Ketahanan Pangan Indonesia Bermasalah Imbas Ketergantungan pada Impor

Ekonom dan Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah, mengatakan ketahanan pangan Indonesia di awal tahun 2021 ini bermasalah. Hal ini lantaran Indonesia ketergantungan terhadap impor.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Ketahanan Pangan Indonesia Bermasalah Imbas Ketergantungan pada Impor
Pasar Tradisional. ©2013 Merdeka.com

Ekonom dan Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah, mengatakan ketahanan pangan Indonesia di awal tahun 2021 ini bermasalah. Hal ini lantaran Indonesia ketergantungan terhadap impor.

"Harga pangan yang volatile (gejolak) dan ketergantungan kepada impor menunjukkan betapa ketahanan pangan kita bermasalah," kata Piter Abdullah saat dihubungi oleh Liputan6.com, Senin (1/2).

Piter menjelaskan harga naik bisa disebabkan oleh naiknya permintaan atau dikarenakan terbatasnya pasokan (supply). Di mana, di tengah pandemi covid-19 ini, permintaan turun sangat drastis. Dengan demikian bisa dipastikan naiknya harga pada awal tahun ini lebih disebabkan terbatasnya pasokan.

"Keterbatasan supply barang pangan umumnya dikarenakan permasalahan waktu panen dan kebijakan impor," kata Piter Abdullah.

Permalahan Pangan Terbaru

Adapun permasalahan terkait pangan di antaranya harga kedelai mahal. Kenaikan ini dipicu lonjakan harga kedelai di pasar internasional. Harga kedelai di Indonesia yang biasanya Rp 7.000 sempat naik menjadi Rp 9.000 hingga Rp 9.300.

Kemudian harga cabai rawit merah yang tembus hingga Rp 100.000 per kg. Lalu daging sapi yang langka, lantaran Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) memutuskan menghentikan aktivitas perdagangan daging sapi di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek) sejak 19 Januari malam hingga 22 Januari 2021.

Masalah pangan lainnya yakni harga telur ayam di tingkat peternak secara nasional turun drastis menjadi Rp 16.000-Rp 17.000 per kilogram. Serta adanya kebocoran beras Vietnam, yang masuk ke pasar tradisional Indonesia dengan harga Rp 9.000 per Kg. Harga beras tersebut lebih murah daripada beras yang diproduksi petani Tanah Air yang dijual rata-rata Rp 12.000 per Kg.

Rekomendasi