Tertekan Imbal Hasil Surat Utang AS, Rupiah Ditutup Melemah di Rp14.410 per USD
Merdeka.com - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta terkoreksi tertekan imbal hasil surat utang atau obligasi Amerika Serikat (AS). Rupiah ditutup melemah tujuh poin atau 0,05 persen ke posisi Rp14.410 per USD dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.403.
"Memang publikasi trade balance masih belum bisa meredam volatilitas pasar. Tekanan masih tinggi, terkait sangat erat dengan pergerakan yield US treasury 10 year," kata Analis Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto di Jakarta, dikutip Antara, Selasa (16/3).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) sebesar 2,01 miliar dolar AS pada Februari 2021. Nilai ekspor tumbuh 8,56 persen (yoy), sementara nilai impor tumbuh 11,86 persen (yoy) pada Februari 2021.
Imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun sendiri saat ini masih tercatat di level yang cukup tinggi di kisaran 1,6 persen. Rully menuturkan pelaku pasar juga tengah menanti hasil rapat bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), setelah Presiden AS Joe Biden mengesahkan paket stimulus senilai USD1,9 triliun.
"Pasar menunggu sinyal dari The Fed besok," imbuhnya.
Dalam jangka menengah panjang, dia memperkirakan rupiah akan bisa kembali ke kisaran Rp14.200-14.300 per USD karena likuiditas global masih cukup tinggi. Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa menunjukkan rupiah melemah Rp14.424 per USD, dibandingkan posisi pada hari sebelumnya Rp14.418 per USD.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya