Kiprah Rusdi Kirana kuasai langit RI & Malaysia dengan Lion Air Grup

Rusdi Kirana kembali membuat heboh dengan menggunakan pesawat Boeing terbaru untuk maskapainya. Rusdi meresmikan pengoperasian Malindo Air Boeing B737-8 Max rute Kuala Lumpur-Singapura, Senin (22/5).

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Kiprah Rusdi Kirana kuasai langit RI & Malaysia dengan Lion Air Grup
Rusdi Kirana. ©2014 merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Pendiri Lion Air Group yang saat ini diangkat menjadi Duta Besar Indonesia di Malaysia, Rusdi Kirana tak hentinya melebarkan sayap bisnisnya. Pada akhir 2011 lalu, Lion Air memesan 230 pesawat komersial Boeing yang nilainya mencapai USD 22,4 miliar pada saat itu.

Kini, Rusdi Kirana kembali membuat heboh dengan menggunakan pesawat Boeing terbaru untuk maskapainya. Rusdi meresmikan pengoperasian Malindo Air Boeing B737-8 Max rute Kuala Lumpur-Singapura, Senin (22/5).

Peresmian pesawat dengan nomor penerbangan OD 803 yang berlangsung di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) tersebut turut dihadiri Kuasa Ad Interim (KUAI) KBRI Kuala Lumpur, Andreano Erwin, pejabat Malaysia dan pejabat Malindo Air.

Turut hadir pada peresmian tersebut Dirjen Penerbangan Sipil Kementerian Perhubungan Malaysia Dato' Sri Azharuddin Abdul Rahman, CEO Malindo Air Chandran Rama Muthy, Senior Vice President Asia Pacific & Indian Sales Boeing Comercial Airplanes Dr Dinesh A Keskar. Demikian diberitakan Antara.

Kedatangan pesawat bertuliskan Batik Malaysia di lokasi keberangkatan KLIA disambut dengan semprotan air dari mobil tangki setelah itu dilanjutkan foto bersama Rusdi Kirana dan sejumlah pejabat di depan pesawat.

Boeing B737-8 Max tersebut lepas landas dari KLIA pada pukul 10:30 waktu setempat dan tiba di Bandara Changi Singapura pada pukul 11:30 waktu setempat.

CEO Malindo Air, Chandran Rama Muthy mengatakan pengoperasian Boeing B737-8 Max adalah bagian dari usaha untuk melanjutkan inovasi dan memberikan pengalaman terbang terbaik kepada pelanggan.

Malindo Air memiliki dua unit pesawat jenis ini dengan kapasitas maksimum penumpang 180 orang, sedangkan Boeing 737-900 ER memiliki enam unit maksimum penumpang 180 orang dan Boeing 737-800 23 unit dengan maksimum penumpang 162 orang.

Pesawat jenis Boeing B737-8 Max merupakan pertama kali beroperasi di dunia. Silakan klik selanjutnya.

Malindo Air tercatat menjadi maskapai yang pertama kali di dunia menerbangkan seri terbaru dari pesawat berbadan sedang Boeing 737 Max 8 dari Kuala Lumpur menuju Singapura.

CEO Malindo Air, Chandran Rama Muthy mengatakan, pihaknya sangat bangga menyambut kedatangan perdana dan di dunia yang mengoperasikan pesawat Boeing 737 Max 8. "Kami berbangga sebagai maskapai yang pertama kali menyambut kedatangan dan mengoperasikan Boeing 737 Max 8," katanya.

Selama ini, armada Boeing 737 NG telah berkontribusi dalam pertumbuhan maskapai dan seri terbaru ini diyakini ke depannya akan menjadi bagian utama dalam pengoperasian armadanya.

"Pesawat ini akan membawa kami untuk menjangkau destinasi yang lebih jauh lagi dan akan berperan sangat penting dalam menawarkan tarif yang lebih terjangkau kepada pelanggan kami," katanya.

Dari segi bahan bakar, pesawat tersebut lebih hemat 14 persen dari seri pesawat berbadan sedang Boeing NG 737, 20 persen dari Boeing 737NG (1998 EIS) dan sembilan persen dari A320neo. "Jadi, kami bisa terbang selama tujuh jam ke satu destinasi," katanya.

Saat ini, Malindo Air telah menerbangkan sekitar 12 juta penumpang pada 2016 ke 54 destinasi di 16 negara. "Dengan adanya pesawat ini merupakan kesempatan baik untuk memperluas jangkauan destinasi kita," katanya.

Senior Vice President Asia Pacific and India Sales Boeing Commercial Airplanes, Dr Dinesh Keskar mengatakan, pesawat tersebut lebih ramah lingkungan dan lebih memberikan ketenangan karena suara mesin yang tidak berisik.

"Dengan kapasitas yang sama, pesawat ini jauh lebih hemat dari segi biaya operasi, tentunya langkah tepat untuk mendukung efisiensi," katanya.

Tak berhenti di situ, Rusdi Kirana juga akan memborong BOeing terbaru tersebut untuk Lion Air di Indonesia. Silakan klik selanjutnya.

Maskapai Lion Air akan mengoperasikan empat pesawat berbadan sedang seri terbaru dari Boeing, yaitu Boeing 737 Max 8 tahun ini.

Pendiri Lion Group, Rusdi Kirana menegaskan, pihaknya akan mendatangkan empat unit pesawat anyar tersebut untuk Lion Air dan empat unit untuk Malindo Air yang bermarkas di Malaysia pada tahun ini.

"Tahun ini kan empat di Malaysia dan empat di Indonesia datang untuk Lion," katanya seperti ditulis Antara, Senin (22/5).

Tak berhenti di situ, tahun depan juga akan didatangkan lagi Boeing Max 9 sebanyak 16 unit pesawat yang akan dioperasikan oleh Lion Air, Batik Air, Malindo Air dan Thai Luon Air. "Tahun depan Lion Air yang menjadi maskapai pertama yang pakai Boeing 737 9 Max, jadi delapan kita kasih ke Malindo, delapan kita kasih ke Lion," katanya.

Rusdi menegaskan, kedatangan pesawat baru tersebut untuk mendukung operasi Lion Group di mana salah satunya, yaitu Batik Air mulai menerbangi Bali-Perth Juni tahun ini, selain itu juga rute Kuala Lumpur-Bali.

"Max untuk di Indonesia itu untuk Internasional dulu. Di Juli kita terbang Bali-Shanghai sama Manado-Sianghai itu pakai Max 8,"katanya.

Dia menuturkan kedatangan perdana Boeing 737 8 Max di Kuala Lumpur karena pihaknya sebagai pembeli pertama pesawat berbadan sedang seri terbaru dari Boeing tersebut.

Selain itu, dengan menggunakan pesawat tersebut pihaknya bisa menghemat biaya operasi untuk bahan bakar sebesar 14 persen dari seri pesawat berbadan sedang Boeing NG 737, 20 persen dari Boeing 737NG (1998 EIS) dan sembilan perseb dari A320neo.

Pasalnya, bahan bakar merupakan komponen terbesar dari biaya operasional penerbangan yang kontribusinya mencapai 40 persen. Artinya, Rusdi menjelaskan, dari sekitar 30.000 liter avtur yang terpakai untuk satu pesawat dalam sebulan, pihaknya bisa menghemat sekitar 300 liter avtur. Hal itu, menurut dia, meningkatkan daya saing karena bisa berpengaruh ke harga tiket.

"Kalau satu jam dia kurang 300 liter, ya nanti bisa disesuaikan saja sama harga minyak dunia, kalau misalnya satu liter satu dolar, sebulan kurang bisa 30.000 dolar, karena penghematan bahan bakar sebulan pakai pesawat ini bisa 30.000 liter," katanya.

Rusdi menegaskan, semua itu untuk mencapai target penumpang Lion Group sebanyak 60 juta penumpang setahun hingga akhir 2017 atau meningkat dari 50 juta penumpang pada 2016.

Terus menggenjot bisnisnya, Rusdi Kirana akan mengganti nama Malindo Air jadi Batik Malaysia. Silakan klik selanjutnya.

Maskapai Malaysia Malindo Air akan berganti nama menjadi Batik Malaysia mulai Semester 2017. Penggantian nama dilakukan sebagai langkah ekspansi bisnis sekaligus memperluas jaringan Lion Group.

Pendiri Lion Group, Rusdi Kirana mengatakan, pergantian nama tersebut agar pengoperasiannya menjadi lebih terintegrasi.

"Supaya dia integrated. Sekarang kan Malindo terbang Kuala Lumpur-Bali-Brisbane, nah kalau namanya Malindo ketika dia terbang dari Jakarta kita paketnya susah. Tapi kalau namanya sama, ketika konsumen buka situs nanti penerbangannya bisa terintegrasi," katanya seperti ditulis Antara, Senin (22/5).

Namun, dia mengatakan manajemennya tetap sama, hanya diubah namanya saja dan tetap berpusat di Malaysia. Penggantian nama juga dimaksudkan untuk mempermudah operasi penerbangan, terutama untuk penerbangan internasional.

"Sebagai contoh, misalnya mau terbang ke Hong Kong, penumpang bisa terbang Jakarta-Kuala Lumpur pakai Batik Indonesia, lalu gabung penerbangan Kuala Lumpur-Hong Kong dengan Batik Malaysia," katanya.

CEO Malindo Air, Chandran Rama Muthy menjelaskan, penggantian nama atau merk tersebut merupakan ekspansi bisnis untuk menjangkau lebih banyak destinasi. "Karena punya destinasi ke 16 negara, kita punya Batik Indonesia dan Batik Malaysia, kita bisa kolaborasi lebih baik, kita bisa mengangkut banyak turis dan ini lebih mudah untuk menjualnya ke pasar," katanya.

Kapasitas Malindo saat ini tersedia 11 juta penumpang dengan tingkat keterisian hanya sampai 5,8 juta penumpang. Tahun depan, Malindo menaikkan target keterisian menjadi 8 juta penumpang.

"Mudah. Kita berhasil tahun pertama 900.000 penumpang, tahun kedua 2.75 juta penumpang, tahun ketiga 3.8 juta, tahun keempat 5.8 juta, jadi delapan juta saya rasa oke," katanya.

Dalam ekspansi bisnis, Chandran mengatakan akan membuka rute ke Pnom Penh Kamboja pada Agustus mendatang dan akan juga merambah kota lainnya, seperti Dakka, Bangladesh dan Guangzhou.

"Kita akan meluncurkan dua lagi, salah satunya Brisbane, untuk China sendiri sedang berjalan, kita fokus di Kunming," katanya.

Rekomendasi