Ketidakamanan kerja (job insecurity) di Asean meningkat pada kuartal pertama tahun ini. Meskipun, di saat bersamaan, ekonomi di negara-negara di kawasan tersebut tengah membaik.
Demikian hasil Financial Times Confidential Research (FTCR), seperti dilaporkan Nikkei, kemarin.
Survei dilakukan terhadap lima ribu orang tersebar di lima negara Asia Tenggara. Hasilnya, sebanyak 22,8 persen responden mengekspresikan kekhawatirannya akan masa depan atau keamanan pekerjaan mereka dalam enam bulan ke depan. Itu meningkat 2,5 poin persentase ketimbang hasil survei pada akhir April 2015.
Malaysia tercatat memiliki porsi ketidakamanan kerja tertinggi. Sebanyak 35,1 persen responden di negeri jiran tersebut cemas akan prospek pekerjaan mereka.
Tingkat pengangguran di Malaysia sekitar 3,5 persen, meskipun ekonomi tumbuh 4,5 persen (yoy) di kuartal empat 2016. Naik ketimbang pertumbuhan ekonomi di kuartal dua, sebesar 4 persen.
Bandingkan dengan Desember 2014. Kala itu, ekonomi Malaysia melambat, namun tingkat pengangguran hanya 3 persen.
Selain job insecurity, Malaysia juga mengalami penurunan optimisme dalam hal penaikan upah dan penciptaan lapangan kerja. Sebanyak 74,5persen pencari kerja di sana mengaku kesulitan mendapatkan mata pencahariaan, lebih tinggi ketimbang Indonesia (59,7 persen), Thailand (59,5 persen), Vietnam (49,6 persen) dan Filipina (48 persen). Di Asean, jumlah pencari kerja yang kesulitan mendapatkan pekerjaan meningkat 4,5 poin persentase menjadi 59,6 persen.
Terkait penaikan upah, hanya 57,5 persen responden di Malaysia mengharapkan hal tersebutterjadi tahun ini. Sebanyak 10,6 responden di antaranya meramal upah bakal naik lebih dari 10 persen. Secara keseluruhan, sebanyak 67,9 persen responden di Asean mengangankan penaikan upah.