Pemerintah saat ini tengah gencar membangun infrastruktur di Jakarta dan berbagai daerah. Banyak jalan tol dibangun, termasuk jalan layang tol atau tol elevated. Contohnya Tol Elevated Jakarta-Cikampek.
Tol layang itu tengah dikebut pengerjaannya. Agar tidak mengganggu lalu lintas, pengerjaan Tol Layang itu menggunakan teknik Sosrobahu. Teknik ini ditemukan oleh insinyur dalam negeri. Hasil penemuannya ini mendunia dan diterapkan di berbagai negara.
Berkat teknik ini, pengerjaan Tol Layang Cikampek tidak menutup jalan tol cikampek. Jalan tol tetap bisa digunakan seperti biasa. Berikut ini ulasan tentang teknik sosrobahu:
Advertisement
Orang yang pertama kali mengusulkan teknik sosrobahu adalah seorang insinyur Indonesia asal Bali, Ir. Tjokorda Raka Sukawati. Menurutnya, dengan teknik sosrobahu lebih memudahkan pembangunan jalan layang tanpa mengganggu arus lalu lintas pada saat pembangunannya.
Ide Tjokorda akhirnya direalisasikan. Saat itu ia bekerja di PT Hutama Karya, sebuah perusahaan di bidang jasa konstruksi dan infrasruktur milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah Departemen Pekerjaan Umum (PU). Dan saat itu pula PT Hutama Karya ingin membangun jalan by pass dari Cawang sampai Tanjung Priok.
Jalan layang tersebut dibuat dengan teknik sosrobahu, yang menurut Tjokorda membangun jembatan tanpa menimbulkan kemacetan.
Advertisement
Seperti kata Tjokorda, teknik sosrobahu tak akan timbulkan kemacetan. Bagaimana cara kerjanya? Direktur Operasi II PT Waskita Karya (Persero) Tbk, N. Wirya Adnyana menjelaskan, lengan jalan layang diletakkan sejajar dengan jalan di bawahnya, dan kemudian diputar 90 derajat sehingga pembangunannya tidak mengganggu arus lalu-lintas. Contoh penerapan teknik sosrobahu ini adalah jalan tol layang By Pass di Jalan DI Pandjaitan, Jakarta Timur, dan sebagian jalan tol ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dari Jakarta.
Advertisement
Manfaatnya, tidak mengganggu arus lalu lintas selama pembuatan jalan layang. Karena, saat pengecoran kepala tiang, bisa dilakukan dengan posisi sejajar arah jalan. Dengan posisi ini, maka tiang-tiang penyangga cetakan beton tidak akan menghalangi jalan di bawahnya. Setelah kepala tiang kering, posisinya bisa diputar. Ini yang dinamakan teknik sosrobahu. Jika kepala tiang sudah diputar dengan posisi melintang jalan, maka kepala beton akan menjadi penyangga struktur jalan layang yang akan dibangun.
Advertisement
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR), Basuki Hadimuljono, menandai dimulainya pekerjaan teknik sosrobahu pada proyek ruas jalan tol Jakarta-Cikampek II elevated. Pemutaran kepala beton perdana dilakukan di kilometer 21, Tambun, Kabupaten Bekasi."Sosrobahu sangat efisien, tidak memakan tempat," kata Menteri Basuki.Direktur Operasi II PT Waskita Karya (Persero) Tbk, N. Wirya Adnyana mengatakan, proyek Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Elevated atau tol layang Jakarta-Cikampek II itu bakal menggunakan lebih dari 200 "pierhead" yang ditanam di tengah-tengah jalan tol tersebut, dan hampir seluruhnya dikerjakan dengan menggunakan metode sosrobahu."Metode sosrobahu berguna untuk mengatasi proses pembangunan jalan tol di atas jalanan yang sudah ramai, serta keterbatasan dan mahalnya biaya lain," kata dia.