Menko Luhut Soal Ancaman Keluar dari Kesepakatan Paris: Amerika dan Brasil Saja Bisa

Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, mengatakan Indonesia serius dengan ancaman keluar dari 'Paris Agreement' alias Kesepakatan Paris. Hal ini sebagai respons atas kampanye hitam terhadap kelapa sawit Indonesia yang dilakukan oleh Uni Eropa.

Wilfridus Setu Embu
Oleh Wilfridus Setu Embu - Reporter
Menko Luhut Soal Ancaman Keluar dari Kesepakatan Paris: Amerika dan Brasil Saja Bisa
Luhut Panjaitan. ©2017 Merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, mengatakan Indonesia serius dengan ancaman keluar dari 'Paris Agreement' alias Kesepakatan Paris. Hal ini sebagai respons atas kampanye hitam terhadap kelapa sawit Indonesia yang dilakukan oleh Uni Eropa.

"Kita melihat kalau ini masih berlanjut kita mungkin pergi ke European Court, kalau masih (kampanye hitam) ke WTO," kata dia, dalam acara Coffee Morning, di Kantornya, Jakarta, Senin (8/4).

"Keluar dari Paris Agreement kenapa tidak. Amerika saja bisa kok. Brazil saja bisa. Kenapa kita tidak bisa," lanjut dia.

Dia menegaskan bahwa Indonesia tentu sangat menghargai perjanjian-perjanjian internasional seperti Paris Agreement. Namun, kepentingan nasional tetap harus diutamakan.

"Kita setuju semua itu, kita juga menghormati, tapi kalau kau tidak hormati rakyat kita, saya juga mau tanya apa sih yang kita dapatkan dari climate change. Dia bilang karbon, karbon mana yang kita dapat. Jujur dong," tegas dia.

"Jadi biar LSM-LSM itu tanya nuraninya sendiri apa yang sudah kita dapat dari itu semua dan apa yang kita hilang. Rakyat kita kan 20 juta akan tertimpa. Jadi kita mesti lihat nasional interest kita. Tidak ada suka tidak suka," imbuh Menko Luhut.

Dia mengatakan bahwa tak hanya Indonesia yang akan melawan kampanye negatif terhadap CPO. Kolombia, salah negara produsen CPO terbesar di dunia pun, kata Menko Luhut, tak akan tinggal diam.

"Yang paling banyak hutannya sekarang kan Indonesia, Brazil, sama Kolombia. Kolombia punya hutan juga besar. Saya bicara sama menterinya, dia bilang kalau kita terlalu ditekan-tekan, kita tidak mau juga. Dan ini semua negara berkembang yang kena," tandasnya.

Rekomendasi