,4 persen," jelas dia.

Namun, dia sadar bahwa pandemi Covid-19 turut terjadi seluruh dunia sejak awal tahun 2020 memiliki dampak pada sektor perekonomian dan juga keuangan secara umum. Mengingat dari sisi pasar modal syariah tahun 2020 untuk indeks saham syariah Indonesia atau (ISSI) menurun 5,46 persen secara yoy, sedangkan Jakarta Islamic Index (JII) alami penurunan hingga 9,69 persen.

Rekomendasi