Darmin: Pengelola KEK jangan cuma ambil untung kenaikan harga tanah

Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, pemerintah tidak ingin badan pengelola hanya mencari keuntungan dari kenaikan harga lahan. Dengan hanya menunggu hingga harga tanah naik.

Bimo Pratomo
Oleh Bimo Pratomo - Reporter
Darmin: Pengelola KEK jangan cuma ambil untung kenaikan harga tanah
Darmin Nasution. Merdeka.com/Arie Basuki

Pemerintah meminta badan pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk aktif menarik investor. Sebab, KEK menjadi andalan pemerintah dalam pemerataan perekonomian.

Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, pemerintah tidak ingin badan pengelola hanya mencari keuntungan dari kenaikan harga lahan. Dengan hanya menunggu hingga harga tanah naik.

"Pemerintah akan terus membangun infrastruktur untuk akses ke KEK. Maka badan pengelola tidak cukup aktif dengan menunggu harga (tanah) naik baru mengundang investor," ujarnya saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Rabu (17/5).

Saat ini, lanjut Menko Darmin, negara tetangga juga sudah mulai mengembangkan KEK. Selain itu, China juga sudah menginisiasi jalur sutra modern atau one belt one road (OBOR).

Maka dari itu, pemerintah mengharapkan Indonesia tidak tertinggal dalam mengambil keuntungan. "Indonesia punya beberapa akses jalur perdagangan dunia," tuturnya.

Sampai saat ini pemerintah telah menetapkan 11 KEK, yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebelas kawasan tersebut adalah KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan, KEK Sorong, KEK Morotai, KEK Bitung, KEK Palu, KEK Mandalika, KEK Tanjung Lesung, KEK Tanjung Kelayang, KEK Tanjung Api-Api, KEK Sei Mangkei, dan KEK Arun Lhokseumawe.

"KEK adalah bagian dari infrastruktur kegiatan ekonomi yang akan mendorong kegiatan investasi agar lebih menyebar ke seluruh Nusantara," jelasnya.

Menko Darmin menyatakan, di antara KEK itu sudah ada yang mulai operasional tapi ada juga yang belum. Tentu ada faktor khusus di daerah yang menarik bagi investor, misalnya keadaan alam. Ini ada di KEK Mandalika yang cocok untuk kegiatan pariwisata. Ada pula kawasan yang cocok untuk pengembangan hilirisasi hasil perkebunan seperti di KEK Sei Mangkei.

"Kita percaya dengan kekhasan dan kekhususan yang dimiliki setiap kawasan dan insentif yang diberikan pemerintah, itu akan cukup menarik minat investasi," tutupnya.

Sebagai informasi, hari ini, telah dilakukan penandatanganan MoU antara Badan Usaha Pengelola KEK dan para investor dengan perkiraan investasi lebih dari Rp 6 triliun. Ini meliputi penandatanganan MoU antara Direktur Utama PT PN III Persero dengan Direktur Utama PT Alternatif Protein Indonesia (API) dengan total investasi sekitar USD 500 juta. Serta penandatanganan MoU antara Direktur Utama PT ITDC selaku Pengelola KEK Mandalika dengan 5 Investor.

Lima investor tersebut adalah PT Metro Lestari Utama untuk Pembangunan Hotel Bintang 5, dengan investasi Rp 250 miliar, Sky Wealth Perusahaan Malaysia untuk pembangunan Hotel Bintang 5 dengan investasi Rp 450 miliar, PT Bangun Megatama Wisata Mahadewi untuk pembangunan hotel, PT Alam Hijau Permai Penyertaan modal pada Hotel Pullman dan Jeju Olle Foundation Investor Korea untuk Pembangunan Olle Walking Trail.

Rekomendasi