Pemerintah Jokowi menggandeng 42 importir untuk mendatangkan bawang putih dari China. Bawang putih tersebut dijual pada operasi pasar dengan harga Rp 25.000 per Kg.
Pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur mengeluhkan bawang putih yang dijual oleh pemerintah melalui operasi pasar ini. Selain harga tersebut di luar harga eceran tertinggi (HET). Pedagang menduga bawang tersebut adalah stok lama, karena banyak ditemukan dalam kondisi busuk dan tak layak konsumsi.
"Bagaimana dagangan saya mau laku. Saya jual sesuai HET, sementara adayang jual cuma Rp 25.000/Kg. Tapi pernah ada yang dapetin kalau barang yang dibeli dari pemerintah dengan harga segitu, mungkin stok lama makanya dijual murah," ucap pedagang bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati, Jelly.
Dia berharap, agar pemerintah dapat memperhatikan pedagang dan pembeli. "Pemerintah harus perhatikan nasib pedagang dan pembeli. Stabilkan harganya, berikan kualitasnya yang bagus," ungkapnya.
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), mengakui jika banyak daerah di Indonesia sampai saat ini belum bisa memproduksi bawang putih secara maksimal, meskipun negara ini beriklim tropis.
"Iklim kita memang tropis tapi belum bisa menghasilkan bawang putih untuk kebutuhan rakyatnya, kebanyakan bawang putih yang beredar itu hasil impor," jelas Ketua KPPU Syarkawi Rauf seperti ditulis Antara, Kamis (18/5).
Syarkawi sempat melakukan sidak dan memantau semua kebutuhan pangan, dirinya juga menanyakan langsung asal daerah atau negara dari bawang putih yang banyak dijual tersebut. "Banyak pedagang di pasar-pasar tradisional itu juga tidak tahu dari mana bawang putihnya itu. Mereka hanya tahu jika bawang didapat dari distributor," katanya.
Syarkawi mengakui jika langkah impor dari berbagai negara yang mampu memproduksi banyak bawang putih, seperti China maupun India, menjadi opsi satu-satunya untuk meningkatkan stok yang tersedia, demi mengakomodir kebutuhan masyarakat.
"Kalau banyak bawang putih impor yang beredar, yah memang harus seperti itu. Karena kita tidak menghasilkan bawang putih sendiri. Beda dengan bawang merah, bawang merah itu kita surplus, jadi tidak perlu impor," katanya.
Berdasarkan data yang diperolehnya dari Kementerian Pertanian, kebutuhan bawang putih nasional mencapai 500 ribu ton per tahun. Jumlah tersebut, tentu tidak dapat dipenuhi oleh Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik, sehingga juga harus mengandalkan importir umum maupun importir produsen.
"97 persen bawang putih yang beredar di Indonesia itu kita impor dari China. Kebutuhan bawang putih kita secara nasional itu sekitar 498 ribu ton," ucapnya.