Gandeng Tunisia dan Maroko, Biofarma pangkas waktu penemuan vaksin baru jadi 5 tahun

Direktur Utama PT Biofarma, M. Rahman Roestan optimis kerja sama ini bakal mempersingkat waktu penemuan vaksin baru menjadi 5 tahun. Selama ini penemuan vaksin - vaksin baru yang membutuhkan waktu 15-20 tahun.

Wilfridus Setu Embu
Oleh Wilfridus Setu Embu - Reporter
Gandeng Tunisia dan Maroko, Biofarma pangkas waktu penemuan vaksin baru jadi 5 tahun
M. Rahman Roestan. ©2018 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

Indonesia secara resmi telah menjalin kerja sama dengan Maroko dan Tunisia dalam pengembangan vaksin. Ini merupakan pelaksanaan komitmen kerja sama Indonesia dengan negara-negara anggota Islamic Development Bank (IDB) dan Organisasi Konferensi Islam (Organization Islamic Conference/OIC).

Direktur Utama PT Biofarma, M. Rahman Roestan optimis kerja sama ini bakal mempersingkat waktu penemuan vaksin baru menjadi 5 tahun. Selama ini penemuan vaksin - vaksin baru yang membutuhkan waktu 15-20 tahun.

"Biasanya selama ini 15 sampai 20 tahun. Dengan kerja sama ini kita harapkan dalam waktu 5 tahun sudah ada vaksin baru. Tapi itu pun kalau potential researcher ini tidak menemukan kendala," kata dia saat ditemui, di Kantor Bappenas, Jakarta, Senin (27/8).

Dia menjelaskan, dalam upaya penemuan vaksin baru peneliti PT Biofarma akan berkerja sama dengan peneliti dari Maroko dan Tunisia.

"Kami siap dengan expert kami yang membantu. Mereka juga punya potential researcher yang bisa kita gabungkan juga untuk menemukan vaksin untuk penyakit baru ke depan," jelasnya.

Selain dengan Maroko dan Tunisia, sebelumnya PT Biofarma juga telah bekerja sama dengan Saudi Arabia dalam pengembangan vaksin.

"Ini menjadikan Indonesia sebagai Center of Excellence untuk vaksin dan bioteknologi. Mereka mau belajar bagaimana produksi vaksin di Indonesia. Ini baru satu contoh. Dengan Saudi Arabia sudah tanda tangan dengan Biofarma untuk transfer teknologi untuk memenuhi kebutuhan vaksinnya," tandasnya.

Rekomendasi